Sebelum Kumpul Keluarga

Sebelum Kumpul Keluarga

H-1 Idul Fitri seperti ini pastinya sudah banyak rencana kumpul keluarga, silaturrahim, atau acara-acara trah di mana kita akan bertemu dengan banyak kerabat baik jauh dan dekat, sahabat dan tetangga.

Sebagai muslimah, di acara-acara perkumpulan seperti itu hendaknya kita tetap menjaga adab dan aturan Islam dalam bermu’amalah, khususnya di hari raya.

Di antara adab-adab yang harus kita jaga dan perhatikan selama kumpul keluarga antara lain:

  1. Ingat baik-baik mahram kita yang mana kita boleh bersalaman dengan menyentuh (dan mencium) tangan, yakni: ayah, suami, kakek dan seterusnya ke atas, anak laki-laki dan seterusnya ke bawah termasuk cucu, paman (kakak/adik kandung ibu/ayah), kakak/adik kandung laki-laki, kakak/adik laki-laki seayah atau seibu, anak kandung dari suami, ayah mertua, saudara sepersusuan. Jadi, selain itu termasuk ipar, sepupu, kerabatnya suami (pamannya) tidak termasuk mahram ya, dilarang bersalaman “beneran” alias tangan menyentuh tangan apalagi sampai cipika-cipiki
  2. Tidak berpakaian dan berdandan yang berlebihan alias tabarruj, mentang-mentang hari raya, yang biasanya pakai baju sederhana tidak mencolok, kini sedikit ada keinginan untuk “tampil”, big no ya. Tetap biasa-biasa aja, pakai pakaian yang terbaik tapi tidak tabarruj. Berhiaslah untuk suami saja
  3. Tidak bercanda dan ngobrol berlebihan dengan yang bukan mahram, jadi sebaiknya kumpulnya sama saudari-saudari saja, kecuali kerabat yang memang mahram seperti yang tersebut di poin 1. Namun juga tetap harus mengingat poin 4 jika berkumpul dengan sesama perempuan
  4. Tidak menjadikan ajang silaturrahim sebagai ajang ghibah alias bergosip membicarakan keburukan orang lain. Godaan benerlah ini apalagi kalau ketemu sama orang-orang yang akrab banget sama kita
  5. Bersikap ramah dan lemah lembut terhadap mahram dan saudari-saudari kita, jangan jutek dan sembarangan men-judge orang yang tidak “sama” dengan kita
  6. Tidak berlebihan dalam bercanda dan makan, ini juga godaan bener karena hari raya adalah momen di mana kita bertemu dengan orang-orang terdekat dan makanan yang disajikan menggoda selera semua
  7. Tetap menjaga waktu shalat, kadang kalau silaturrahim keliling itu bertepatan dengan waktu shalat, sehingga tetap harus mendahulukan shalat, jangan sampai keasyikan kumpul dan ngobrol shalatnya jadi ditunda-tunda

Itu saja dari saya, semoga bermanfaat. Jika ada yang ingin menambahkan, boleh loh ditulis di kolom komentar.

Ditulis H-1 Idul Fitri 1438 H, 24 Juni 2017, self reminder ini terinspirasi dari tulisan Teh Patra di Facebook beliau beberapa waktu lalu

Bingung Cari Pengganti Angpau Lebaran?

Bingung Cari Pengganti Angpau Lebaran?

Hari Raya Idul Fitri selain identik dengan ketupat, opor, takbiran, mudik, juga kerap dikaitkan dengan salam tempel atau amplop berisi lembaran uang (baru) yang diberikan dari orang yang lebih tua kepada yang muda khususnya anak-anak.

Tradisi ini ada dampak positifnya, yakni menanamkan kebiasaan gemar berbagi dan bersedekah, namun juga mengandung dampak negatif berupa pengenalan uang yang terlalu dini pada anak dan memperkenalkan gaya hidup konsumerisme.

