NHW #1: Bicara Lemah Lembut

Alhamdulillah sejak 11 Mei 2017 lalu saya resmi bergabung dengan grup Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) yang kini sudah mencapai empat batch. Sudah lama saya penasaran dengan komunitas ini. Rasanya ingin menantang diri: sanggup ngga sih jadi ibu dan istri yang lebih baik lagi, lebih profesional dan bisa diandalkan? Penasaran sekaligus deg-degan mengingat untuk sukses di program matrikulasi ini ngga cuma modal rajin mantengin HP dan aktif berdiskusi, alias ngga sekedar jadi silent reader – ketauan deh selama ini jadi SR doang – melainkan juga harus rajin mengerjakan PR yang disebut Nice Homework (NHW) yang jumlahnya mencapai sembilan kali.

Nah, dalam NHW #1 terkait dengan adab menuntut ilmu ini kami ditugasi untuk menentukan satu jurusan ilmu dalam universitas kehidupan yang ingin kami tekuni. Hmm cukup sulit sih. Apakah ilmu itu terkait minat dan kesukaan kita, atau ilmu lain yang kiranya dapat kita pelajari untuk membuat hidup lebih produktif. Bingung. Akhirnya saya menentukan satu bidang ilmu yang benar-benar belum saya kuasai namun ingin sekali saya kuasai. Ilmu apakah itu? Tak lain tak bukan adalah ilmu berbicara dengan lemah lembut.

Jujur saya tidak terbiasa untuk berlemah lembut. Meskipun saya orang Jogja yang terkenal dengan kelemahlembutan tutur katanya. Tapi saya kok ngga ya? Selain itu saya juga mudah marah. Tentunya kalau sudah dikuasai amarah begitu jadi suliiit sekali untuk berlemah lembut. Korbannya siapa lagi lah kalau bukan suami dan Ruma, anak saya? Duh kasihan ya. Padahal suami saya menyukai perempuan yang lemah lembut. Nah kan. Apalagi kini Ruma juga sudah mulai meniru-niru perangai orang tuanya, terutama ibunya. Apa jadinya kalau saya masih mempertahankan tutur kata yang jauh dari lemah lembut ini?

Jauh hari sebelum menikah, saya pernah mendengar seorang ustadzah di sebuah kajian mengutip salah satu hadits Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berikut.

“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya” (hadits riwayat Abu Dawud)

juga

“Jika Allah mencintai suatu keluarga maka Dia memasukkan sikap lemah lembut kepada mereka(hadits riwayat Ibnu Abid Dunya)

Dan katanya lagi, kelemahlembutan itu bukan bawaan dari lahir, melainkan bisa diusahakan kalau kita terus-menerus berlatih mengasahnya. Dulu sih saya lempeng aja, ah udahlah emang saya orangnya begini, ngga lemah lembut, ngapain juga berusaha susah-susah melakukan sesuatu yang bukan saya banget, maksa lemah lembut padahal bukan jiwanya? Namun kini saya mulai mikir, sampai kapan saya terus begini? Harusnya makin hari makin baik dong. Masa ngga pengen jadi orang yang dicintai Allah? Masa ngga pengen mengamalkan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Apalagi dengan berlemah lembut tentunya saya juga bakal dapat banyak keuntungan. Selain meneladani akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, bikin suami tambah sayang, anak jadi makin menyenangkan, orang tua dan mertua lebih termuliakan, tentunya saya juga berharap mendapatkan ridha Allah.

Merubah kebiasaan yang sudah mendarah daging tentu bukan hal yang mudah. Maka dari itu, usaha-usaha yang akan saya lakukan supaya bisa berbicara dengan lemah lembut antara lain:

  • banyak berdo’a kepada Allah supaya Allah berkenan memperbaiki akhlak saya dan menganugerahkan sifat lemah lembut kepada saya;
  • bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalih yang berperangai lemah lembut;
  • rajin mendatangi majelis ilmu supaya banyak bertemu dengan orang-orang shalih;
  • membersihkan hati dari berbagai penyakit yang mengikis kelemahlembutan, seperti iri dengki dan berprasangka buruk pada orang lain;
  • rajin membaca Al Quran karena Al Quran akan melembutkan hati;
  • berusaha selalu menatap mata lawan bicara supaya lebih mendengarkan apa yang mereka katakan.

Terkait dengan adab menuntut ilmu, tentunya saya harus melakukan perubahan sikap supaya ilmu berbicara dengan lemah lembut semakin menancap kuat di hati dan tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Untuk itu, sikap-sikap yang harus saya ubah antara lain:

  • merasa diri paling benar;
  • kurang empati terhadap fikiran dan perasaan orang lain;
  • mengedepankan prasangka;
  • berbicara dengan sikap agresif;
  • sumbu pendek alias gampang naik darah.

Sikap-sikap buruk tersebut harus dikurangi dan perlahan-lahan dihilangkan dengan cara tazkiyatun nafs, ikhlas mengharap ridha Allah, berusaha melihat segala sesuatu tidak dari sudut pandang pribadi melainkan juga memperhatikan fikiran dan perasaan orang lain, berusaha positive thinking, mencoba menyampaikan pendapat secara asertif dan berusaha mengelola amarah dengan metode RETHINK, yakni recognize, empathy, think, hear, involve, notice dan keep. 

Semoga Allah memudahkan dan meridhai usaha ini – tidak hanya cukup ditulis namun juga diamalkan – sehingga jika saya istiqamah dan bersungguh-sungguh menjalankannya, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam akhlak terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang yang saya sayangi. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s