NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Alhamdulillah, kuliah matrikulasi IIP sudah memasuki pekan ketiga. Materi makin seru dan NHW-nya pun makin menantang. Kali ini materi yang diberikan adalah tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah.” Saya sudah cukup sering membaca literatur yang menyatakan bahwa rumah adalah pusat peradaban pertama dan utama manusia. Sejatinya pendidikan manusia pertama dimulai dari rumah, bukan sekolah dan lingkungan-lingkungan lain yang akan ia masuki. Oleh karena itu, benar kiranya jika seorang anak sudah “beres” di rumahnya, akan mudah baginya untuk memasuki lingkungan-lingkungan selanjutnya yang mendukung perkembangannya di kemudian hari.

Dalam membangun peradaban di sebuah keluarga, kerjasama dan kesamaan pandangan antara suami istri sangat dibutuhkan. Mustahil rasanya jika hanya salah satu pihak saja yang berusaha sementara pihak lain hanya diam atau bahkan tidak mendukung apa yang sedang diusahakan pasangannya. Bagi rumah tangga yang di tengah-tengah perjalanannya ada gesekan-gesekan, friksi, konflik, atau ketaksepahaman antar pasangan tentu tidak mudah ya. Oleh karena itu perlu kiranya untuk kembali me-refresh hubungan dengan pasangan, supaya suami istri bisa saling jatuh cinta lagi, tentunya bukan dengan orang lain, tapi dengan pasangan yang telah dihalalkanNya bagi kita.

Nah, di NHW ini pun kami diberi tugas yang  challenging dalam menghangatkan kembali hubungan pasutri. Apakah itu? Membuat surat cinta kepada suami. Bagi saya agak sulit ya, karena tidak terbiasa mengungkapkan cinta via tulisan. Lagipula saya takut jika respon suami tidak sesuai harapan. Ternyata suami yang membaca surat itu hanya mengirimkan kiss emoticon saja sih. Waktu saya tanya apa maksudnya, suami cuma diam saja dan hanya memeluk saya. Entahlah. Tapi semoga dengan itu hubungan kami semakin kompak dan cita-cita mewujudkan peradaban dari dalam rumah bisa terwujud. Kalau kelebihannya suami apa ya? Rata-rata yang dipunyai suami ini tidak dipunyai oleh saya, seperti pekerja keras, kemampuan manajerial dan organisir yang baik, inisiator. Jadi bisa dibilang beliau dihadirkan untuk melengkapi kekurangan saya.

Bicara tentang peradaban dalam sebuah keluarga, tentunya anak juga termasuk karena merekalah pelaku yang melanjutkan peradaban kita nanti. Anak juga investasi akhirat bagi kita sehingga mendidik mereka butuh kesungguhan yang luar biasa. Saya sangat bersyukur dianugerahi putri seperti Rumaysa. Kami berharap Ruma bisa meneladani Rumaysa binti Malhan, shahabiyah yang terkenal dengan ketabahannya. Dia adalah permata hati kami yang sungguh ceria, senang dengan kelembutan, suka membantu dan penyayang. Dia juga sangat senang bermain peran, dibacakan buku, mudah menyerap apa yang dilihat (visual) dan senang aktivitas fisik. Di usianya yang kini 3,5 tahun Ruma sudah mengenal rasa malu, tidak mau memakai baju tanpa lengan, celana pendek dan selalu ingin menggunakan baju muslimah berikut jilbabnya kalau keluar rumah. Mudah-mudahan istiqamah hingga dewasa nanti ya, Nak.

Lalu saya sendiri sebagai seorang ibu, apa ya kelebihannya? Saya adalah orang dengan tipe senang melayani dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain, terbuka terhadap kritik dan mau melakukan perubahan demi kondisi yang lebih baik. Semoga dengan modal itu bisa menjadikan saya sebagai ibu dan istri yang lebih baik lagi.

Membangun peradaban juga terkait dengan lingkungan di sekitar kita. Ini agak sulit sih, karena saya merasa kami — saya dan suami — masih kurang aktif berbaur di lingkungan tempat tinggal. Semoga dengan bergabungnya saya di IIP ini membuat saya — dan juga suami — tergerak untuk memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Namun sebelumnya kami terlebih dahulu harus memperbaiki apa yang ada di dalam keluarga kami, sehingga jika keluarga kami sudah baik, sudah kompak, satu visi misi dalam pendidikan anak, suami mempercayakan pada saya sepenuhnya untuk menjadi guru pertama dan utama bagi putri kami, baru kami akan keluar untuk membagikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sekarang kami baru sebatas membantu jika ada tetangga yang minta bantuan (kebetulan ada tetangga janda kurang mampu di tempat kami yang masih butuh bantuan) dan takziyah jika ada tetangga yang meninggal dunia, serta berpartisipasi dalam kegiatan masjid di tempat kami (ini juga cukup PR karena suami kadang malah tidak begitu suka shalat berjama’ah di masjid dekat rumah kami dengan alasan lebih mantap di masjid yang lebih besar).

Kiranya itu saja yang bisa saya tuliskan di homework ketiga ini. Semoga cita-cita membangun peradaban dari  dalam rumah bisa segera terwujud dalam keluarga kami. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s