parenting

Peran Kita Atasi Masalah Mereka

Adalah satu hal yang menarik ketika tempo hari menyimak tulisan di dinding Facebook seorang pakar finansial Yuria Pratiwhi Cleopatra atau beken disapa Teh Patra, yang menyebutkan bahwa anak laki-laki yang sudah berusia baligh sudah tidak wajib dinafkahi oleh ayahnya. Anak laki-laki yang sudah mengalami ihtilam (mimpi basah) sudah tidak wajib diberi nafkah. Anak laki-laki yang pada masa sekarang ini usianya sekitar 10 – 12 tahun, sudah harus bisa mandiri, termasuk dari sisi finansial. Bagi orang tua, pemberian kepada pemuda laki-lakinya adalah sebentuk “sedekah” atau yang lebih keren lagi “investasi.”

Hal ini diterapkan betul oleh keluarga Teh Patra. Saat Akhyar Kamili, salah satu putra beliau meminta uang untuk mengikuti tes IBT untuk keperluannya melanjutkan sekolah keluar negeri, beliau mengajukan beberapa persyaratan yang tidak gampang sebelum uang itu cair. Jika Akhyar mampu memperoleh nilai tertentu, maka pemberian itu dianggap pemberian. Jika nilai Akhyar kurang dari angka yang ditentukan, maka ia harus mengembalikan uang pemberian itu 50% persen. Akhyar pun menyanggupi syarat itu. Akhirnya, nilai tes Akhyar memang memenuhi syarat sehingga ia tidak perlu mengembalikan uang orang tuanya. Nah, inilah yang dinamakan investasi, pemberian yang tidak sekedar pemberian. Ada tanggung jawab yang dituntut supaya pemberian itu tidak “terbuang” percuma. Dan bagi saya, ini benar-benar sesuatu yang baru dan menakjubkan — meskipun saya juga tahu bahwa hal itu bisa dimaklumi karena pada akhirnya lelaki adalah yang mengambil tanggung jawab penuh atas nafkah keluarganya, anak istrinya kelak.

Rupanya yang takjub bukan hanya saya, ibu-ibu lain pun begitu. Itulah sebabnya Akhyar Kamili merasa perlu membuat “balasan” atas tulisan ibundanya. Isi tulisan itu lebih menakjubkan lagi. Akhyar menyadari sepenuhnya bahwa di usianya sekarang — yang mungkin baru berbilang belasan tahun, memang sudah tidak pantas lagi diberi nafkah oleh orang tuanya. Lha wong kalau anak sudah baligh kan berarti sudah mukallaf, sudah diberi pembebanan kewajiban syariat, tidak seperti bayi atau anak kecil yang dosa-dosanya masih ditanggung orang tuanya. Bayangkan, untuk urusan akhirat yang jauuuuh lebih besar saja Allah sudah membebankan kewajiban syariat agama ini, apalagi untuk urusan dunia yang lebih kecil dari akhirat? Dan nafkah tentunya masalah dunia kan? Akhyar juga mempersilakan kami, para ibu yang takjub tadi, dengan mengecek kehidupan Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yang sudah mandiri secara finansial sejak usia muda beliau. Juga Usamah Bin Zaid yang di usia 17 tahun sudah dipercaya menjadi pemimpin pasukan perang. Juga — mencoba menghadirkan sosok yang lebih dekat dengan kita — mantan menteri Marzuki Usman yang merantau untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMP.

Sampai sini saya merasa WOW. Mungkin inilah karunia rusyd yang telah dimiliki pemuda seperti Akhyar. Lalu, pendidikan sekelas apa yang diberikan kedua orang tua Akhyar sehingga bisa punya pemikiran sebesar itu? Mengingat Akhyar ini adalah “siswa” homeschooling yang dididik langsung oleh kedua orang tuanya. Pasti orang tuanya dalam memberikan pendidikan bukan main-main. Akhyar ini juga tercatat sebagai pemuda penggerak perubahan di lingkungan sebayanya. Dia menggerakkan pemuda-pemuda lain di sekitarnya untuk Peduli Palestina, dsb. Dengan reputasinya, tidak heran ya di usia semuda itu sudah bisa menjadi agent of change, yang di masa sekarang ini sangat langka.

