Penyapihan yang Terlambat

Perjuangan menyapih hampir sama beratnya dengan perjuangan menyusui, setidaknya itu yang saya rasakan saat menyapih Rumaysa yang pada hari ini berusia 28 bulan 11 hari. Yah, bisa dibilang juga penyapihan yang terlambat. Idealnya batita mungil itu disapih 7 bulan lalu, sesuai dengan yang tersebut di Al Qur’an bahwa hamil dan menyusui itu lamanya 30 bulan. Masa hamil paling minimal adalah 6 bulan. Jadi, untuk bayi yang lahir di bulan kehamilan ke-9, sebaiknya disapih pada usia 21 bulan. Hiks, padahal menyapih di usia 24 bulannya saja sudah suliiit banget, apalagi 21 bulan ya.

Nah, sebelum saya ceritakan kesuksesan penyapihan ini saya mau cerita kegagalan-kegagalan sebelumnya dulu ya *biar nggak dikira langsung sukses *emang siapa yang ngira?

Di usia Ruma yang 24 bulan lebih 2 minggu, tepatnya saya lupa karena ga saya catat, saya masuk angin. Lalu saya blonyohan (membalurkan minyak gosok ke seluruh badan) aroma sereh yang konon katanya bisa meringankan gejala masuk angin. Waktu itu saya belum merencanakan secara serius untuk menyapih Ruma. Jam tidur malam pun tiba. Jam tidur adalah jamnya Ruma untuk menyusu. Menyusu memang kegiatan pengantar tidur baginya. Ruma sejak usia 18 bulan memang hanya menyusu saat mau tidur dan saat ga ada kegiatan lain yang lebih asik selain menyusu. Tentunya bagi saya, menyusuinya adalah cara terampuh untuk meredakan tangisnya.

Namun malam itu mendadak dia tak mau menyusu. Dia hanya berkata, “Nenen Meme bau. Bau minyak sereh.” Lalu dia minta tidur dikeloni Pepenya. O-ow, apakah ini maksudnya dia sudah melakukan weaning terhadap dirinya sendiri? Semudah itukah?

Gantian saya yang terpukul. Benar-benar merana. Memang sejak dua bulan sebelum umurnya 2 tahun, saya dan Pepenya sudah sering sounding agar Ruma tidak nenen lagi ketika sudah 2 tahun. Mungkin Pepenya serius. Tapi saya, murni basa-basi. Hati kecil saya jujur belum siap harus kehilangan momen seindah menyusui. Tapi Pepe terus mendesak saya untuk menyapih Ruma dengan selalu menyuruh saya mengoleskan minyak sereh itu sebelum tidur, agar Ruma semakin tidak mau menyusu. Walhasil, tujuh malam lamanya, saya pergi tidur dengan perasaan hampa. Ada kehilangan yang sulit dilukiskan. Biasanya sambil menyusui saya menatap mata beningnya, membelai rambutnya, menciumi aroma khas anak-anak yang kecut-kecut-sedep, dan mendadak perasaan nyaman mengaliri tubuh saya. Mungkin ini yang menyebabkan menyusui sambil tiduran selalu sukses membuat saya tertidur, hihihi.

Sisi positif dari penyapihan mendadak yang pada akhirnya ada unsur manipulasi ini, adalah Ruma mulai menunjukkan minat dibacakan buku. Sebelumnya, hanya menyusu saja kegiatan favoritnya. Saya berusaha menghibur diri. Ya sudahlah, mungkin memang sudah saatnya disapih. Tapi dasar sayanya yang memang belum siap menyapih, setiap dia merengek di tengah malam, saya sodorilah itu nenen. Cukuplah untuk mengobati kerinduan saya akan kegiatan menyusui. Pasalnya kalau dalam kondisi “sadar,” Ruma tidak mau menyusu lagi. Agaknya dia benar-benar trauma dengan bau sereh.

Namun saya masih juga galau, ditambah payudara yang membengkak karena penyapihan yang mendadak. Saya kemudian mencari artikel-artikel tentang Weaning With Love (WWL), menyapih dengan cinta, alias menyapih secara alami; tanpa paksaan, tanpa kebohongan. Disitulah saya merasa sudah mengelabui Ruma. Akhirnya saya putuskan untuk menyusui kembali, meskipun Pepe tidak menyetujui.

Berlalulah kegiatan menyusui Ruma lagi selama 4 bulan. Awalnya nyamaaan sekali, tapi lama-kelamaan saya jadi kurang nyaman. Apalagi Ruma menunjukkan tanda-tanda semakin nempel dengan nenen, kurang mandiri, kurang aktif (karena tidak ingin melakukan kegiatan lain jika bersama saya selain menyusu). Saya pun cemas dengan perkembangannya. Haha, galau terus nih jadi ibu-ibu. Akhirnya, pada 28 Januari 2016 di usianya yang 28 bulan 6 hari, saya resmi menyapih Ruma.

Awalnya memang Ruma menangis keras. Apalagi awal mula saya menyapih adalah ketika dia bangun tidur siang yang notabene sangat rewel dan cukup sulit ditenangkan. Satu jam lebih saya membujuknya dengan menggendong, mengalihkan perhatian, mengajak ngobrol. Alhamdulillah tangisnya berhenti (karena ada Pepe juga sih). Oke, penanganan tidak menyusu di siang hari beres. Tapi malam hari, belum tentu. Saya khawatir jika saat bangun tengah malam, saya harus menggendongnya berjam-jam untuk menidurkannya kembali. Maklum saya ini kalau sudah tidur, sulit sekali dibangunkan dan kalaupun bangun, rasa ngantuknya sulit hilang. Jadi saya takut kalau menggendong Ruma dalam kondisi ngantuk akan membahayakan. Pepe pun pasti kurang mau membantu, karena penyapihan yang kedua ini terjadi akibat saya ngeyel di penyapihan yang pertama. Jadi dengan kata lain, penyapihan ini menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Alhamdulillah, nikmat Allah mana lagi yang saya dustakan, Ruma ternyata sangat kooperatif. Menjelang tidur malam hanya minta dikeloni. Bangun tengah malam merengek sebentar, minta minum air putih, saya ambilkan, lalu hanya saya elus punggungnya sebentar, sudah bisa tidur lagi. Tidak ada adegan menggendong berjam-jam untuk menidurkannya kembali. Malam-malam berikutnya pun begitu. Pergi tidur hanya dengan dibacakan doa sebelum tidur, di-puk-puk, dikipasi, atau dibacakan cerita (walaupun cuma sebentar, ga habis satu buku, karena saya selalu tertidur duluan).

Kini Ruma semakin mandiri. Berkali-kali bilang, “Ruma sudah tidak nenen lagi,” atau “Nenennya diliat aja, dipegang aja.” Sudah jarang rewel, jarang nangis kalau bangun tidur, sudah mulai asyik beraktivitas sendiri (walaupun kalau kelamaan ninggalin dia langsung teriak-teriak minta ditemani). Semoga tumbuh kembangnya optimal dan bisa menjadi anak shalihah serta qurrota a’yun bagi kedua orang tuanya. Aamiin. PR besar nih buat kami Meme dan Pepenya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s