Listen Carefully & Respond Appropriately

Listen Carefully & Respond Appropriately

Semalam saya mendapat beberapa pelajaran berharga dari Rumaysa, anak yang kata saya segalanya, kesayangan, ternyata malah membuat saya tega bersikap kasar padanya. Maafkan Meme, Nak. Sungguh.

Kami semalam shalat Isya dan tarawih di Masjid Islamic Center UAD. Masjidnya luas dan bagus sekali. Ruma sangat senang shalat di sana. Setelah shalat Isya dengan tertib, Ruma ingin mengambil teh yang dibungkus plastik di serambi masjid. Lalu dia minta saya untuk membukakan plastiknya. Namun saya khawatir nanti tehnya tumpah.

Saya katakan padanya, “Nanti aja ya Mbak, dibuka di luar. Nanti kalau tumpah lantainya jadi lengket.” Anak saya menurut. Akhirnya teh saya letakkan di samping tas dengan dialasi beberapa lembar tisu. 

Saat ceramah, Ruma pun ingin lari-larian, coba-coba buka tutup pintu masjid, bermain boneka — yang memang dibawanya dari rumah, di masjid. Saat shalat tarawih baru saja dimulai, tiba-tiba Ruma menangis. Saya gendonglah ia hingga rakaat keempat. Setelah tarawih pertama itu selesai, saya tanyakan pada Ruma kenapa dia menangis. Dia jawab, “Ada orang gila.” Saya pun tak percaya. Saya menganggap Ruma hanya mengkhayal seperti biasanya kalau mengkhayal. 

Saya hanya bilang padanya, “Sudah ya, ngga usah minta gendong lagi. Meme capek.” Ruma tidak mau. Akhirnya saya gendong hingga shalat witir hampir selesai.

Saat posisi tahiyat akhir, saya melihat Ruma sibuk dengan teh di depannya. Dia juga mengeluarkan tisu dari tas saya. Dan benarlah tebakan saya, begitu shalat usai, Ruma langsung lapor, “Me, tehnya tumpah.”

Tak usah menunggu lama, meluncurlah kalimat-kalimat dengan nada tinggi dari lisan saya. Saya omeli ini itu mulai dari Tuh kaan, apa Meme bilang? Tumpah beneran kan? Dibilangin dari tadi ngga usah bawa-bawa teh ke sini kok sampai Yaudah, sekarang kamu (iya, kamu, biasanya Ruma atau Mbak Ruma) buang plastik ini sendiri atau biar Meme yang buang, kamu tunggu di sini jagain tas Meme, dan itu semua dengan nada tinggi plus muka jutek. Langsung deh Ruma menangis lagi.

Sudah melihat dia nangis begitu, bukannya iba saya malah masih ngomel. Saya itu sebenarnya marah karena tisu saya jadi berkurang banyak untuk mengelap tumpahan teh, tapi juga kesel karena yang saya takutkan malah benar terjadi.
Akhirnya setelah bertemu Pepenya, ditanyakan baik-baik masalahnya, Ruma cerita awal mula dia menangis karena dia sedang bermain dengan bonekanya, lalu ada seorang ibu berpenampilan kumuh memarahinya dan bilang bahwa dia tidak boleh mengambil bonekanya lagi. Jadi si ibu itu mau mengambil boneka Ruma namun akhirnya dikembalikan oleh ibu lain. Itulah sebab Ruma menangis dan jadi tidak ceria setelah sebelumnya ceria banget main-main di masjid.

Dan saya gagal memahaminya. Gimana mau paham sih, dengar saja cuma sambil lalu dan tidak menanggapi apapun. Gimana mau menanggapi, mempercayai ceritanya saja tidak. Sungguh maafkan Meme, Nak.

Dan kisah tentang teh yang tumpah, sama sekali tak diceritakan pada Pepenya. Sungguh baiknya hatimu, Nak. Padahal Ruma tak sengaja. Padahal Ruma sudah berkata jujur dengan melaporkan bahwa tehnya tumpah. Padahal Ruma sudah bertanggung jawab dengan mencari tisu di tas Meme dan berusaha membersihkannya.

Dan padahal — kata Pepe setelah tahu semua masalahnya — lantai masih bisa dibersihkan, sementara luka hati anak karena perkataan kasar ibunya, belum tentu bisa dipulihkan. Itu juga yang selalu Meme katakan ketika emosi tidak di puncak. Tapi saat menghadapi realita, hilang semua teori itu. Astaghfirullaah.

PR mulai hari ini, jaga lisan saat anak sedang berulah yang membuat kita tak suka. Jangan sampai terpancing meledak-ledak. Karena sungguh, anak tidak pernah salah meniru. Jangan pernah kau ulangi lagi kejadian malam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s