Tahun-tahun lalu saya sebagai orang tua juga memberikan beberapa angpau kepada para sepupu dan keponakan yang lebih kecil. Namun tahun ini setelah membaca tulisan Ibu Sarra Risman di sebuah grup parenting yang diasuh bersama keluarganya, saya pun mengamini dampak negatif pemberian angpau pada anak.

Bagi saya, pemberian angpau tersebut terkesan kurang bermanfaat karena seperti membuang-buang uang dan sifatnya hanya untuk wangun-wangunan saja. Semacam hanya ikut tradisi dan rasa tidak afdhal serta pekewuh kalau tidak bagi-bagi angpau.

Kembali ke tulisan Bu Sarra tadi, beliau menyebutkan alternatif pengganti angpau yang lebih pas dan bermanfaat untuk diberikan kepada anak-anak kecil. Di antaranya buku, pakaian dan celengan.

Wah, ide yang menarik tuh, terutama celengan. Anak-anak langsung bisa menabungkan angpau-angpau yang dimilikinya, sehingga tidak jadi konsumtif. Hal ini juga mengajarkan anak kebiasaan menabung. Semoga saja benar begitu ya. Jadi untuk tahun ini saya tidak bagi-bagi angpau lagi, melainkan celengan.

Ide memberi buku juga sangat bermanfaat karena diharapkan dapat meningkatkan minat baca anak. Apalagi kalau pilihan bukunya memang cocok untuk anak yang bersangkutan.

Satu lagi, kita juga bisa memberi alat-alat tulis seperti notes kecil bergambar lucu, pensil atau penghapus dengan bentuk yang lucu, tempat alat tulis dengan gambar yang disukai anak. Insya Allah lebih bermanfaat bagi anak-anak, ketimbang memberi mereka “mentahan” yang kadang digunakan untuk membeli barang-barang yang kurang berguna.

Memang lebih ribet, karena harus mencari-cari barang yang tentunya tidak hanya ada di satu tempat, terutama jika jumlah anak yang diberi banyak. Namun mengingat peluang manfaatnya, tidak mengapalah. Mudah-mudahan anak-anak itu menjadi gemar menabung, gemar membaca dan gemar belajar, alih-alih gemar belanja.
Semoga ada manfaatnya, bagi teman-teman yang rencananya akan berbagi dengan kerabat-kerabat kecilnya.

Ditulis H-1 Idul Fitri 1438, dikembangkan dari posting-an Ibu Sarra Risman yang disebarkan di Whatsapp Grup

Agar Tak Bertengkar di Depan Anak

Agar Tak Bertengkar di Depan Anak

Namanya perjalanan rumah tangga, pasti ada lika-likunya. Ngga selalu mulusss terus, indah-indah terus, suami istri mesra dan harmonis terus. Itu mah adanya di dongeng ya. Namanya menyatukan dua kepala, pasti ada lah sedikit ketaksepahaman, beda pendapat, beda selera dan sederet perbedaan lain yang tentunya menimbulkan konflik dan juga pertengkaran. Yang sudah sehati, sevisi-misi saja kadang ada sedikit gesekan pemicu konflik. Apatah lagi yang kadang beda visi-misi. Nah loh.

Pada saat terjadi gesekan-gesekan kecil seperti itu, tak jarang ada pertengkaran di antara suami dan istri. Bahkan kadang sudah ada anak pun, pertengkaran itu masih terjadi. Bentuknya macam-macam. Ada yang saling berteriak, membentak, disertai kekerasan fisik, bahkan yang saling diam-diaman pun ada. Untuk yang terakhir ini, kadang anak tidak tahu kalau ayah ibunya sedang saling marahan. Tapi lama-lama ya tahu juga, apalagi kalau si anak tiba-tiba mengajak main ayah ibunya berbarengan, hehe. 

