Majalah Remaja Kita

Sejak kecil, saya sangat suka membaca majalah. Majalah favorit saya waktu kecil — standar ya, Bobo. Saya ingat sekali, ketika itu — ngga tau sekarang masih atau ngga — Bobo terbit tiap Kamis dan setiap Kamis tiba, saya selalu menunggu-nunggu majalah itu tiba di rumah. Begitu Bobo datang, tidak sampai sehari saya sudah menamatkan isinya. Saya juga begitu sewot kalau tidak sengaja Bobo-nya ketumpahan susu atau terkena noda cokelat dari tangan ketika asyik membolak-balik majalah. Saking senangnya membaca majalah, ketika saya harus dirawat di rumah sakit karena operasi usus buntu, salah satu teman yang menemani adalah majalah-majalah yang saya baca sambil tiduran di ranjang rumah sakit. Akibatnya ketika duduk di kelas 1 SMP, saya diharuskan memakai kacamata minus.

Beranjak baligh, bacaan saya berganti menjadi majalah remaja. Sayangnya, membaca majalah remaja tanpa pendampingan orang tua dikombinasikan dengan hobi menonton televisi benar-benar membawa efek buruk pada diri saya. Aneka rupa feature majalah remaja dan acara televisi saya serap tanpa filter. Hasilnya, seorang remaja krisis identitas yang menganggap bahwa apa yang dianggap keren oleh media-media tersebut dianggap keren juga olehnya.

Berikut ini akan saya uraikan hal-hal apa saja yang dianggap keren oleh media, dalam hal ini adalah majalah remaja, yang belakangan saya baru tau kalau itu sama sekali tidak keren bahkan tidak ada dalam Islam.

Pertama: pacaran. Hampir semua majalah remaja umum menganggap kegiatan itu adalah hal yang normal, wajar dan biasa sekali. Bahkan kalau ada abege yang belum atau tidak pacaran dianggap aneh, kuper, cupu dan aneka sebutan menghina lainnya. Maka tak heran kalau tips-tips yang disajikan oleh majalah remaja kebanyakan: tips pdkt, tips move-on dari mantan, tips pacaran awet, dll.

Kedua: penampilan fisik. Penampilan fisik bagi kebanyakan remaja memang satu hal yang harus diperjuangkan. Agar menarik lawan jenis tentunya. Maka banyak majalah remaja juga menawarkan kiat-kiat agar tubuh ideal, diet, make-up, yang kurang imbang proporsinya dengan tips seputar penampilan/kecantikan batin. Remaja yang memiliki self-esteem rendah, akan mudah terprovokasi dengan isu-isu seperti ini. Mereka menjadi tidak percaya diri lantaran badannya subur, jerawatan, dsb.

Ketiga: zodiak. Nah, rubrik ini hampir selalu muncul di setiap majalah remaja. Ramalan dari siapa entahlah perihal keuangan, asmara dan juga hari baik-hari sial kerap dijadikan acuan remaja dalam menjalani hari-harinya. Padahal, meskipun membaca zodiak dengan tujuan iseng-iseng pun, tetap dihukumi sebagai dosa.

Keempat: pembahasan berlebihan ketika ada perayaan macam Valentine, Halloween, dsb. Ketika bulan Februari, ramai-ramai majalah membuat edisi khusus Valentine. Tema-temanya adalah seputar perayaan keramat bagi pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta.

Kelima: banyak pembahasan ajaib seperti tips menolak ajakan m***m pacar — yailah, makanya ngga usah pacaran aja sih, biar ga diajakin m***m. Bahkan pernah lho, artikel di majalah remaja — edisi Indonesia sebuah majalah remaja asing, yang membahas kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja dan bagaimana mereka bisa survive dari kejadian tersebut.

Hmm, hal-hal yang saya sebutkan itu saja adalah isi majalah remaja belasan tahun yang lalu ketika saya masih berusia belasan lho. Sekarang, saya juga tidak tau bagaimana persisnya isi majalah remaja saat ini. Tapi sepertinya pembahasannya juga ga jauh-jauh seputar hal-hal tersebut.

Intinya, remaja Indonesia saat ini sedang krisis akan adanya sebuah majalah remaja berisikan konten positif yang dapat mengubah mindset para remaja. Bukan remaja yang hanya peduli hal-hal remeh seperti drama korea, grup band, klub sepakbola favorit, penampilan fisik, pacaran dan kroni-kroninya, zodiak dsb. Melainkan remaja, atau kerennya, pemuda yang benar-benar menjadi agent of change dan tumpuan harapan bangsa.

Dan saya ingin sekali ambil bagian dalam mewujudkan pemuda-pemuda keren seperti itu dengan membuat sebuah majalah remaja — untuk anak usia baligh sampai sebelum menikah — yang berisikan konten positif dan dapat menjadi motivasi bagi para remaja Indonesia yang saat ini sedang krisis bacaan yang mencerahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s