Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi

Usia berapa idealnya kita membawa anak ke dokter gigi untuk diperiksa? Membaca sebuah literatur, saat gigi anak pertama kali tumbuh, berarti sudah saatnya untuk melakukan kunjungan pertama ke dokter gigi.

Apakah tidak perlu menunggu gigi anak lengkap semua? Atau menunggu saat ada masalah gigi, seperti lubang gigi, karies, dsb yang membuat anak merasa tak nyaman? Tentu mencegah lebih baik daripada mengobati bukan? Jadi jika usia anak kita masih sangat muda, masih disebut bayi karena baru berumur tujuh bulan namun giginya sudah tumbuh, periksakan saja giginya ke dokter gigi.

Lalu, jika anak sudah cukup besar, dan diketahui ada yang kurang beres pada giginya, apa belum terlambat? Selama kita, anak kita dan para dokter gigi masih ada, tidak ada kata terlambat.

Namun terkadang, mengajak anak ke dokter gigi susah-susah gampang. Ini bukan tak beralasan. Kadang membayangkan peralatannya saja sudah bikin ngilu, apalagi buat anak-anak ya kan? Apalagi saya pernah melihat ada seorang anak yang nangis kejer saat masuk ke ruangan dokter gigi.

Tadi malam (8/8) adalah kali pertama bagi Ruma berkunjung ke dokter gigi. Sebenarnya sudah sejak setahun yang lalu saya ingin memeriksakan gigi Ruma, sejak di gigi depannya bagian tengah muncul white spot. Karena waktu kecil juga sudah berpengalaman dengan karies, gigi krowak dsb. saya tahu betul bercak putih itu salah satu tanda gigi akan berlubang. Tapi niat untuk mengunjungi dokter gigi belum juga terlaksana hingga kemarin.

Kami akhirnya mengunjungi Perigigi Dental Clinic di daerah Sagan. Mengapa kami memilih Perigigi? Simpel sih, karena tagline klinik tersebut adalah kids dental and aesthetic clinic yang mana sisi kids-nya lebih ditonjolkan sehingga harapannya klinik ini ramah anak. Selain itu juga membaca review dari beberapa blog, klinik ini recommended terutama untuk anak-anak.

Berangkatlah kami petang itu setelah sebelumnya reservasi pada sore hari. Jadwal untuk pemeriksaan gigi anak sebenarnya pukul 16.00-18.00 dan sudah penuh, tetapi karena waktu reservasi kami hanya berselang sedikit dari jadwal pasien terakhir, maka pemeriksaan Ruma bisa dimasukkan ke jadwal hari itu, tidak perlu menunggu besok. Pemeriksaan gigi ini dilakukan oleh drg. Fiona.

Pertama kali masuk klinik, saya langsung merasa nyaman. Desain interiornya didominasi warna hijau cerah yang menyejukkan. Ruang tunggunya juga cukup cozy. Selain itu, karena ini pemeriksaan gigi anak jadi ruang periksa ada di lantai atas yang dekat dengan ruang bermain anak.

Ruma enjoy sekali menunggu antrian di sana. Apalagi ia juga bertemu teman baru di ruang bermain tersebut dan langsung bermain bersama. Jenis mainan yang ada di sana antara lain building blocks, puzzle, aneka buku dan boneka. Koleksi buku dan puzzle-nya memang tidak terlalu terawat sih, maklum di tempat umum apalagi dimainkan anak-anak kan. Tapi tetap saja, mereka asyik bermain bersama.

Akhirnya tibalah giliran Ruma diperiksa. Sesungguhnya saya agak deg-degan kalau Ruma bakal nangis atau ketakutan saat diperiksa dokter. Hal ini karena sebelum berangkat, Ruma tampak agak cemas dan seakan tidak ingin pergi. Yang alasan ngantuk lah, capek lah, macem-macem.

Begitu masuk ruangan, Dokter Fiona langsung mengajak kami salaman. Menanyakan siapa nama Ruma dsb. lalu menanyakan keluhannya. Saya bilang cuma ingin periksa dan konsultasi terkait gigi depan Ruma yang mulai terkikis sedikit.

Setelah itu, Ruma didudukkan di kursi periksa. Ternyata kursinya bisa dinaikkan dan diturunkan lho. Benar-benar sesuai dengan ilustrasi di buku-buku terkait periksa gigi yang sering kami baca di rumah. Meski begitu, Ruma masih tampak tegang. Memang sepanjang pemeriksaan Ruma agak tegang sehingga senyum sementara hilang dari wajahnya.

