Sebelum Mengharap Bakti Mereka

Bismillah.

Saya menulis sambil menatap wajah anak yang tidur pulas di samping saya.

Orang tua mana yang tak ingin anak-anaknya kelak tumbuh menjadi anak yang shalih lagi berbakti kepada mereka. Anak-anak yang ketika orang tuanya masih sehat, selalu mematuhi perintah mereka, tidak suka membantah, tidak membangkang. Anak-anak yang ketika orang tuanya mulai menua selalu berlaku lemah lembut pada mereka. Anak-anak yang ketika orang tuanya mulai sakit-sakitan bersedia merawat dan melayani sepenuh hati keperluan mereka. Anak-anak yang ketika orang tuanya telah tiada tak henti-henti berdo’a memohonkan ampunan untuk mereka. Lebih dari itu, mereka juga shalih. Karena hanya anak shalih dan mendo’akan saja yang bisa menjadi syafa’at amal jariyah orang tua jika mereka sudah berkalang tanah.

Percayalah, setelah kita menua, yang lebih kita butuhkan adalah anak-anak yang baik dan mulia akhlaknya kepada kedua orang tuanya. Bukan hanya anak-anak yang pandai mencari uang dan sukses secara finansial namun melupakan adab kepada orang-orang yang telah membesarkan mereka. Sudah banyak terjadi anak yang ketika hidupnya sukses lalu melupakan kedua orang tuanya, disibukkan dengan keluarga baru mereka juga mengejar ambisi pribadi. Tentu kita sebagai orang tua tidak ingin begitu kan?

Namun kita sering terlupa. Ternyata kitalah penyebab anak-anak itu sulit berbakti.

Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda,

Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya. (HR Ibu Abi Syaibah, dalam Al Mushannaf 8/357)

Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana cara membantu untuk berbakti, ya Rasulallaah?”

Maka jawab Rasul, “Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya dan tidak memakinya.”

Mari kita kupas satu per satu empat poin tersebut.

1) Menerima yang sedikit

Di era medsos seperti saat ini, banyak cara yang membuat orang tua bisa menampilkan bentuk terbaik dari putra-putri mereka. Entah itu hafalan Qur’annya, akhlaknya mulianya, celotehan lucunya, prestasi akademik maupun non akademik yang diraihnya, dsb. yang terkadang hal tersebut membuat sebagian orang tua yang tidak memiliki anak dengan kelebihan-kelebihan yang ditampilkan tersebut merasa berkecil hati.

Padahal, andai kita sebagai orang tua mengubah sudut pandang. Terima anak apa adanya. Terima kelebihannya, meski sedikit, jika kita menerima dengan tulus, akan melejitkan potensi mereka yang sebenarnya. Akui keunggulan anak yang mungkin bagi kita tidak sebanyak yang dimiliki anak lain. Bukankah tidak ada yang sia-sia dari setiap penciptaan Allah? Jika kita menerima kelebihan dan kekurangan anak dengan hangat dan tulus, yang sedikit itu niscaya akan menjadi kekuatan dahsyat.

2) Memaafkan yang menyulitkan

Terkadang tingkah anak-anak itu begitu aktif, kreatif, bahkan cenderung agresif. Rumah kita kadang menjadi sasaran kreativitasnya sehingga tampak tak pernah rapi akibat eksplorasi mereka. Jika kita tidak bisa berlapang dada menerima tingkah mereka, hanya memarahi tanpa mengarahkan dan memanfaatkan momen tumbuh kembang anak, bukan tidak mungkin daya kreativitas dan inovasi mereka bisa mati.

Kadang kita juga sebal dengan kecerewetan anak yang selalu bertanya macam-macam, padahal mereka hanya ingin memuaskan rasa keingintahuannya yang bermanfaat untuk masa depannya kelak. Alih-alih menjawab pertanyaan-pertanyaan anak dengan sabar, lemah lembut dan sungguh-sungguh, kita malah seakan mengerem mulutnya agar tidak bertanya lagi. Padahal salah satu ciri anak cerdas adalah banyak bertanya, bukan hanya pandai menjawab. Jika hal ini dibiarkan, rasa ingin tahu anak lama-kelamaan akan menurun, bersamaan dengan minat belajar mereka.

