What Is Your Passion?

Bismillah.

Ahad (24/1) lalu saya menghadiri acara playdate yang diselenggarakan oleh komunitas Homeschooling Muslim Nusantara (HSMN) Jogja di sebuah tempat makan daerah Babadan, barat Jogja Expo Center (JEC). Bukan, saya belum menjadi anggota komunitas keren itu, walaupun ada setitik keinginan dalam diri ini untuk meng-HS-kan Rumaysa, putri saya yang kini berusia 28 bulan.

Acara yang diberi tajuk “Cara Cepat Temukan dan Kembangkan Bakat Anak dengan Talents Mapping” ini menghadirkan Bapak Adrian, praktisi homeschooling sekaligus konsultan pendidikan yang telah sukses meng-HS-kan ketiga putranya.

Jadi, beginilah kurang lebih paparan yang disampaikan oleh ayah yang kerap disapa Cikgu ini.

Setiap manusia pasti mempunyai talenta, karena tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa tujuan alias sia-sia. Apalagi ciptaanNya yang paling sempurna: manusia. Apatah lagi jika manusia itu mengimani Allah dan RasulNya. Hal ini selaras dengan perkataan Allah dalam QS Ali Imran [3]: 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” Nah, kalau kita merasa tidak punya talenta atau kelebihan apa-apa, berarti kita menghina ciptaan Allah, karena tidak ada yang sia-sia dari ciptaan Allah. Kita saja yang mungkin malas menggali talenta yang terpendam dalam diri kita.

Kita harus meyakini bahwa kita ini diciptakan untuk suatu misi, yaitu beribadah kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia lain, karena seperti sabda Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain, ” sehingga kita harus mendayagunakan segenap kemampuan yang kita miliki untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Jangan pernah merasa menjadi “warga kelas dua” alias merasa tidak berguna dan tidak punya kontribusi apa-apa di dunia ini.

Untuk menemukan minat dan bakat anak, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa passion anak. Bagaimana mengetahui passion anak? Setidaknya ada 4 unsur penting dalam menentukan suatu bidang itu disebut passion atau bukan, yang disingkat 4E.

  1. Enjoy; anak benar-benar menikmati bidang yang sedang dikerjakannya, tanpa harus disuruh atau dipaksa-paksa oleh orang tuanya.
  2. Easy; bagi anak bidang pekerjaannya itu mudah dan dia bangetKalaupun menemukan kesulitan dalam pengerjaan, anak akan tetap bersemangat dan pantang menyerah menyelesaikannya.
  3. Excellent; anak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil yang memuaskan, tidak asal jadi. Dia pun dapat menjadi pakar di bidangnya.
  4. Earn; artinya bermanfaat atau menghasilkan. Ada hasil yang dipetik dari bidang pekerjaan yang dilakukan oleh anak, baik secara finansial maupun non finansial. Poin ini yang paling menentukan sebuah bidang disebut passion atau bukan. Jika bidang yang anak tekuni “hanya” berhenti pada poin ketiga atau excellent, berarti itu belum disebut passion, melainkan hobi.

Nah, inilah yang membedakan pendidikan akhlak dengan pendidikan bakat/talenta. Jika anak sudah memiliki 3E sampai poin excellent, maka orangtua sebaiknya memfasilitasi anak supaya hobinya itu berkembang menjadi passion. Misal anak suka menggambar, bahkan sudah sampai tahap excellent, sebagai orang tua sebaiknya memfasilitasi dengan menyediakan peralatan menggambar yang mumpuni. Lalu, kalau pendidikan akhlak, kebalikannya. Pendidikan akhlak itu harus digembleng, bukan difasitilitasi. Contohnya, anak malas bangun pagi untuk shalat subuh, sebagai orang tua kita harus menggembleng dengan cara mencabut semua fasilitas yang membuat anak malas bangun pagi: ganti kasur spring bed anak dengan karpet kasar, keluarkan AC dari kamar anak, dsb. Kebanyakan orang tua malah terbalik pemahamannya. Untuk pendidikan talenta digembleng habis-habisan, padahal anak tidak merasa enjoy dan easy mengerjakannya. Kalau begini, mana bisa anak mencapai tingkat excellent apalagi earn? Lalu, pendidikan akhlak malah difasilitasi dengan fasilitas yang malah menurunkan kualitas akhlak itu sendiri.

Wah, ngomong-ngomong soal passion, saya jadi kesindir abis nih. Bahkan sampai usia segini rasa-rasanya saya belum menemukan apa yang menjadi passion saya. Sampai-sampai saya selalu merasa tidak punya kelebihan atau bakat apa-apa. Padahal, kembali ke pembahasan awal, tidak ada di dunia ini yang diciptakan Allah dengan sia-sia. Berarti, selama ini sayanya aja yang malas menggali minat dan bakat kan? Hihihi.

Jadi, sebelum terlambat, mari kita gali passion kita masing-masing. Supaya hidup jadi penuh manfaat. Dan jangan lupa untuk mengizinkan anak bereksplorasi seluas-luasnya (tapi tetap sesuai standar keamanan) untuk menemukan apa yang menjadi minatnya, sehingga pada akhirnya anak juga akan menjadi pribadi yang penuh manfaat bagi selainnya. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s