Kondisi saat suami istri sedang berantem memang tidak enak. Dan yang paling merasakan dampak ketidaknyamanan itu adalah anak. Ya gimana sih, rumah yang harusnya jadi tempat ternyaman si anak malah seperti neraka. Tidak ada kedamaian di dalamnya. Padahal rumah juga merupakan lingkungan pertama untuk pembentukan kepribadian si anak. Apa jadinya kalau di tempat tersebut malah dipenuhi suasana minim harmoni? Apalagi anak adalah peniru ulung. Menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar tentu akan membuat anak meng-copas-nya di kehidupan mendatang. Lebih jauh, anak juga akan tumbuh dengan perasaan insecure alias tidak nyaman yang membuat anak sulit mempercayai orang lain. Tentu tidak ingin seperti itu kan?

Namun bukankah konflik dalam rumah tangga adalah suatu hal yang niscaya? Lalu bagaimana mengatasinya agar pertengkaran tak sempat terjadi di hadapan anak?

Berikut ini ada beberapa tips:

  1. Kenali emosi saat terjadi situasi di luar dugaan, dan lakukan pengelolaan terhadap emosi tersebut;
  2. Selalu agendakan untuk ngobrol berdua saja dengan pasangan, saat anak asyik bermain atau sedang tidur misalnya;
  3. Jangan memendam masalah atau ketidaknyamanan perasaan terhadap pasangan, segera bicarakan baik-baik dengan kepala dingin;
  4. Jika terbersit rasa ingin marah kepada pasangan, diamkan dulu, endapkan, jangan dilampiaskan saat itu juga, segera cari penyaluran selain dengan marah-marah (kalau saya pribadi sukanya menulis, jadi begitu terbersit rasa sebal dengan suami misalnya, langsung saya ambil kertas pulpen atau HP dan menuliskan kekesalan saya di situ, ini manjur untuk terapi anger management bagi saya)
  5. Mengalah, memang paling sulit, tapi terbukti manjur juga, jadi kalau pasangan sudah keburu marah sama kita, usahakan diam saja, bukan balas marah, bahkan kalau perlu, mohon maafnya, niscaya malah pasangan yang akan merasa bersalah dan meminta maaf 
  6. Santai, kalau kata orang sekarang, lemesin aja shayy, ngga usah dibawa pikir berat-berat, switch mikirin hal lain yang lebih bikin rileks, dengan main sama anak misalnya, nanti kepala adem sendiri
  7. Berdo’a mohon kekuatan agar bisa mengalah dan mengelola amarah

Itu saja tips dari saya supaya suami istri tidak sering-sering berantem, apalagi di depan anak. Semoga bermanfaat ya.

Ditulis sebagai selfreminder pada 24 Juni 2017, akhir Ramadhan

Teruslah Menulis

Teruslah Menulis

Kadang seseorang ragu menulis sesuatu karena takut tidak bisa melakukannya, alias omong doang, nulis doang tapi realisasinya nol. Mereka menghindari menulis hal-hal yang sebenarnya bermanfaat karena dirinya sendiri merasa belum bisa menerapkan apa-apa yang dituliskan. 

Memang sih, terlihat munafik banget yah. Nulis nulis sendiri, diingkari sendiri, ngga dilakukan sendiri. Jadi lebih baik ngga usah nulis lah. Tulis aja hal-hal yang sudah dilakukan. Terhadap yang belum, wis biar orang lain aja nanti yang menyampaikan.

Namun sejatinya, menulis itu menasihati diri sendiri. Yang paling mendapatkan manfaat dari tulisan kita adalah kita, penulisnya sendiri. Sebelum tulisan itu bermanfaat bagi orang lain, hendaknya tulisan itu bermanfaat dulu untuk diri sendiri. Sebagaimana seorang pengajar, dia dulu yang mendapatkan manfaat dari ilmunya, sebelum orang lain. Dia dulu yang belajar. Tepatnya, dia belajar dengan mengajar.

Jadi, kalau selama ini kita ragu, apakah buah fikiran ini layak ditulis, bukannya aku belum melakukan ya? Cukup lanjutkan. Tulis saja. Lalu lakukan yang kau tuliskan. Jangan berhenti sampai penulisan saja. Sehingga kita terhindar dari yang namanya omdo tadi.

Memang awalnya ya jangan menulis yang muluk-muluk dan terlihat susah untuk dilakukan. Tulislah hal-hal yang kita yakin bisa melakukannya. Insya Allah tulisan kita bisa bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Aamiin.

