motherhood

Tentang Kewarasan Seorang Ibu

Gambar dari Pinterest

Dunia Facebook pekan lalu diramaikan oleh posting-an seorang ibu yang membagikan beberapa tips survive bersama dua balita tanpa ART atau babysitter, yang mana tips tersebut dirasa sangat mewakili jutaan ibu-ibu lain sehingga menjadi viral.

Apa saja tipsnya? Di antaranya yang paling saya ingat adalah : ngga perlu selalu beberes atau bersih-bersih rumah karena buat apa juga, nanti juga bakal diberantakin lagi sama krucil, ngga perlu masak karena toh ada katering atau Go Food, sering-sering menemani anak nonton TV karena kalau nontonnya di hape terus layarnya kekecilan (cuma inget 3 tips padahal yang dijembreng kayaknya ada 10-an).

Tu kaan, mewakili banget, secara tips yang di-post enak-enak banget dan seakan “membebaskan” ibu dari tanggung jawab sebagai pengurus rumah tangga dan pendidik utama anak.

Sontak posting-an tersebut juga memicu pro dan kontra. Bahkan ada tulisan tandingan yang mementahkan hampir semua tips yang dipaparkan ibu tadi. Intinya seorang ibu itu harus benar-benar bersungguh-sungguh terhadap pekerjaan yang diamanahkan padanya, termasuk beberes rumah, memasak dan mendidik anak tanpa menyerahkan pengasuhan pada televisi. Tulisan ini juga cukup ramai di-share sehingga hampir-hampir menjadi mom war layaknya ASI vs sufor, working mom vs full time mommy etc.

Terhadap dua tulisan itu, jujur sikap saya di tengah-tengah ya. Terhadap ibu yang sebegitu “abai”nya dalam pengurusan rumah dan pengasuhan anak jelas saya ngga ingin bersikap seperti itu, tapi kalau harus ngoyo berusaha mengerjakan semua-muanya, perfect, rumah kinclong setiap saat, masak menu lengkap setiap hari dan alergi dengan makan di luar, cucian setrikaan ngga pernah numpuk karena selalu dikerjakan setiap hari tanpa sedikitpun mau dibantu laundry, ya jujur saja ngga sanggup hehe.

Jadi sebenarnya, tugas utama seorang ibu itu apa sih? Iya, melayani dan berkhidmat pada suami, mendidik dan membersamai anak, serta mengurus rumah tangga. Lakukan tugas-tugas itu dengan sungguh-sungguh dan seprofesional mungkin.

Paling enak sih dengan membuat jadwal harian dan kandang waktu, jadi mulailah menentukan prioritas berdasarkan urgensi dan kepentingan. Untuk kegiatan penting dan mendesak, seperti beribadah, melayani suami, segala tetek-bengek kebutuhan anak yang tidak bisa didelegasikan, maka lakukan sebaik-baiknya. Namun untuk kegiatan penting namun tidak mendesak, bisa dibuat dan dijadwalkan waktu-waktu pengerjaannya, misal bermain dan belajar bersama anak, memasak, beres-beres rumah. Untuk kegiatan tidak penting namun mendesak, bisa didelegasikan, atau berbagi tugas dengan suami, ini seperti cuci setrika. Nah, kalau kegiatan tidak penting dan tidak mendesak baiknya sih dihilangkan ya, seperti skroling medsos, buka-buka Whatsapp grup dan terlibat obrolan tidak penting. Atau boleh dilakukan, asal anak sedang tidur dan tugas sudah beres dikerjakan.

Kalau tips waras dari saya :

  1. Membuat rencana atau jadwal harian;
  2. Komitmen dan konsisten dengan jadwal yang dibuat.

Intinya, semua ada waktunya. Kalau sudah waktunya bermain dan belajar bersama anak, ya tinggalkan dulu kegiatan domestik — selesai ngga selesai. Nanti tiba waktunya domestikan, baru kerjakan lagi.

Kalau tips waras dari psikolog Lita Edia, keren banget nih. Dengan tidak iri dengan keadaan ibu-ibu lain. Karena setiap ibu punya tantangan sendiri-sendiri yang kalau kita disuruh bertukar episode kehidupan dengan ibu yang kita irikan itu, belum tentu sanggup menjalaninya.

Jadi sesama ibu ngga perlu saling men-judge dan menganggap dirinya paling baik dalam pengurusan anak dan rumah tangga lah. Kerjakan saja tugas kita sebaik-baiknya.

Oke deh begitu saja. Kayaknya belibet banget saya nulisnya. Mohon maaf kalau kurang nyambung hehe. Jadi, apa nih tips waras dari ibu-ibu di sini?

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Kewarasan Seorang Ibu”

    1. Terima kasih tambahan tipsnya Mbak. Iya bersyukur itu ampuh banget supaya berbahagia. Nanti ketika sewaktu-waktu yang kita miliki itu diambil Allah, baru deh menyesal kenapa dulu nggak bersyukur.

      Matur nuwun tanggapannya Mbak 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s