Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Beberapa pekan lalu saya mendengarkan kajian Ustadz Firanda hafizhahullaah dengan tema “Masuk Surga Sekeluarga.” Tentu setiap kita mencita-citakan masuk surga sekeluarga. Sudahlah masuk surga yang kenikmatannya belum pernah terindera oleh siapapun, ditambah lagi Allah kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai di dunia. Ayah ibu kita, anak-anak, saudara, pasangan hidup, berkumpul bersama di sebaik-baik tempat peristirahatan. Sungguh kenikmatan yang berlapis-lapis.

Adakah itu keinginan semata? Atau sudah ada rencana serius yang dibuktikan dengan amalan nyata supaya keinginan itu terwujud nyata?

Satu hal yang digarisbawahi agar masing-masing kita dalam mewujudkan keinginan sehidup sesurga adalah seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al Baqarah ayat 237,

Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian (QS Al Baqarah: 237)

Ya, inilah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga yang insya Allah bisa membawa kita berkumpul kembali di surga bersama orang-orang yang kita cintai semasa hidup.

Seperti yang disampaikan beliau hafizhahullah, keutamaan yang dimaksud di sini bukan kebaikan-kebaikan atau sifat baik yang dimiliki suami atau istri kita — meskipun kita juga diperintahkan untuk selalu berusaha mencari-cari kebaikan pasangan untuk melanggengkan cinta.

Keutamaan di sini lebih merujuk kepada perlakuan yang lebih baik kepada pasangan hidup kita, akhlak utama yang kita tunjukkan semata-mata untuk mencari ridha Allah yang dengan sebab itu rumah tangga akan berkah dan bisa membawa penghuninya menuju surga bersama-sama.

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullaah dalam tafsirnya menafsirkan ada dua macam akhlak yang dianjurkan dalam bergaul dengan manusia, yakni akhlak yang baik — di antaranya adalah perbuatan jujur dan adil serta yang lebih baik dari itu, yakni akhlak yang utama, yakni memberi lebih dari apa yang dianjurkan serta toleransi dalam meminta hak. Dua hal ini sebagai modal utama bergaul dengan manusia. Nah, dengan sesama manusia saja kita dianjurkan untuk menunjukkan akhlak yang utama, maka apatah lagi dengan pasangan hidup kita, keluarga kita?

Seperti kita ketahui, ada kalanya rumah tangga diguncang prahara, salah satu pihak berlaku zhalim terhadap pasangannya, ada yang merasa terzhalimi, pertengkaran yang terus-menerus misalnya, tentu akan membuat suasana rumah tak keruan, tak ubahnya seperti neraka. Dalam keadaan seperti ini sikap kita sebagai pihak yang terzhalimi misalnya, adalah dengan tetap berakhlak baik pada pasangan yang menzhalimi kita, lakukan apa-apa yang menjadi kewajiban kita, serta toleransi dalam meminta hak. 

Ini relevan dengan yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi dalam buku beliau yang berjudul “Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia, hendaknya masing-masing suami istri mencari kewajiban-kewajiban kepada pasangannya, menunaikannya sesuai kemampuan dan bersabar menantikan pihak lain menunaikan hak kita.

Karena sungguh, hidup berrumah tangga bukan sekedar hak dan kewajiban. Sepatutnya kita tunjukkan kemuliaan dengan memberi lebih dari yang seharusnya.

Dengan saling menunjukkan akhlak yang utama, masing-masing suami istri akan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang memicu kebahagiaan di dunia, dan apabila dibingkai dalam ketaatan kepada Allah serta melalukan amal shalih, niscaya kebahagiaan tersebut akan berlanjut di akhirat, di surgaNya. Sungguh pada yang demikian itu, hendaknya kita berlomba-lomba.

Semoga dimudahkan.

Ditulis dan diselesaikan pada 12 Juni 2017, sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s