3) Tidak membebani

Kita tentu ingin kehidupan anak kelak lebih baik dari mereka. Untuk itu kita lantas membebani anak dengan aneka tetek bengek urusan akademik yang diklaim bisa mencerahkan masa depan anak di kemudian hari. Anak-anak itu sejak kecil disibukkan dengan bimbel, les-les, semata agar bisa meraih peringkat pertama di sekolah, atau nilai tertinggi dalam ujian.

Ada pula orang tua yang menitipkan mimpi mereka pada anak-anaknya. Mungkin di masa lalu kita gagal meraih cita-cita tertentu, lantas di masa depan kita ingin anak-anak mewujudkan mimpi yang belum berhasil kita raih. Padahal belum tentu anak kita menyukai bidang yang kita pilih. Begitulah jika cinta dunia dan takut mati lebih menguasai hati, sehingga kita jadikan anak-anak kita memikul beban yang tidak seharusnya mereka pikul. Bukan tidak mungkin mereka malah mengalamai stress dan depresi.

4) Tidak memaki

Anak yang dibesarkan dengan caci maki, akan belajar rendah diri. Sementara anak yang dibesarkan dengan hinaan, akan belajar menyesali diri. Begitu menurut Dorothy Law Nolte. Anak yang dibesarkan dengan caci maki juga akan belajar mengobarkan permusuhan, sehingga sulit menumbuhkan persahabatan dan penghormatan. Termasuk kepada kedua orang tuanya. Tentu kita tidak ingin anak menjadi seperti itu.

Dari empat poin di atas, semua bermuara pada penerimaan yang tulus (genuine acceptance) dari orang tua terhadap anak-anaknya. Tanpa penerimaan yang tulus dari orang tua, anak akan kesulitan menumbuhkan penerimaan diri (self acceptance). Padahal, penerimaan diri akan menumbuhkan sense of competence pada diri mereka.

Tahukah akibatnya jika anak kita tidak memiliki sense of competence pada dirinya? Mereka tidak berani berinisiatif, membuat perubahan, selalu ragu dalam bertindak, tidak maksimal dalam berfikir dan takut menghadapi tantangan. Pendeknya, menjadi manusia kerdil. Semua itu karena mereka tidak sadar bahwa dirinya memiliki kelebihan atau keunggulan. Padahal, seperti yang saya sebutkan di awal, bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap penciptaan Allah.

Dengan sense of competence yang baik, anak akan menyadari kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Menyadari kekurangan akan membuat mereka lebih tawadhu’ dan sadar posisi mereka sebagai hamba Allah. Sementara menyadari kelebihan akan membuat mereka bersyukur atas segala nikmat dari Allah sekaligus membuat mereka terpacu untuk mengembangkan kelebihan demi kemanfaatan umat. Jika sense of competence anak tumbuh sempurna, mereka selalu berfikir bagaimana berbuat yang terbaik untuk manusia. Nah, jika terhadap seluruh manusia saja anak ingin berbuat yang terbaik, apatah lagi terhadap kedua orang tuanya yang merupakan penyebab keberadaannya di dunia ini?

Maka, sebagai orang tua, sebelum mengharapkan bakti anak-anak, kitalah yang harus lebih dulu membantu dan mengarahkan mereka supaya mudah berbakti.

Gambar dari Pinterest

Semoga Allah mudahkan kita menjadi orang tua yang demikian.

Diolah dari tulisan Muhammad Fauzil Adhim dalam “Saat Berharga untuk Anak Kita” (buku) dan sebagian tulisan Izzat Iwadh Khalifah dalam Maka, Ajari Kami Cinta (e-book)

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Sebelum Mengharap Bakti Mereka

  1. Berbuat baik pada anak kita sebelum mengharap bakti mereka. Saya suka sharingnya Mbak:) Ada saudara dekat saya, dulunya kurang peduli pada anak-anaknya, cuek, padahal berkecukupan. Akhirnya sekarang saat berusia senja, anak-anaknya ternyata menjauh, kurang perhatian padahal sudah hidup mapan. Kasihan…

    Like

    1. Iya mbak, di hari akhir nanti orang tua dulu yang akan ditanya bagaimana mereka mendidik anak-anaknya terlebih dahulu daripada anak-anak yang ditanya bagaimana mereka memperlakukan orang tuanya. Jangan sampai kita menganggap anak sebagai anak durhaka ternyata kita sendirilah penyebab kedurhakaan anak. Terima kasih sudah baca mbak 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s