motherhood, parenting

Untukmu yang Ingin Berhenti Bekerja

Dua hingga tiga dekade lalu, jumlah ibu yang bekerja di sektor publik jauh lebih banyak dari saat ini. Seiring perkembangan zaman yang makin meresahkan, dilihat dari banyaknya kasus ekstrim (pornografi, married by accident, LGBT, dsb) yang mengancam anak-anak kita membuat para ibu tergerak pulang kembali ke rumah untuk mengurus anak-anak mereka dengan tangan mereka sendiri, menjadi madrasah pertama dan utama bagi mereka. Tentu hal ini sangat kita syukuri, karena memang sejatinya peran utama seorang wanita setelah menikah adalah mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga.

Namun terkadang, ada kondisi tidak ideal yang terjadi dalam sebuah keluarga yang membuat seorang ibu belum bisa kembali ke rumah untuk mengurus dan mendidik anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Misalnya, kehilangan suami selaku pencari nafkah utama karena meninggal atau berpisah, suami sedang diuji dengan penyakit sehingga untuk sementara waktu tidak bisa mencari nafkah. Atau seorang ibu yang ingin kembali ke rumah untuk mengurus anak-anak namun terbentur beberapa kendala, seperti: belum mengantongi ridha suami untuk keluar dari pekerjaan, masih harus menanggung keperluan anggota keluarga lain, permintaan kedua orang tua dan mertua, serta aneka rupa alasan lain yang menyulitkan ibu tersebut untuk keluar dari pekerjaan.

Kendala-kendala seperti itu memang cukup menyesakkan dada, mengingat kontrol berada di luar diri sang ibu, sehingga seakan tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja di luar rumah.

Untuk itu saya menulis tulisan ini, supaya ibu-ibu yang galau ingin berkarir di rumah namun terhalang faktor-faktor yang cukup berat bisa bangkit, tidak larut dalam kesedihan dan bisa kembali bersemangat mengejar mimpinya yakni menjadi madrasah utama bagi anak-anak sekaligus manajer rumah tangga yang baik.

Satu: Akui, Terima, Maafkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Salah satu kunci untuk berbahagia adalah dengan menerima kondisi dan diri sendiri apa adanya. Akuilah bahwa sementara ini kita memang masih berstatus sebagai ibu bekerja yang pada waktu tertentu tidak dapat membersamai anak di rumah. Jangan denialterhadap kondisi yang dialami dan berpura-pura menjadi seseorang yang bukan kita. Kemudian, setelah mengakui dan menerima, kita perlu memaafkan diri sendiri dan orang lain yang — mungkin — menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita belum bisa berhenti bekerja. Hilangkan rasa bersalah meninggalkan anak di rumah, karena itu semua bukan keinginan kita.

Dua: Tetapkan Deadline Kapan Akan Berhenti Bekerja

Kalau sudah yakin bahwa kita memang berniat berhenti bekerja, tetapkan deadline tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian saya harus berhenti bekerja. Ini untuk mengukur usaha-usaha apa saja yang akan kita lakukan selama kurun waktu tersebut sehingga pada saat deadline kita sudah punya bekal yang cukup.

Tiga: Berusaha Mencari Alternatif Pekerjaan Lain

Setelah menentukan deadline,mulailah melakukan aksi nyata yang mendekatkan kita pada impian kita untuk bekerja dari dalam rumah. Apalagi kendala-kendala yang disebutkan tadi bermuara pada satu hal, yakni kekhawatiran akan aspek finansial. Maka tidak ada pilihan lain selain mencari alternatif pekerjaan yang sekiranya dapat dilakukan dari dalam rumah. Saat ini, saya kira ada banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan dari dalam rumah, sebutlah itu pedagang baik online maupun offline, penulis, desainer, freelancer, translator, editor, guru les privat, crafter, dsb. Yang terpenting carilah bidang-bidang yang sesuai dengan minat dan keahlian kita.

Yang menjadi pertanyaan, jika kita pun masih bingung apakah bidang yang menjadi keahlian kita, bagaimana? Tenang, pilih saja bidang yang paling kita sukai dan relevan dengan mimpi kita, pelajari, cari guru, dan berlatihlah dengan maksimal sampai menjadi ahli di bidang tersebut.

Dalam melakukan usaha ini, tentu harus dilakukan setiap hari dan tulis di jadwal harian supaya kita terpacu untuk konsisten mengerjakannya hingga tidak melewati batas deadline.

Empat: Tunjukkan Akhlak yang Baik

Memang kendala-kendala yang menyulitkan kita untuk keluar dari pekerjaan adalah dari orang lain, yang kebetulan hubungannya sangat dekat dengan kita. Karena itu, jangan sampai kita menunjukkan akhlak yang buruk pada mereka. Ikhlaslah, tunjukkan akhlak yang baik, jangan lupakan untuk selalu melakukan perbuatan yang mulia pada mereka. Kedepankan prasangka baik, karena bisa jadi merekalah yang menjadi sebab kita meraih keutamaan dari Allah.

Lima: Berdo’a

Allahlah yang Maha Membolak-balikkan hati-hati manusia. Dia yang Maha Berkehendak, maka mohonlah selalu dengan permintaan yang lembut terutama pada waktu-waktu mustajab, rayulah Dia karena apapun yang kita lakukan adalah demi mendapatkan ridhaNya dan memenuhi seruanNya untuk tetap di rumah. Berprasangka baiklah selalu kepadaNya dan jangan sampai putus asa dan bosan memohon kebaikan dariNya.

Enam: Tawakkal

Jika kelima cara tadi sudah kita lakukan, saatnya kita menyerahkan hasilnya pada Allah. Pasrahkan semua pada kehendakNya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan beban yang tidak sanggup kita tanggung. Karena sejatinya Allah yang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi kita, hamba-hambaNya. Tugas kita hanya berdo’a dan berusaha. Urusan hasil, biar Dia yang tentukan. Apapun hasilnya, tetap harus kita syukuri.

Semoga bermanfaat. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.

Diselesaikan pada 13 Juni 2017, sebagai catatan untuk diri sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s