Anak dan Bangun Pagi

51f701068edc2e57e3a7384b7ba9d61d

Anak-anak dan bangun pagi adalah dua hal yang sulit disatukan, setidaknya begitu menurut pengalaman saya dan anak berusia hampir 4 tahun itu. Saya sempat bingung, besok Ruma mudah dibangunkan tidak ya, untuk shalat Subuh? Padahal usianya sebentar lagi 7 tahun — masih 3 tahun lagi sih, yang mana saya harus lebih mendisiplinkan shalatnya. Selama ini pelaksanaan shalat yang paling menantang adalah shalat Subuh, karena yaa ituu, belum bangun. Dan saya pun malah seakan menikmati tidur si bocah di waktu pagi, karena kesempatan mengerjakan pekerjaan domestik lebih tenang, karena kesempatan main hape lebih lama, hehe bukan untuk ditiru ya.

Saya penasaran dengan ibu-ibu lain, apakah anak-anaknya mudah dibangunkan atau tidak? Apakah ibu-ibu itu juga membiarkan anaknya tidur lama-lama dan hanya membangunkannya jika si anak akan berangkat sekolah — seperti saya, ataukah mereka sibuk membangunkan anaknya, mengajarkan keutamaan bangun pagi, bahkan meneladankan kepada mereka shalat Subuh? Ternyata ada banyaaak sekali ibu-ibu yang sudah bersedia repot-repot membangunkan putra-putrinya begitu Subuh tiba. Mereka rela meninggalkan kenikmatan bergumul dengan pekerjaan rumah ketika anak masih tidur dengan membangunkan mereka di pagi hari berikut konsekuensi tidak lagi bisa melanjutkan pekerjaannya karena si anak sudah bangun.

Sebenarnya bukan repot, karena pada dasarnya, anak-anak itu sudah ter-install fitrah kebaikan. Kita tentu ingat, bayi-bayi newborn yang selalu terbangun di sepertiga malam, seakan mengingatkan kita untuk bertahajud. Namun kita yang malah sibuk untuk menidurkannya lagi karena merasa terganggu dengan tangisan mereka. Kitalah yang membiasakan mereka untuk bangun ketika matahari mulai terik. Dan kini ketika mereka beranjak besar, kita menganggap mereka yang sulit dibangunkan. Jadi salah siapa?

Saya sadar saya harus berbenah. Sedikit banyak sayalah yang membiasakan kebiasaan buruk itu. Saya yang menikmati anak-anak yang masih tidur ketika Subuh tiba. Maka saya harus berubah. Jangan sampai kebiasaan bangun siang itu terus berlanjut. Jangan sampai anak hanya bangun saat tiba waktu sekolah, sementara kewajiban yang jauh lebih penting yakni shalat Subuh, malah tertinggalkan.

Ada beberapa tips supaya anak rajin bangun pagi, tidak tertinggal shalat Subuh, tanpa menangis, ngamuk dan tantrum.

Satu, konsisten dengan pengaturan waktu

Kunci utama agar anak mudah dibangunkan di pagi hari adalah disiplin mengatur waktu anak, terutama waktu tidur malamnya. Jika ingin anak bisa bangun ketika azan Subuh berkumandang — saat ini di Jogja pukul 4.30, adalah membiasakan mereka tidur malam tidak terlalu larut. Maksimal pukul 20.00 anak-anak sudah harus terlelap. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah kecukupan jam tidurnya dalam sehari, termasuk tidur siang. Idealnya untuk balita (3 – 5 tahun) adalah 10-13 jam dan untuk anak 6 – 13 tahun adalah 9-11 jam. Jadi, jadwalkan anak untuk tidur siang dan batasi jam tidur malam agar tidak lebih dari pukul 20.00. Kita juga perlu mengatur aktivitas anak, yakni tidak ada aktivitas fisik yang berlebihan sebelum tidur.

Dua, briefing malam sebelumnya

Sebelum membangunkan anak di pagi hari, kita harus memberitahukan rencana kita kepada mereka, supaya mereka tidak kaget saat kita bangunkan. Alih-alih bangun pagi dengan riang gembira, mereka justru ngamuk kalau kita bangunkan tanpa bilang-bilang sebelumnya.