Fadhilah Dzikir Pagi Petang

Fadhilah Dzikir Pagi Petang

Alhamdulillaahilladzii bini’matihi taatimush shaalihat. Di tulisan ini cuma mau bersyukur atas kasih sayang Allah yang masih melindungi saya dari kecelakaan di jalan.

Jadi kemarin (21/6) saya baru pulang dari Solo yang mana sepeda motor saya parkirkan di Stasiun Maguwo. Lalu saya melintasi Jalan Laksda Adisucipto ke arah barat. Saya mengemudikan sepeda motor pelan-pelan karena lalu lintas yang padat. Mungkin memang salah saya yang mengemudi di arah kanan jalan, yang mana itu adalah jalur untuk mobil atau kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Saya ambil kanan jalan karena memang sedang mencari toko yang letaknya di kanan jalan.

Tiba-tiba dari arah belakang, BRAKKK!! Ada yang menabrak saya dari belakang, berikutnya terdengar suara klakson. Alhamdulillah motor saya tidak oleng sedikitpun. Saya juga tidak jatuh sama sekali. Jujur sih habis itu jadi takut dan deg-degan banget rasanya. Lalu saya menepi sebentar untuk menenangkan diri, sambil mengamati apa yang rusak ya dari motor saya? Tapi saya tidak turun untuk memeriksa secara detail.

Lalu saya melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan ada sebuah mobil pickup yang memberhentikan laju motor saya. Saya pun berhenti di depannya. Pengemudinya turun dan menghampiri saya yang masih duduk di atas motor. Ooh ini toh, orangnya yang tadi nabrak motor saya? Maaf ya Pak, ternyata Anda bertanggung jawab. Saya pikir tadi main tinggal saja, jadi saya sempat mengumpat kecil. Astaghfirullah.

Dia minta maaf dan menanyakan alamat rumah saya, bilang akan mengganti slebor motor saya. Saya fikir, saya masih selamat saja sudah bersyukur banget. Alhamdulillah. Jadi saya tolak saja ganti rugi itu. Fikir saya — waktu itu, saya tidak tahu kerusakan apa yang terjadi pada motor saya. Saya pun berlalu begitu saja.

Begitu sampai rumah, olalaa, slebot motor saya memang patah, plat nomor pun jadi hilang. Duh tau gitu tadi diterima saja ya, ganti rugi sopir pickup itu? Haha. Tapi ya sudahlah, ndak apa-apa.

Dikasih keselamatan tidak jatuh tidak luka samaaa sekali saja saya sudah merasa amaze. Betapa Maha Baiknya Allah, masih melindungi saya, masih memberi kesempatan saya untuk beramal shalih di dunia ini, mudah-mudahan.

Saya seperti ngga percaya, mungkin ini karena Allah menganjurkan hambaNya untuk senantiasa berdzikir, merutinkan dzikir pagi dan petang hari. Saya baru saja merasakan keutamaannya. Selama ini sudah sering sekali baca cerita orang-orang yang berdzikir pagi petang dan penjagaan Allah pada mereka. Mereka yang selamat dari kekerasan, pemerkosaan, kejahatan di jalan, kecelakaan lalu lintas, bisa jadi karena diberi taufik oleh Allah untuk mengamalkan dzikir pagi dan petang hari. Dan kali ini saya pun mengalaminya. Masya Allah, laa hawla walaa quwwata illa billaah.

Maka, untuk yang membaca tulisan ini, mari merutinkan dzikir pagi dan petang hari. Syukur-syukur dihafalkan. Tapi tidak hafal pun tak apa, sambil membaca bukunya pun boleh. Yang penting jangan lupa untuk dibaca. Ajari pula anak-anak kita dzikir-dzikir tersebut, supaya mereka istiqomah pula menerapkannya. Karena sungguh, hanya Allah lah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga.

