Rahasia Kecil untuk Berbahagia

533d22e1bb92f280173e36bf5538e911--happy-happy-happy-happy-girls
Gambar dari Pinterest

Seorang ibu baru saja bisa bernafas lega. Putri kecilnya akhirnya tertidur juga. Hampir satu jam ia berusaha menidurkan bocah yang sedang aktif-aktifnya itu. Lima buku anak tergeletak tak jauh dari tempat tidur mereka. Ya, sepanjang waktu itu ia telah mengolahragakan mulutnya untuk membacakan buku sebelum putrinya itu pulas tertidur. Berharap kelak putrinya akan menjadi kutubuku juga seperti dirinya.

Ibu itu baru saja bernafas lega. Fikirnya, ah pasti tumpukan setrikaan di kamar sebelah itu bisa beres siang ini. Mengingat sepagian tadi ia dan putrinya baru saja selesai kerja bakti membereskan rumah mungil mereka, juga memasakkan makanan kesukaan suaminya. Ya, pasti beres. Tumpukan setrikaannya juga tak menggunung-menggunung amat kok. Hanya satu batch jemuran kemarin lusa.

Namun, mendadak jari-jemari si ibu merogoh-rogoh kolong tempat tidurnya. Mencari sesuatu. Apakah itu? Anda tentu bisa menebaknya. Dan, usai memeriksa benda tersebut, mendadak beragam to-do list yang sudah rapi tersusun di otaknya, tak lagi menarik untuk dirampungkan. Buyar semua. Ya, ibu itu jauh lebih tertarik untuk stalking medsos di ponselnya. Berkelana dari satu medsos ke medsos lain. Mengorek-orek postingan satu orang, beralih ke orang lain. Usai scrolling timeline Facebook yang seakan tak ada ujungnya itu, lanjut buka Instagram yang, sama, tak ada habisnya itu lini masa. Belum lagi Path. Juga beberapa grup WhatsApp parenting yang ia ikuti. Ia tepekur lama. Tak melakukan apa-apa. Menulis sehurufpun tidak. Ia hanya menonton. Silent reader.

Tiba-tiba, seakan baru lima menit berlalu padahal waktu sudah habis dua jam, putri kecilnya bergerak-gerak. Terbangun. Dan ibu itu belum bergeser sedikit pun dari posisinya. Menyesallah ia karena telah menyia-nyiakan me-time yang cukup panjang untuk hal tak berguna. Apalagi hal itu menyisakan perasaan tak enak di hatinya. Perasaan yang tak dipahaminya. Selain juga rasa benci pada diri sendiri akibat gagal merampungkan berbagai urusan domestik yang tadi telah direncanakannya.

Akrabkah kita dengan situasi di atas? Memang ya, bikin nyesel dan nyesek. Me-time ketika anak tidur jauh lebih baik jika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Baca buku inspiratif, membuat tulisan yang membuat hidup kita lebih produktif, atau tentu saja, mengerjakan beragam tugas domestik yang seakan tak berujung itu.

Lho, memangnya main sosmed tidak bermanfaat ya? Bermanfaat juga sih, kalau sosmednya dipakai buat update status yang menginspirasi, posting jualan produk – yang tentu berharapnya bisa closing :P, cari-cari ide buat bebikinan mainan DIY anak, browsing resep kue favorit suami dan anak-anak, dan sebagainya intinya yang berguna buat hidup kita.

Lhah, kalau sosmednya cuma dipakai buat stalking? Kadang memang kita nggak sengaja alias nggak meniatkan diri untuk stalking ya. Niat hati sih pengen A, kok kejadiannya malah B. Seperti ini misalnya.

Niat hati buka IG buat nyari ide bikin sandpaper letter buat bahan belajarnya si Kakak, belum juga nemu yang dicari malah sudah ketemu akun teman yang jago dan rajin banget bikin-mikinimainan DIY buat anaknya. Lalu ujung-ujungnya jadi bete, merasa lemah tak berdaya, da aku mah apa atuh, udah seharian pula di rumah sama anak, kegiatannya selalu berujung main air lagi, main air lagi. Kadang pula tak berkegiatan sama sekali. Hihihi.

Atau, lagi browsing resep fudgie brownies yang sepertinya yummy itu, ndilalah ketemunya blog teman yang memang juara baking dan foto-foto yang diposting di Instagramnya adalah foto makanan yang menerbitkan liur siapapun yang melihatnya. Mulai deh, banding-bandingin sama diri sendiri yang bisa masak makanan bergizi plus anak bebas GTM saja sudah prestasi. Duh duh, kok jadi istri nggak becus masak banget sih? Kasian amat ya suamiku dapat istri dengan kemampuan masak ala kadarnya gini. Hiks hiks.