Tiga, lakukan bedtime routine

Sebelum anak tidur, kita perlu membiasakan rutinitas yang menyenangkan. Seperti bersih-bersih diri (cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi, ganti pakaian), tidak mengajak anak beraktivitas fisik berlebihan yang akan menguras tenaganya sehingga ia akan lebih sulit tidur. Biasakan aktivitas tenang, seperti membacakan buku, menceritakan kisah, berdo’a bersama. Saat-saat sebelum tidur juga saat krusial untuk mendekatkan hubungan orang tua dan anak. Kita bisa memeluk, membelai-belai kepala dan lengannya, mengecup keningnya. Namun tak jarang kita pun ikut ketiduran.

Empat, atur waktu melakukan pekerjaan rumah

Tips ini untuk ibu-ibu yang malah menikmati waktu tidur anak di pagi hari supaya bisa fokus melakukan pekerjaan rumah. Jadi begini, ibu-ibu. Kita kan ngga hidup untuk mengerjakan kerjaan rumah saja to? Semua ada waktunya, dan kita pun perlu waktu untuk melakukan hal lain, bahkan hal yang jauh lebih penting, yakni mendidik anak, mengajarkan keutamaan bangun pagi, meneladankan untuk shalat Subuh awal waktu, sehingga kita perlu kompromi dengan pekerjaan rumah yang mana merupakan rutinitas harian. Sebaiknya kita memang membuat jadwal harian, nanti pekerjaan rumah dimasukkan ke dalam waktu-waktu yang sudah kita sediakan itu.

Lima, bangunkan anak dengan lembut

Saat membangunkan anak, gunakan dengan suara dan belaian lembut. Kita kecup pipinya, katakan, “Bangun nak, sudah Subuh.” Lalu usap-usap kepalanya. Jika belum bangun juga, kita gelitiki kakinya pelan-pelan. Berikan mereka cukup waktu sampai nyawanya terkumpul. Kita sendiri butuh waktu kan, dari bangun tidur sampai benar-benar terjaga? Kalau anak saya, punya alarm favorit di hape saya yang manjur digunakan untuk membangunkannya. Jadi ketika sudah waktunya Subuh, saya cukup membunyikan alarm itu di dekat kepalanya, insya Allah Ruma sudah paham lalu mengatakan, “Bangun pagi ya, Me.”

Enam, bersamai anak saat terjaga

Saat anak-anak sudah bangun, inilah waktu kita bersama mereka! Jangan sampai ketika mereka sudah bangun pagi, mereka malah melihat kita masih sibuk dengan aneka pekerjaan rumah yang ngga habis-habis itu. Kita bisa beraktivitas fisik bersama, jalan pagi, jogging, bersepeda, main ke taman. Dengan aktivitas fisik seperti itu, insya Allah rasa mager pada anak akan hilang dan mereka menjadi lebih bersemangat menghadapi hari. Bonusnya, kita pun makin sehat dan langsing.

Nah, itu saja tips supaya anak bisa bangun pagi tanpa menangis, ngamuk dan tantrum. Semoga bermanfaat ya. Kalau ibu-ibu, punya tips apa lagi? Boleh banget dibagi di sini 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Anak dan Bangun Pagi

  1. Anak saya (kelas 3 dan kelas 7), Alhamdulillah sudah terbiasa bangun Subuh, Mbak. Kuncinya memang kebiasaan. Jika sejak dini diajari, Insya Allah nggak akan susah waktu sekolah. Juga, jangan dibedakan antara hari libur dan sekolah biar kebiasaannya nggak berubah. Btw, salam kenal ya Mbak…Thanks for sharing 🙂

    Like

    1. Salam kenal juga Mba Dian, terima kasih sudah mampir di sini. Iya betul Mba, kuncinya memang pembiasaan dari orang tua ya. Sip Mba, kalau bangun paginya cuma hari sekolah nanti kitanya yang susah deh tiap habis liburan sekolah 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s