Rumaysa

Ruma (1)

Dear Rumaysa, anak kecil kesayangan dan kebanggaan Meme.

Hari ini umurmu 31 bulan 5 hari. Beberapa bulan lagi usiamu akan menjejak 3 tahun, beranjak dari fase toddler menuju preschooler. Sesungguhnya ibumu ini agak resah, Nak. Takut kalau-kalau Meme kurang bahkan tidak memberimu stimulasi untuk perkembanganmu.

Meme berjanji kepadamu untuk setiap hari menulis diary perkembanganmu. Karena Meme sadar, waktu yang kita miliki tidak banyak. Do’akan semoga Meme istiqomah.

Lusa (25/04), eyang kakungmu masuk rumah sakit karena gerah ambeien. Mari kita do’akan Yangkung supaya cepat sembuh dan bisa bermain lagi denganmu. Selama Yangkung gerah, Ruma lebih banyak main sama Kakek-Nenek-Mba La. Meme banyak sibuk menemani Yangkung dan Yangti di rumah sakit. Ndak papa ya, Nak. Ini adalah kesempatan Meme berbuat baik sama eyang-eyangmu. Meme ingin sekali jadi anak yang berbakti pada kedua orang tua, Nak. Supaya disayang Allah.

Tadi malam (26/04) Ruma diantar kakek-nenek sekitar pukul setengah tujuh. Setelah itu kita main motor-motoran di kasur. Kadang Meme sambilan main HP untuk update kondisi Yangkung. Maafkan Meme ya, Nak. Kalau Meme kurang perhatian sama Ruma. Habis itu Pepe pergi. Kita berdua saja sambil kruntelan di kasur, ngobrol ga jelas. Sungguh bagi Meme, saat-saat berdua denganmu adalah saat-saat terindah dalam hidup Meme. Berada di sampingmu, menatap bola mata beningmu membuat Meme merasakan kedamaian yang tak terlukiskan.

Tiba-tiba tadi malam waktu kita hanya berdua saja, Meme menangis. Jujur Meme menangis karena sedih belum bisa jadi anak yang baik dan membahagiakan orang tua. Kamu pun ikut menangis keras. Duh, rupanya Ruma benar-benar ga suka ya lihat Meme menangis? Setelah nangis, Ruma pun batuk-batuk dan minta diambilkan minum. Saat Meme ngambilkan air putih, Ruma mendadak batuk dan muntah. Biasalah Nak, Meme pun saat seusiamu kalau menangis keras pasti diikuti muntah. Ruma muntah di kasur. Baju dan celana kena muntah semua. Ruma pun menangis lagi. Kamu memang ga suka ya muntah? Dari dulu habis muntah, pasti nangis lagi. Meme pun membersihkan dirimu. Membasuh seluruh badanmu yang kena muntah. Mencuci gigimu. Mengajakmu pipis. Kamu pun menurut. Kamu memang anak yang super baik, Nak. Setelah itu Meme membersihkan muntahmu di kasur dan di lantai. Ruma selalu mengikuti karena takut ditinggal. Entahlah, setiap habis nangis moodmu pasti jadi kurang baik.

Semalam kita tidur tanpa kasur ya, Nak. Hanya beralaskan karpet dan selimut tebal. Sebelum tidur, Meme menawarkan untuk membacakan buku. Ruma pun memilih buku “Aku Selalu Bangun Pagi” yang mana memang buku favoritmu. Meme tidak membacakan bukunya sih. Karena Ruma lebih suka “membaca” dengan bahasa sendiri. Semoga kelak kamu jadi anak pecinta buku seperti Meme ya, Nak. Bersahabat dengan buku itu asyik lho. Insya Allah.

Akhirnya Ruma pun bobo setelah Meme bacakan do’a sebelum bobo yang sudah sangat kamu hafal. Setelahnya Meme membacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas untuk melindungimu. Namun karena tadi malam kasurnya ga dipakai, kamu bobonya jadi ga nyaman ya, Nak. Dikit-dikit bangun. Dan pakai nangis lho. Meme sampai bingung. Dikira Meme kamu anget atau masuk angin. Alhamdulillah ternyata cuma karena alas bobonya ga empuk. Akhirnya setelah Meme tambahin selimut lagi Ruma bisa bobo walau masih bangun-bangun.

Sudah deh, segini dulu. Meme nulisnya ga pakai mikir. Karena insya Allah tulisan ini akan berkelanjutan, jadi capelah kalau mikir mulu tiap hari.

Kami menyayangimu, Nak.

27 April 2016 — di kantor Meme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s