motherhood

Ibu, Jangan Ingkari Fitrahmu

Tulisan ini lahir dari fikiran yang berbeda saat membaca ulasan yang menyatakan laki-laki yang menolak berkompetisi dengan perempuan adalah laki-laki berfikiran sempit, laki-laki yang “ketakutan” memperistri perempuan berpendidikan tinggi adalah laki-laki berpandangan cupet, juga statement “wanita sebagai ibu rumah tangga” akan mendiskreditkan perempuan.

Sebagai orang yang menganggap kesetaraan gender dalam segala aspek adalah satu hal yang tidak masuk akal, saya justru mengamini firman Allah dalam QS An Nisaa : 33 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Mereka dijadikan pemimpin karena dua hal, yakni kelebihan yang dianugerahkan Allah pada mereka, di antaranya kekuatan fisik dan akal, dan karena mereka menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Jadi, sebenarnya laki-laki yang menginginkan perempuannya untuk berkhidmat padanya, menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anak mereka, laki-laki yang menunaikan tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya dengan menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya tanpa meminta perempuannya mencari nafkah tambahan, sama sekali tidak berfikiran sempit. Bahkan mereka gentleman sejati.

Mereka melakukan itu semua bukan karena mereka merasa terintimidasi dengan para alpha women itu, melainkan mereka menyadari sepenuhnya kodrat dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Mereka bahagia jika bisa menjalani fitrah penciptaannya secara sempurna. Mereka merasa “penuh” dan berdaya jika tugas mulia yang dipikulkan kepada mereka dapat mereka lakukan dengan baik.

Adapun perempuan, jika pasangan hidup meminta kita untuk menjalankan peran kita sebaik-baiknya, sebagai istri dan ibu, justru kita harus bersyukur. Jangan malah merasa bahwa mereka mengekang kita, menghalangi kita untuk mengaktualisasi diri, tidak menginginkan kita berkembang, merasa tidak mampu menyaingi lalu menjadikan kita hanya sebagai “warga kelas dua.” No. Absolutely not.

Justru kita yang harus berkaca. Apakah fitrah diri kita telah sedikit koyak, tergerus budaya materialisme dan hedonisme. Termakan dengan isu-isu kesetaraan gender yang pada akhirnya akan menghancurkan tatanan keluarga. Menghasilkan perempuan-perempuan berjiwa maskulin dan lelaki-lelaki feminin pada saat yang sama. 

Ya, sistem itu lambat laun akan membalikkan tatanan di mana para perempuan akan berduyun-duyun keluar dari rumah, meninggalkan keluarganya demi materi dan aktualisasi diri. Sementara lelaki, karena superioritas si perempuan, malah rela berdiam di rumah menjalankan tugas yang seharusnya dilakukan perempuannya.

Gambar dari Pinterest

Mungkin jika engkau belum menikah, belum memiliki anak yang akan merindukan belaian lembutmu, engkau merasa bahwa memang sangat perlu berprestasi, menunjukkan eksistensimu pada dunia. Tapi saat kelak mereka hadir dalam kehidupanmu, percayalah kau tidak akan tega meninggalkannya demi prestasi, aktualisasi, apalagi materi.

Namun syaratnya satu, ikuti fitrahmu. Dengarkan seksama suara hati yang memanggilmu untuk segera pulang. Jangan kau ingkari, karena sejatinya fitrah wanita adalah untuk mengurus keluarganya, mendidik anak-anaknya.

Ibu, kau tidak perlu khawatir tak bisa lagi meraih mimpi. Karena apapun mimpi dan cita-citamu, sejatinya bekerja, berkarya dan mendidik anak adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tidak ada yang harus dikorbankan.

Advertisements

8 thoughts on “Ibu, Jangan Ingkari Fitrahmu”

  1. ….Tapi saat kelak mereka hadir dalam kehidupanmu, percayalah kau tidak akan tega meninggalkannya demi prestasi, aktualisasi, apalagi materi…..
    Like this, suka banget tulisan apik kayak gini, saya juga enggak mau ngancurin tatanan keluarga dengan istilah dunia terbalik, makanya saya support Suami mencari rezeki yang halal, berkah dan banyak biar saya di rumah dulu, mengasuh anak dan sesekali berkarya dan menghasilkan uang juga bisa kok.

    Liked by 1 person

    1. Aiih, Mbak. komentar Mbak malah yang saya suka banget. Keadaan rumah tangga di mana istri mensupport suaminya untuk melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya demi menafkahi keluarga, sementara suami juga mensupport istrinya untuk berkarya dari dalam rumah, adalah rumah tangga yang bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s