Menurut Dokter Fiona, gigi Ruma bersih, apalagi bagian dalam. Namun memang, dua gigi depan bagian atas terkena karies ringan sehingga boleh jika ditambal. Namun ditambalnya tidak harus hari itu juga, jika memang anak belum siap ditambal. Ternyata setelah dijanjikan akan dibelikan es krim, Ruma bersedia lho, tambal gigi hari itu juga. Sepanjang proses penambalan juga tidak ada drama sama sekali. Wah lega sekali saya.

Mungkin kelancaran ini salah satunya juga karena tim dokter yang sangat kooperatif dan mengerti maunya anak. Beneran deh, saat akan mulai menambal saja Dokter Fiona minta izin pada Ruma, “Bu Dokter mau pakai alat ini ya, ada bunyinya. Bunyinya kayak gini nih, nggak apa-apa kan? Agak berisik tapi nggak ada rasanya. Dan kita pilih yang paling pelan. Yuk mulutnya dibuka lebar, Sayang. Lidahnya jadi patung dulu ya.”

Setelah selesai semua proses, kami menuju kasir untuk membayar tagihannya. Surprisingly, Ruma mendapatkan sebuah es krim. Ternyata di Perigigi, setiap anak yang telah berhasil dirawat giginya memang mendapat es krim. Wah dobel-dobel deh senangnya.

Itulah pengalaman perdana kunjungan Ruma ke dokter gigi. Alhamdulillah sama sekali tidak ada tangisan, rengekan dsb. Jika ibu-ibu ingin atau berniat juga memeriksakan putra/putrinya ke dokter gigi, mungkin beberapa tips ini bisa membantu.

1) Sounding tentang rencana ke dokter gigi

Jelaskan pada anak tentang pentingnya merawat gigi. Salah satu caranya adalah memeriksakan gigi secara teratur. Ceritakan padanya tentang dokter gigi, apa saja yang akan dilakukan saat periksa gigi, bagaimana suasana di sana, harus melakukan apa saat gigi sedang diperiksa.

2) Bacakan buku tentang anak yang berani diperiksa giginya

Hal ini nyambung dengan poin 1. Kita bisa memvisualisasikan kunjungan ke dokter gigi dengan buku yang menceritakan hal tersebut. Ini manjur banget. Sebelumnya Ruma yang males-malesan pas mau berangkat. Setelah dibacakan beberapa buku dia langsung semangat lagi. Buku rekomendasi saya : Halo Balita — Aku Berani ke Dokter dan Maisy First Experience Series — Maisy, Charley and Wobbly Tooth.

3) Janjikan reward saat anak berhasil mengalahkan ketakutannya

Ini rada pro dan kontra sih bagi para orang tua yang tidak menerapkan sistem reward & punishment. Tapi sejauh ini, sistem reward bagi kami cukup efektif untuk mengintervensi perilaku anak. Dalam hal ini, dijanjikan es krim berhasil membuat Ruma diperiksa giginya tanpa drama. Oh iya, dalam sistem reward orang tua harus benar-benar memenuhi janjinya jika si anak berhasil melakukan sesuatu lho.

4) Pilih dokter gigi dan rumah sakit/klinik yang ramah anak

Memang lebih baik kita mencari dokter spesialis gigi anak dan tempat yang kids friendly. Meski tarifnya sedikit lebih mahal daripada dokter gigi biasa. Namun daripada anak trauma kan? Dalam hal ini, saya sangat appreciate dengan Dokter Fiona dan tim dari Perigigi yang kooperatif sekali menghadapi anak.

5) Jangan paksa anak jika ia benar-benar ketakutan

Lebih baik tunggu kesiapan anak saja. Jangan sampai kita memaksa dan memarahinya gara-gara anak tidak mau diperiksa giginya. Hal ini jelas bikin anak trauma.

Oke, sekian saja sharing dan tips dari saya terkait mengajak anak ke dokter gigi untuk pertama kali. Kalau ibu-ibu punya tips lain, boleh banget ditambahkan. Semoga bermanfaat ya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Pengalaman Pertama ke Dokter Gigi

  1. Mbak. anakku yang kecil pernah agak dipaksa gitu pas ke dokter gigi..Ternyata beliau ini dokter baru (lulus), karena menggantikan sementara dokter langganan kami. Eh, kayaknya kesakitan, jadi trauma ..Sudah setahun ini dibujuk jadi belum bisa lagi Hiks!. Btw, nice share Mbak!

    Like

    1. Iya ya mb, tergantung dokternya, kalau dokternya child friendly pasti anak juga nyaman. Semoga putranya cepet pulih dr trauma ya, Mbak, atau ganti dokter dan klinik yg lbh ramah anak 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s