Nah, kalau kejadian-kejadian yang kurang lebih mirip sama cerita di atas pernah mampir di fikiran kita, hati-hati, bisa jadi kita terkena yang dinamakan Social Media Envy atau disebut juga Facebook Envy yang pernah saya baca di salah satu tulisan dari mommiesdaily.com berjudul “Dilarang Memperhatikan Piring Orang Lain.” Facebook envy adalah perasaan negatif yang tiba-tiba muncul saat membuka Facebook, dalam hal ini adalah perasaan envy alias iri dengki gitu deh.

Meskipun kesannya remeh, kebiasaan ini jika diteruskan bisa menggerogoti kebahagiaan hidup kita lho. Hidup makin jauh dari rasa syukur. Rasanya rumput tetangga jauh lebih hijau. Hidup orang lain selalu jauh lebih enak dari hidup kita. Efeknya, tingkat kepuasan hidup menurun drastis bahkan nyaris level nol. Padahal hidup kita sudah lengkap. Suami, punya. Anak, sudah beberapa. Rumah — meskipun masih ngontrak, ya seenggaknya sudah menyelamatkan kita dari panasnya mentari dan dinginnya hujan kan.

Seandainya pandangan kita ubah. Nggak perlulah terlalu dalam mengorek-orek kehidupan orang lain. Fokus dengan hidup yang kita jalani sendiri. Bersyukur dengan semua karunia yang Allah berikan kepada kita. Pasti dan selalu ada alasan untuk bersyukur. Kalau kita merasa suami kurang romantis, tapi pasti beliau setia. Kalau kita merasa belum bisa melakukan apa-apa untuk menyenangkan hati anak-anak, yakinlah bahwa kitalah yang paling mereka inginkan dalam hidup ini.

Lagipula, apa yang mereka tampilkan di dunia maya itu, aslinya tidak seindah yang kita bayangkan lho. Kita tentu pernah bukan, jika berniat posting sesuatu di medsos, pasti berusaha habis-habisan mencari gambar terbaik untuk ditampilkan. Blur sedikit, foto lagi. Ada gangguan, terus kita ulangi sampai yakin didapat gambar terbaik yang kira-kira bisa meng-impress orang lain. Nah, tentu orang-orang yang kita envy-kan posting-annya di dunia maya juga begitu. Nggak usah serius-serius amat envy-nya lah.

Namun, kalau cara-cara menghilangkan perasaan negatif yang berujung pada ketidakbahagiaan hidup itu masih belum berhasil, mungkin sudah saatnya kita logout dari semua medsos yang bikin envy tadi. Kalau perlu uninstall saja sekalian dari ponsel. Biar tangan tidak gatal untuk membuka dan membukanya lagi. For me, it works. Saya merasa lebih puas dan bahagia dalam hidup ini tanpa sering stalking atau kepo dengan kehidupan orang lain.

Advertisements

7 thoughts on “Rahasia Kecil untuk Berbahagia

  1. hahaha..kepo ujung-ujungnya baper..minder..lanjut merasa diri orang paling tak beruntung sedunia. Setuju Mbak, mendingan kita kurangi aja aplikasi di ponsel. Kalo ngga terinstall otomatis ngga bakal ngepoin orang kan yaak! Btw, trims dah berbagi hal positif 🙂

    Like

    1. betul Mbak, saya juga aplikasi ponsel sering-sering clear data, maklum memori ponsel gampang penuh. tapi hikmahnya jadi nggak perlu sering-sering ngecek sosmed yang ujung-ujungnya bikin baper hihihi

      terima kasih sudah mampir di rumah saya Mbak 🙂

      Like

  2. Barangkali hidup yang sedang kita sesali dan keluhkan ternyata adalah kehidupan yang sedang diimpikan orang lain… Terima kasih sudah berbagi…salam kenal mbak…:)

    Like

    1. Iya Mbak, karena kehidupan itu sawang-sinawang ya, padahal kalau kita benar-benar bisa bertukar episode kehidupan dengan orang lain belum tentu kita sanggup menjalaninya. Kita hanya bisa tahu bagaimana rasanya setelah menjalani.

      Sama-sama Mbak. Terima kasih sudah mampir dan menanggapi di sini. Salam kenal juga Mbak 🙂

      Like

  3. Bersyukur dg apa yg dimiliki akan melegakan hati yaa Mbak.. Rumput tetangga selalu lebih hijau, padahal mungkin sama itu rumput sintetis..terima kasih sharingnya mbak, Indah sekali♥

    Like

    1. Betul Mbak, rahasia kebahagiaan adalah rasa syukur, karena Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hambaNya.

      Terima kasih Mbak Indira sudah mampir dan berkomentar di sini, salam kenal dari saya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s