Membaca sosok Akhyar, saya jadi membandingkan dengan diri saya di usia yang sama. Usia segitu masih labil, alay, ga jelas, dan “katanya” masih mencari jati diri. Hmm, jati diri yang mana ya? Sudahlah bilang saja belum ngerti apa itu hidup dan tujuan hidup. Persis seperti remaja alay jaman sekarang yang sangat menggemari drama korea, selfie, pacaran, eksis di sosmed, dsb.

Dan ternyata, dalam Islam memang tidak mengenal istilah “remaja.” Remaja yang hanya tahu hura-hura. Remaja yang masih “bebas” melakukan apa saja karena memang masih masa mencari identitas diri. Dalam Islam, itu semua — merujuk istilah jaman sekarang — hoax, yang dihembuskan dunia Barat untuk memberi stereotipe yang sama pada semua remaja. Dalam Islam hanya dikenal 3 masa: masa kanak-kanak (yang fasenya dari lahir sampai baligh), masa muda (dari baligh sampai usia 40 tahun) dan masa tua (40 tahun sampai wafat). Dan penanda bahwa seseorang itu dikenai kewajiban syariat, adalah usia belum baligh dan usia baligh.

Masalahnya, dewasa ini telah terjadi kesenjangan yang begitu besar antara kematangan fisik (baligh) dengan kematangan mental, spiritual, sosial, finansial (aqil). Dan apa akibatnya jika semakin besar gap diantara keduanya? Ya, kerusakan. Seperti yang banyak terjadi saat ini. Para pemuda linglung yang berjalan tanpa arah. Mencoba segala yang bisa dicoba atas nama pencarian jati diri. Freesex, narkoba, dan fenomena yang akhir-akhir ini sangat marak, LGBT. Itu semua adalah hasil dari ketidaksinkronan waktu antara aqil dan baligh. Masa baligh datang begitu cepat, sebaliknya masa aqil tak kunjung datang.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mengantisipasi hal tersebut? Satu jawabannya. Ayah bunda harus kembali ke rumah dan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas pendidikan putra-putrinya. Anak-anak itu harus diisi jiwanya dengan iman, dengan pengetahuan atas fitrahnya, dengan kesadaran bahwa setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang kita perbuat di dunia ini. Anak-anak itu harus dibekali dengan pengetahuan dan kesadaran bahwa mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan apapun. Bentuk-bentuk ibadah juga bermacam-macam, termasuk mengambil peran sebagai khalifah di muka bumi ini. Peran-peran yang diambil hendaknya semakin mendekatkan kita pada fitrah penciptaan kita.

Pendidikan anak-anak kita bukan tanggung jawab utama sekolah, bimbingan belajar, atau lembaga manapun yang kita kira kita sudah mendidik anak-anak dengan benar dengan mengirim mereka ke sekolah-sekolah Islam terpadu, sekolah bertaraf internasional berharga mahal, lalu sepulangnya mereka dari sana tidak ada sambutan hangat dari kita selain pertanyaan mengenai PR dan nilai ujian. Kitalah yang akan ditanya kelak. Itulah kenapa pendidikan anak yang baik berawal dari kepedulian orang tua terhadap urusan pendidikan anak-anaknya dengan menjadi pemeran utama dalam mendidik mereka. Rumahlah sejatinya tempat terbaik untuk mendidik anak, dan orang tualah pendidik terbaik mereka.

Oleh karena itu, perlu bagi orang tua untuk mengetahui apa yang menjadi “ciri khas” anak-anaknya, yang membedakannya dengan anak-anak lain, kemudian menjadi fasilitator yang mendukung dan mengarahkan “ciri khusus” anak tadi, sehingga dengan kelebihan itu anak-anak kita mampu menjadi generasi unggul, yang apapun peran yang dilakoninya di masa depan, cukup Allah satu-satunya tujuan dan tempat mencari keridhaan. Semoga anak-anak kita mampu melewati masa peralihannya tanpa proses pencarian jati diri ala Barat karena sejak kecil telah kita tanamkan iman dan fitrah yang benar di dada-dada mereka.

*Terinspirasi oleh Teh Patra & Akhyar Kamili

*Diperkaya dengan sumber-sumber a.l.: pemaparan Pak Harry Santosa dalam Bedah Buku dan Talkshow Fitrah Based Education (Jogja, 14 Februari 2016), buku Positive Parenting (Ustadz Mohammad Fauzil Adhim) dan buku Remaja, Antara Hijjaz dan Amerika (Ustadz Budi Ashari)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s