parenting

Tentang Bully-Membully

d53fc98e0bbb7202d21a53d81d037bf4.jpg
Gambar dari Pinterest

Posting-an satu teman di Facebook menginspirasi saya menulis ini. Tentang bullying. Tampaknya bullying yang terjadi dewasa ini semakin sadis ya. Saya sih belum lihat videonya sama sekali karena malas menjelajahi Facebook. Bukannya apa-apa, ujung-ujungnya timeline scrolling. Hehe ceritanya lagi meminimalisir kegiatan kurang penting itu.

Baca: Timeline Scrolling??

Jaman sekolah dulu, saya sudah sering melihat orang di-bully. Pernah pula menjadi korban bully, bahkan oleh kerabat sendiri. Memang bukan physical bullying, namun efek verbal bullying yang dilakukannya cukup membekas. Saya tumbuh menjadi anak dengan percaya diri rendah, pun dengan self esteem yang sama rendahnya. Sempat pula menjadi anak pembangkang yang merasa “gaul” kalau sudah bisa melawan orang tua. Maafin saya ya, Pak, Bu. Alhamdulillah terkait jiwa rebel yang notabene sebagai pembuktian “kegaulan” ini, kini sudah hilang sama sekali. Mungkin karena sudah emak-emak ya, masak ya mau sok gaul terus? Malah kini saya nyaman dengan sisi introvert dalam diri saya.

Kalau ingat bullying jaman sekolah, ada hal yang saya sesali dalam diri saya. Apa? Bahwa saya tidak sadar kalau itu semua adalah bullying. Ada teman yang dijauhi, saya malah ikut menjauhi dan membicarakan keburukan orang itu. Bahkan rasanya malu berteman dengan orang-orang yang “dikucilkan.” Padahal saya bukan orang yang gaul-gaul amat juga. Teman juga itu-itu mulu. Ada teman yang ditertawakan karena agak “aneh,” saya ikut menikmati lelucon itu sampai terpingkal-pingkal.

Padahal, kerap pula saya yang jadi bahan tertawaan karena — duluu sekali, saya tipikal lawak, konyol, nyablak, odong-odong lah pokoknya, dan cilakanya, saya begitu menikmati kekonyolan itu. Kalau sekarang mah, maluu banget. Saya yang sekarang benar-benar berbeda, begitu pendiam dan pemikir saya rasa.

Kalau saja saya dulu punya kepercayaan diri yang tinggi, saya rasa nggak akan ikut-ikutan aksi bullying, bahkan bisa menjadi pelopor supaya teman-teman nggak melakukan itu. Nggak ikut arus lah intinya. Hiks sedih deh kalau ingat masa-masa itu. Masa yang bisanya cuma ikut-ikutan. Merasa gaul kalau punya teman banyak, jarang di rumah, melawan orang tua, menghina teman-teman yang fisiknya “kurang.” Astaghfirullah. Semoga Allah ampuni saya.

Dan karena kini saya sudah menjadi seorang ibu, saya akan berusaha supaya anak saya menjadi anak yang berakhlak baik.

Baca : Akhlak Utama

Yang lisannya terjaga. Tidak suka menghina orang lain. Tidak ikut-ikutan menjauhi teman yang dijauhi, bahkan malah berteman dengan orang yang “dikucilkan”, tapi bukan yang dikucilkan karena “nakal” dan trouble maker lho. Mungkin karena fisik yang kurang sempurna, orang tua yang kurang berada, berasal dari daerah terpencil, dsb.

Bagaimana cara membentuk anak yang berakhlak mulia? Tentu tidak bisa hanya dengan perintah, larangan, nasihat. Melainkan meneladankan akhlak yang mulia. Anak bisa salah mendengar, namun tidak bisa salah meng-copy. Maka saya harus jadi role model yang baik baginya. Dengan tidak membicarakan keburukan orang lain di depan anak, tidak berbohong di depan anak, tidak menghina orang lain di depan anak, tidak berkata kasar di depan anak, tidak marah-marah di depan anak. Sungguh PR berat. Karena saya ya masih begini-begini saja.

Selain itu, untuk menjaga agar anak tidak di-bully  maupun mem-bully orang lain, anak harus ditumbuhkan rasa percaya dirinya, supaya tidak minder meski di-bully, dan tidak ikut arus teman-teman yang suka mem-bully. Caranya bagaimana? Menurut Ustadz Fauzil Adhim dalam “Positive Parenting,” untuk menumbuhkan percaya diri anak adalah dengan menanamkan sejak dini bahwa semua orang itu derajatnya sama di sisi Allah, yang membedakan hanya iman dan takwanya. Lebih dari itu, anak juga perlu dibangkitkan dengan tingkat percaya diri tertinggi, yakni beyond self confidence, pasca percaya diri, sehingga mampu menyadari bahwa dalam dirinya ada amanah untuk berbuat, yakni bermanfaat bagi agama dan masyarakat.

Semoga ibumu ini dimampukan menjadi teladan terbaik bagimu ya, Nak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s