Diselesaikan pada 22 Juni 2017, sebuah tanda syukur atas penjagaan Allah

Seburuk-buruk Pasangan

Seburuk-buruk Pasangan

Seburuk-buruknya pasanganmu, tetap tak pantas kau ceritakan perihalnya kepada kawan-kawanmu.

Iya, ini self reminder juga buat saya. Jangan, jangan, jangan. Kalau ada ketidaksukaan, ketidaksregan, lebih baik langsung kau sampaikan padanya. Tapi jangan sampai orang lain tahu rahasia rumah tanggamu. Jangan, jangan, jangan. Lebih baik kau tuliskan semua kekesalanmu di buku harianmu. Tapi jangan sampai kau ungkapkan di media sosialmu.

Ingat, seburuk apapun pasanganmu. Dia tetap pakaian bagimu. Aibnya tetap harus kau jaga. Bahkan keluarga terdekatmu saja tak boleh tahu. Apatah lagi kawan-kawanmu. Bukankah mereka semua tak bisa beri solusi atas berbagai permasalahanmu?

Sudah, sudah, sudah. Cukup Allah saja satu-satunya yang tahu.

Akhlak Utama

Akhlak Utama

Sudah sering dengar kan, kisah seorang mulia yang namanya diabadikan Allah dalam salah satu surahNya, Luqman? Beliau memang bukan bangsawan, saudagar, orang kaya atau populer pada masanya, bahkan beliau hanyalah seorang budak. Namun karena kebijaksanaannya, beliau digelari Luqmanul Hakim, Luqman yang bijaksana.

Suatu hari, Luqman pernah ditanya oleh seseorang yang menyembelih kambing, bagian mana dari binatang itu yang paling baik. Lalu beliau menunjuk pada lidah dan hati si kambing. Kembali orang itu menanyakan, manakah bagian paling buruk dari kambing itu. Lagi-lagi beliau menunjuk bagian yang sama, lidah dan hati. 

Hal itu menunjukkan, dalam diri seorang manusia, bagian yang paling menentukan adalah lisan dan hati. Jika kedua bagian itu baik, maka baik pulalalah selainnya. Demikian sebaliknya jika lisan dan hati itu buruk, maka yang lain pun buruk pula.

Jadi bisa dikatakan seseorang itu baik apabila baik lisannya dan baik hatinya. Tidak bisa hanya baik salah satunya. Sering kan kita dengar, tak apalah ucapan menusuk asal maksudnya baik, demi kebaikan orang yang kita nasihati. Atau juga sering kita lihat orang yang manis tutur katanya pada seseorang, namun ternyata suka membicarakan keburukan orang tersebut di belakangnya. Pilih mana? 

Tentu tidak pilih dua-duanya, dong. Meski kadang, orang yang perkataannya kasar tetapi hatinya baik masih lebih baik daripada yang lain di mulut lain di hati.

Orang yang lisannya baik, tidak akan berbicara jika tak ada manfaatnya. Namun akan berbicara jika bicaranya lebih bermanfaat dari diamnya. Mereka tidak suka bergunjing, adu domba, mencela, berdusta — bahkan dalam kondisi bercanda sekalipun. Tutur katanya senantiasa lembut dan bisa mengontrol diri jika marah.

Orang yang hatinya baik, maka mereka tidak suka berprasangka buruk, tidak memelihara dendam, tidak iri kecuali kepada masalah akhirat dan selalu mampu melihat hikmah di balik peristiwa, sepahit apapun. 

Orang-orang baik ini, tentu tidak sebatas membalas kebaikan terhadap orang-orang yang baik padanya. Bahkan mereka tetap berbuat baik kepada mereka yang menzhaliminya. Mereka menerapkan benar perkataan Allah bahwa meskipun membalas keburukan dengan keburukan yang sama itu diperbolehkan, tapi memaafkan itu lebih utama. Mereka bergaul dengan sesamanya dengan prinsip keutamaan, bukan sekedar keadilan dan kejujuran.

Dan mengamalkan akhlak utama itu sungguh berat. Ya, karena surga sebagai balasannya.

Sudah Hijrah, Baju Pendek dan Celana Jins Dikemanakan?

