Rumaysa

Mengalahkan Rasa Takut

Dua bulan lalu, sekitar Maret 2017, Ruma mengalami masa mogok sekolah. Namun mogoknya ini bukan karena dia ngga suka pergi ke sekolah, bosan dengan aktivitas dan pembelajaran di sekolah, mengalami separation anxiety dengan orang tuanya, melainkan trauma gara-gara melihat hidung temannya mengeluarkan darah. Bukan mimisan sih, tapi kena roda tas salah seorang temannya yang lain. Dan darahnya itu banyak banget kata Ruma. Mulai hari itu dan seterusnya selama hampir sebulan, setiap mau berangkat sekolah selalu ada drama. Mulai dari nangis sampai muntah-muntah, minta ditunggu ngga mau ditinggal, sampai cuma nangis doang di awal berangkat sekolah. Masa paling heboh adalah dua pekan awal pasca kejadian teman berdarah. Sampai minta ditarik dari sekolah.

Untungnya sekarang masa itu sudah berlalu. Ruma sudah kembali masuk sekolah dengan ceria. Pulang sekolah juga selalu bersemangat menceritakan kejadian-kejadian yang dia alami di sekolah. Pelajarannya bagi saya adalah sebagai orang tua harus selalu menunjukkan keberanian terhadap apapun yang dihadapi. Jangan pernah menunjukkan ketakutan terhadap sesuatu di depan anak. Saya ini memang orangnya penakut sekali. Terutama pada darah, misalnya lihat orang kecelakaan, (dulu) nonton sinetron di mana pemerannya mengalami muntah darah atau batuk darah, duh pasti saya langsung teriak dan menutup mata. Pokoknya menunjukkan ekspresi lebay. Nah, itu yang ditangkap anak sehingga dia pun jadi takut terhadap hal yang sama.

Saya jadi ingat, beberapa bulan lalu, sekitar akhir November 2016, Ruma juga mendadak jadi anak yang penakut. Dia yang biasanya berani ditinggal sebentar jika saya mandi atau ke toilet, mulai asyik bermain sendiri, mendadak jadi anak yang mudah menangis kalau ditinggal dan harus selalu ditemani. Pergi mengambil sesuatu di luar ruangan di mana saya tidak di sampingnya juga sudah ngga mau. Bingunglah saya, sampai saya tanya-tanya sama teman-teman yang ngerti psikologi anak kok. Ternyata setelah saya ingat-ingat itu, memang tempo harinya sempat dengar suara heboh tabrakan gitu di jalan. Saya juga langsung bereaksi heboh ketakutan. Ruma sih diam saja waktu itu. Tapi ternyata, reaksi saya terhadap kejadian itu terekam jelas di otaknya sehingga dia mendadak jadi penakut.

Dengan dua kejadian itu, kini saya harus lebih hati-hati lagi saat menanggapi atau bereaksi terhadap sesuatu yang di luar kendali saya. Saya harus bisa memaksa diri untuk lebih berani, meskipun dalam hati sih takut banget. Apalagi kalau bukan demi kebaikan dan masa depan anak yang lebih baik?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s