kids, motherhood, parenting, Rumaysa

Rasa yang Berbeda

Di tulisan lalu, saya menulis tentang bagaimana kita sebagai ibu harus bisa menikmati momen-momen saat membersamai anak. Betapa bersama anak dan membersamai anak adalah dua hal yang berbeda. Bahwa seringkali kita sering terjebak pada situasi bersama anak, namun jiwa kita begitu jauh satu sama lain. Inginnya anak bermain bersama, namun fikiran kita melayang ke mana-mana sehingga tidak fokus pada permainan yang sedang kita lakukan bersama anak.

Saya sering sekali mengalami apa yang dinamakan bersama anak, tapi sejatinya tidak membersamai. Jujur, terkadang saya ketika sedang riweuh dengan urusan domestik, berharapnya anak tidur saja dan, jangan ganggu kerjaan Meme! Atau, ketika anak mengajak main sekolah-sekolahan sementara saya dalam kondisi belum beres — belum mandi, belum masak, belum cuci piring, aduh, rasanya pengen bilang: udahlah Nak, Meme belum ngapa-ngapain nih dan ngga bisa terlibat sepenuhnya dengan permainannya. Kadang ngga fokus, sehingga anak jadi ngga mood dan mudah tantrum. Lain waktu saya juga bisa dalam kondisi ngantuk berat sehingga boro-boro bisa fokus menemani, yang ada saya malah ngelindur dan ketiduran.

Kali ini saya akan menceritakan kisah “keberhasilan” mengelola perasaan tidak enjoy saat sedang membersamai anak. Setelah menulis sendiri tulisan ini, rasanya ngga enak ya, kalau tetap jadi ibu yang ngga bisa membersamai anak dengan baik. Berarti saya ngga bisa walk the talk alias cuma omdo dong. Jadi setelah menulis itu, saya niatkan untuk berubah jadi ibu yang lebih fokus dan responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan anak.

Dan Allah langsung menguji saya dengan kejadian tadi pagi. Jadi saya bangun pukul 2.30 untuk mempersiapkan makan sahur. Biasanya Ruma juga ngga bakal bangun tuh, sehingga saya bisa masak dan shalat malam dengan tenang. Tapi tadi pagi, sudahlah bangunnya terlambat 30 menit dari yang saya rencanakan, eh bocil malah bangun lagi. Pinginnya sih ngamuk ya, ini anak biasanya bobo kok jam segini malah ikutan bangun sih tapi ngga mungkinlah saya bilang seperti itu. Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya ke dapur saja dengan digendong jarik — fyuh, anak 3.5 tahun digendong jarik, boyok oh boyok.

Ternyata, begitu saya mengambil beras untuk dimasak, Ruma minta turun dan minta dia yang menakar berasnya. Oke deh. Berusaha untuk ngga komentar apapun selain menyanggupinya. Lagian juga daripada digendong terus, pegel kan. Akhirnya Ruma yang menakar beras dan memasukkan ke wadah nasi.

Setelah itu, Ruma minta ditemani tidur-tiduran. Tapi saya bilang ngga bisa, karena saya harus masak untuk sahur. Akhirnya saya mengalah. Ruma juga mengalah sih. Saya meracik bahan di dekat kasur tempat dia tidur. Ngga diduga ternyata dia ingin ikut memotong-motong sayurnya. Oke monggo. Saya persilakan dia memotong-motong terung hijau. Berikutnya, setelah semua bahan siap, Ruma juga tertarik ikut memasak. Lalu dia mengambil meja kecil supaya bisa ikut memasak di dapur. Oke, saya iyakan pula permintaannya kali ini. Tugas Ruma adalah memasukkan sayur-sayuran ke panci, memasukkan santan, memasukkan garam dan mengaduk-aduk sayur hingga santan mendidih. Semua pekerjaan itu dilakukannya dengan baik dengan sedikit bantuan dari saya. Selanjutnya Ruma juga tertarik untuk ikut menggoreng telur. Dia bertugas membalik adonan dan mengeluarkannya dari penggorengan setelah matang. Awalnya agak takut terpercik minyak panas, namun akhirnya dia menjadi lebih berani.

Setelah sesi memasak berakhir, Ruma terlihat sangat bangga. Dia berkata, “Yee, enak lho, Me, masakan aku. Kalau masakan Meme ngga enak.” Wis ngga papa nduk, asal kamu seneng dan enjoy membantu Meme

Berkat bantuan Ruma, saya malah jadi ngga terlalu keteteran. Masih bisa shalat malam dan cuci piring. Coba kalau Ruma ngga ikut masak, saya pasti masih sibuk mengaduk sayuran plus menggoreng sendirian yang pastinya bikin shalat terburu-buru dan terpaksa menunda cuci piring setelah shalat Subuh. Oh ya, melihat saya shalat malam, Ruma pun ikut-ikutan shalat malam loh. Alhamdulillah.

Ternyata, dengan menghadirkan rasa yang berbeda saat membersamai anak, hasilnya bahkan jauh lebih positif. Biasanya sih saya juga cukup sering masak-masakan bersama Ruma, tapi saya hanya memberi sedikit perhatian padanya ditambah gerutuan-gerutuan dalam hati. Pantas saja hasilnya ngga oke ya.

Jadi rahasianya, ikhlaskan hati saat membersamai anak. Curahkan cukup perhatian padanya. Jangan banyak ngedumel saat anak sedang menunjukkan kreativitasnya. Insya Allah, hasilnya bahkan lebih dari yang kita harapkan.

Tetap semangat membersamai anak, ya Bu.

Yogyakarta, 15 Juni 2017, sebuah catatan untuk anakku

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s