Sudah Hijrah, Baju Pendek dan Celana Jins Dikemanakan?

Pertanyaan ini mungkin banyak ditanyakan oleh akhwat yang baru berhijrah dari memakai pakaian yang belum sesuai syari’at menuju hijab syar’i. Seorang akhwat yang sempat merasakan memakai pakaian pendek, skinny jeans, kerudung tipis menerawang, baju ketat dan aneka model pakaian minimalis lain. Kini setelah berhijrah menggunakan gamis dan jilbab syar’i, tentu mereka ingin mengganti koleksi busana dan mengeluarkan baju-baju lama dari lemari. 

Pertanyaannya, bolehkah baju lama sebelum hijrah itu diberikan kepada orang lain?

Dalam salah satu kajian beliau beberapa waktu lalu, Ustadzah Azizah Ummu Yasir mengatakan sebaiknya baju-baju kita sebelum hijrah tidak diberikan kepada orang lain, karena kita tidak tahu akan diapakan baju itu nantinya, apakah akan dikenakan pada saat hanya bersama mahramnya, atau justru dipakai untuk bertabarruj di depan selain mahram, dipakai keluar rumah, atau bila diberikan kepada saudari kita yang belum berjilbab, malah lebih bahaya lagi karena berarti kita mendukungnya berbuat munkar — tidak berhijab.

Jadi, sebaiknya bagaimana? Baju zaman jahiliyah kita dikemanakan?

Beliau menjawab, sebaiknya baju-baju tersebut dimodifikasi menjadi bentuk lain, misalnya tas, dompet, baju bayi atau baju anak, celemek dan aneka kreasi lain yang bisa dimanfaatkan, selain untuk dipakai sebagai pakaian.

Terkait hal ini saya jadi ingat kutipan tulisan Ustadz Salim A. Fillah dalam buku terdahulunya, ketika ada pertanyaan jilbab pendek akhwat ang baru berhijrah dikemanakan? Apakah boleh diberikan kepada orang lain? Beliau menjawab boleh, asal diberikan kepada anak-anak, sehingga jilbab pendek pun jadi besar bagi mereka, hehe.

Semoga bermanfaat.

Cuplikan pertanyaan dari Kajian Muslimah Pelajar #3: Menjemput Hidayah dengan Berhijrah bersama Ustadzah Azizah Ummu Yasir, 7 Mei 2017 di Masjid Syuhada Yogyakarta

Rasa yang Berbeda

Rasa yang Berbeda

Di tulisan lalu, saya menulis tentang bagaimana kita sebagai ibu harus bisa menikmati momen-momen saat membersamai anak. Betapa bersama anak dan membersamai anak adalah dua hal yang berbeda. Bahwa seringkali kita sering terjebak pada situasi bersama anak, namun jiwa kita begitu jauh satu sama lain. Inginnya anak bermain bersama, namun fikiran kita melayang ke mana-mana sehingga tidak fokus pada permainan yang sedang kita lakukan bersama anak.

Saya sering sekali mengalami apa yang dinamakan bersama anak, tapi sejatinya tidak membersamai. Jujur, terkadang saya ketika sedang riweuh dengan urusan domestik, berharapnya anak tidur saja dan, jangan ganggu kerjaan Meme! Atau, ketika anak mengajak main sekolah-sekolahan sementara saya dalam kondisi belum beres — belum mandi, belum masak, belum cuci piring, aduh, rasanya pengen bilang: udahlah Nak, Meme belum ngapa-ngapain nih dan ngga bisa terlibat sepenuhnya dengan permainannya. Kadang ngga fokus, sehingga anak jadi ngga mood dan mudah tantrum. Lain waktu saya juga bisa dalam kondisi ngantuk berat sehingga boro-boro bisa fokus menemani, yang ada saya malah ngelindur dan ketiduran.

