life

Hidup Itu Harus Punya Cita-cita: Masa Lalu, Kini dan Nanti

Saya ingat betul. Sepuluh tahun lalu ketika masih kuliah tingkat dua. Tiap akan berangkat ke kampus, selalu saya pandangi birunya langit sambil berdo’a. Kiranya hari ini akan lebih baik dari kemarin. 

Bukan. Lebih baik yang saya maksud sama sekali tak berorientasi pada ibadah, akhirat atau kemanfaatan bagi orang banyak. Lebih baik di sini hanya berarti bagi diri saya sendiri. Semoga ada pengalaman baru, bertemu dengan orang-orang baru, dalam kegiatan seru yang akan mewarnai hari-hari saya. Mungkin bahasa zaman sekarang, bisa eksis.

Betapa dulu saya sangat mendambakan diri ini bisa menjadi anak gaul, aktif, super sibuk, jarang di rumah, tidak kuliah pulang-kuliah pulang melulu. Bahkan pernah saya membaca sebuah ide cerpen di sebuah majalah remaja, tentang seseorang yang terobsesi untuk masuk ke dalam gang cewek-cewek populer. Saya rasa kisah itu sangat cocok menggambarkan diri saya. Saat itu.

Saking inginnya jadi anak yang kesannya gaul, saya sampai rela mengikuti kegiatan kepecintaalaman yang sebenarnya bukan saya banget. Hanya demi supaya bisa jadi cewek yang terkesan akrab sama cowok-cowok. Padahal saya aslinya pemalu dan introvert. Jadi ketika bergabung, jelas tidak nyaman.

Kali lain, saya merasa sangat gandrung dengan musik rock and roll. Sampai pernah bercita-cita menjadi lady rocker. Hobi bener mendengarkan musik cadas yang kalau dipikir-pikir sekarang, bisa-bisanya. Bikin sakit kepala.

Intinya, semua hal yang saya cita-citakan adalah yang akan membuat diri saya terlihat keren dan gaul di mata orang lain. Sebut saja penyiar radio, vokalis band, frontliner produk clothing alias jaga distro, dsb. Kalau diingat-ingat lagi, rasanya malu sekali. Semua mimpi itu sebenarnya bukan saya banget. Saya nggak nyaman, tapi memaksa diri supaya terlihat keren dan asyik. Untungnya, tidak ada satupun yang tercapai.

Dulu sih menyesal, kenapa semua impian itu gagal. Tapi kini saya bersyukur, karena saya menyadari memang betul-betul tidak cocok pada bidang-bidang itu.

Hampir semua bidang yang saya citakan berhubungan dengan musik. Entah itu penyiar radio, vokalis band, jaga distro. Kini saya tahu, mendengarkan musik itu dilarang dalam Islam. Semua bidang itu juga menuntut campur baur lelaki perempuan yang dilarang agama.

Sungguh saya bersyukur didekatkan dengan petunjuk Allah sebelum semuanya terlambat. Kini saya tahu cita-cita saya sebenarnya, menjadi orang yang bermanfaat dan bisa menyampaikan ilmu melalui kegiatan tulis-menulis.

Gambar dari Pinterest

Kalau ada satu hal yang saya sesali, kenapa nggak dari dulu ya insyafnya. Ketika masih SMA atau awal-awal kuliah. Supaya bisa didekatkan dengan orang-orang shalih dan bersahabat dengan mereka. Supaya bisa merasakan indahnya menebar manfaat saat diri ini masih full energi dan banyak waktu luang.

Ah, tapi tak apa. Meski terlambat, paling tidak kini saya tahu tujuan hidup dan cita-cita saya. Memang benar ya, setelah menjadi orang tua kita akan diberi naluri untuk memperbaiki diri, demi keshalihan anak-anak kita kelak. Begitu yang pernah saya dengar dari pakar home education Pak Harry Santosa.

Sudah banyak buktinya. Teman-teman saya yang dulunya juga biasa-biasa saja saat belum menikah dan mempunyai anak, kini menjelma menjadi sosok-sosok yang luar biasa inspiratif. Super shalih dan shalihah. Ya, meski saya belum bisa seluar biasa itu karena terkadang masih ada futur dan malasnya. Semoga Allah selalu menjaga diri ini di atas ketaatan kepadaNya.

Untuk kalian yang masih muda, belum menikah, belum punya anak, merasa galau dengan tujuan hidup kalian, mau jadi apa kelak, masih berorientasi pada keduniaan : ingin gaul, populer, banyak teman, banyak uang, dsb. banyak-banyak merenung dan mendekatkan diri kepada Allah ya, supaya Dia tunjukkan bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan yang telah dianugerahkanNya.

Kalau kita pada akhirnya mendapat teguran dariNya, lewat peristiwa pahit yang menyakitkan misalnya, syukuri saja. Seperti saya yang dulu sampai dijewerNya di tengah kejahilan-kejahilan yang saya lakukan. Meski pahit, saya malah bersyukur. Karena jika Dia membiarkan saya, mungkin saya masih berkubang dalam kehidupan tanpa cahaya itu.

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi taatimush shaalihat. 

Advertisements

3 thoughts on “Hidup Itu Harus Punya Cita-cita: Masa Lalu, Kini dan Nanti”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s