Kali ini saya akan menceritakan kisah “keberhasilan” mengelola perasaan tidak enjoy saat sedang membersamai anak. Setelah menulis sendiri tulisan ini, rasanya ngga enak ya, kalau tetap jadi ibu yang ngga bisa membersamai anak dengan baik. Berarti saya ngga bisa walk the talk alias cuma omdo dong. Jadi setelah menulis itu, saya niatkan untuk berubah jadi ibu yang lebih fokus dan responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan anak.

Dan Allah langsung menguji saya dengan kejadian tadi pagi. Jadi saya bangun pukul 2.30 untuk mempersiapkan makan sahur. Biasanya Ruma juga ngga bakal bangun tuh, sehingga saya bisa masak dan shalat malam dengan tenang. Tapi tadi pagi, sudahlah bangunnya terlambat 30 menit dari yang saya rencanakan, eh bocil malah bangun lagi. Pinginnya sih ngamuk ya, ini anak biasanya bobo kok jam segini malah ikutan bangun sih tapi ngga mungkinlah saya bilang seperti itu. Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya ke dapur saja dengan digendong jarik — fyuh, anak 3.5 tahun digendong jarik, boyok oh boyok.

Ternyata, begitu saya mengambil beras untuk dimasak, Ruma minta turun dan minta dia yang menakar berasnya. Oke deh. Berusaha untuk ngga komentar apapun selain menyanggupinya. Lagian juga daripada digendong terus, pegel kan. Akhirnya Ruma yang menakar beras dan memasukkan ke wadah nasi.

Setelah itu, Ruma minta ditemani tidur-tiduran. Tapi saya bilang ngga bisa, karena saya harus masak untuk sahur. Akhirnya saya mengalah. Ruma juga mengalah sih. Saya meracik bahan di dekat kasur tempat dia tidur. Ngga diduga ternyata dia ingin ikut memotong-motong sayurnya. Oke monggo. Saya persilakan dia memotong-motong terung hijau. Berikutnya, setelah semua bahan siap, Ruma juga tertarik ikut memasak. Lalu dia mengambil meja kecil supaya bisa ikut memasak di dapur. Oke, saya iyakan pula permintaannya kali ini. Tugas Ruma adalah memasukkan sayur-sayuran ke panci, memasukkan santan, memasukkan garam dan mengaduk-aduk sayur hingga santan mendidih. Semua pekerjaan itu dilakukannya dengan baik dengan sedikit bantuan dari saya. Selanjutnya Ruma juga tertarik untuk ikut menggoreng telur. Dia bertugas membalik adonan dan mengeluarkannya dari penggorengan setelah matang. Awalnya agak takut terpercik minyak panas, namun akhirnya dia menjadi lebih berani.

Setelah sesi memasak berakhir, Ruma terlihat sangat bangga. Dia berkata, “Yee, enak lho, Me, masakan aku. Kalau masakan Meme ngga enak.” Wis ngga papa nduk, asal kamu seneng dan enjoy membantu Meme

Berkat bantuan Ruma, saya malah jadi ngga terlalu keteteran. Masih bisa shalat malam dan cuci piring. Coba kalau Ruma ngga ikut masak, saya pasti masih sibuk mengaduk sayuran plus menggoreng sendirian yang pastinya bikin shalat terburu-buru dan terpaksa menunda cuci piring setelah shalat Subuh. Oh ya, melihat saya shalat malam, Ruma pun ikut-ikutan shalat malam loh. Alhamdulillah.

Ternyata, dengan menghadirkan rasa yang berbeda saat membersamai anak, hasilnya bahkan jauh lebih positif. Biasanya sih saya juga cukup sering masak-masakan bersama Ruma, tapi saya hanya memberi sedikit perhatian padanya ditambah gerutuan-gerutuan dalam hati. Pantas saja hasilnya ngga oke ya.

Jadi rahasianya, ikhlaskan hati saat membersamai anak. Curahkan cukup perhatian padanya. Jangan banyak ngedumel saat anak sedang menunjukkan kreativitasnya. Insya Allah, hasilnya bahkan lebih dari yang kita harapkan.

Tetap semangat membersamai anak, ya Bu.

Yogyakarta, 15 Juni 2017, sebuah catatan untuk anakku