motherhood

Ibu-ibu Anti Insecure

Ada seorang ibu yang setiap kali membuka sosial media selalu merasa sedih berkepanjangan. Pasalnya, ia merasa tidak seberuntung ibu-ibu lain yang pasang status tentang… suaminya yang selalu menghujaninya dengan hadiah mahal; liburan keluarganya yang super seru; anak-anaknya yang shalih, cerdas dan berakhlak mulia; kondisi rumahnya yang rapi jali tidak berantakan; metode pengasuhan dan pendidikan anaknya yang tanpa cela; masakannya yang menerbitkan selera; dsb. Ibu itu merasa yang terjadi dalam keluarganya berbanding terbalik dengan yang ia lihat di timeline sosial medianya. Akibatnya, ia sering mengeluh, bermuka masam pada suami, serta mengomeli anak. Singkatnya, jadi ibu yang tak menyenangkan pasca berkelana di sosial media.

Arus informasi yang berkembang cepat seperti sekarang, selain membawa dampak positif juga membawa dampak negatif yang cukup banyak. Selain merebaknya hoax, salah satu dampak negatifnya adalah makin maraknya “persaingan” di dunia per-ibu-ibuan, di mana masing-masing ibu saling menonjolkan kelebihan yang dimiliki keluarganya, terkait pilihan hidup, pasangan dan anak-anak. Bagi ibu yang konsep dirinya kurang kuat, hal-hal seperti ini rentan menimbulkan perasaan insecure.

Pada dasarnya, insecure adalah perasaan tidak nyaman dengan diri sendiri. Dalam hubungannya dengan dunia per-ibu-ibu-an, ketidaknyamanan ini biasanya terkait pilihan hidup, kondisi keluarga (suami dan anak-anak), pekerjaan, dsb. Ketidaknyamanan itu terkadang menimbulkan perasaan tidak percaya diri, minder, takut di-judge, serta ragu dalam bertindak.

Pada tulisan sebelumnya,

Baca: Rahasia Kecil untuk Berbahagia

saya menyampaikan tentang betapa pentingnya mensyukuri karunia dan nikmat Allah lain yang mungkin belum kita perhitungkan, karena sibuk mengurusi apa-apa yang tidak kita punya. Kemudian juga tidak sering-sering “masuk” ke dunia maya, melainkan lebih concern pada kehidupan nyata yang sebenarnya.

Namun, bagaimana caranya agar bisa benar-benar bebas dari rasa insecure? Berikut ini saya paparkan tipsnya.

Quote dari Pinterest

1) Menyadari kelebihan dan kekurangan diri

Tidak ada yang sia-sia dari semua ciptaan Allah, begitu pula penciptaan kita di muka bumi ini. Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kita, yang sering kita nilai tidak sempurna ini, pasti memiliki kelebihan. Sementara orang lain, yang kita anggap hidupnya sempurna itu, juga pasti memiliki kekurangan.

Fokuslah pada kelebihan yang kita miliki, dan kembangkan hal itu untuk kebaikan orang banyak. Misalnya, kita tidak bisa membuat bento yang lucu-lucu untuk bekal sekolah anak, namun punya kemampuan menulis. Berarti kita tidak perlu merisaukan ketidakmampuan kita, jangan bandingkan diri dengan teman yang passion-nya memang memasak, mendesain dan food photography. Yang harus kita lakukan adalah terus mengasah kemampuan menulis kita, rajin-rajinlah membuat tulisan yang bermanfaat, menyebarkan ilmu yang kita miliki, dsb. Dengan begitu, kita tidak perlu insecure jika ada orang lain yang lebih, lebih, lebih dalam segala hal dibanding kita.

2) Mengenal syari’at

Terkadang kita disibukkan dengan segala sesuatu yang tidak esensial. Ikut “perang-perangan” antar ibu-ibu, mengklaim pilihan hidup dan aktivitasnya adalah yang paling benar sementara pilihan dan aktivitas hidup orang lain adalah salah. Atau sebaliknya, merasa “kecil” hanya karena hidup kita begini dan begini sementara orang lain begitu dan begitu. Capek sendiri jadinya.

Untuk itu, lebih baik kembalikan pilihan hidup dan aktivitas kita kepada Yang Maha Mengatur Hidup. Kita harus tau apa maunya Pencipta kita, kita ini diciptakan untuk tujuan apa. Dengan merujuk kepada syari’at, kita tidak perlu insecure jika berbeda pilihan hidup dengan orang lain. Beda metode mendidik anak, beda profesi yang dipilih, beda cara menghabiskan me-time, dsb. Kita tidak perlu takut dianggap begini dan begitu oleh orang lain, asal Allah ridha pada kita.

3) Sadari kapasitas diri, jangan asal ikut-ikutan

Banjir informasi seperti saat ini, membuat para ibu seakan kehilangan pegangan atau pakem, utamanya dalam mendidik anak. Sedang trending metode A main ikut-ikutan aja tanpa tahu filosofi dan kesesuaiannya dengan keluarga kita. Begitu diterapkan dan ternyata tidak sesuai, baru deh insecure. Apalagi ibu lain bisa melakukannya dengan baik. Makin menjadi lagi perasaan nggak nyamannya.

Jadi penting bagi kita untuk belajar sesuatu langsung dari sumbernya. Jangan asal kekinian, dilakukan oleh orang beken, dll. tapi sama sekali tidak memiliki bekal ilmu. Bagaimana nasib anak-anak kita kalau ibunya cuma ikut-ikutan tren sesaat tanpa mengerti esensi sebenarnya?

4) Memohon dijauhkan dari iri dengki

Kadang, gemerlap dunia maya membuat kita memandang sebelah mata terhadap dunia nyata yang kita hadapi. Waktu kita disibukkan dengan urusan orang lain. Stalking sana-sini, yang akhirnya membuat diri ini dipenuhi rasa iri dengki. Melihat ibu lain yang suaminya romantis, langsung baper. Melihat ibu lain yang anak-anaknya terstimulasi dengan baik, langsung minder. Melihat ibu lain yang kompak dengan mertuanya, langsung merasa tak berdaya. Apalagi kalau ditambah yang seperti ini, seneng bener lihat ibu lain yang lagi berantem sama suaminya, puas banget lihat ibu lain yang anaknya sakit, lega dengar kisah ibu lain yang bisnisnya bangkrut. Astaghfirullah. Hati-hati, ini penyakit hati kronis ya. Susah lihat orang lain senang, senang lihat orang lain susah.

Terhadap sifat ini, kita harus terus memohon supaya dijauhkan dari iri dengki terkait duniawi. Kalau ada hal yang perlu kita irikan, itu seharusnya hal-hal yang terkait dengan akhirat. Ah, ibu itu meski kesibukannya banyak, nggak pernah absen shalat awal waktu. Ibu itu meski anaknya banyak, tilawahnya nggak pernah putus. Pokoknya terhadap hal-hal akhirat yang semua di bawah kendali kita. Bukan iri terhadap keshalihan suami ibu lain, kecerdasan anak ibu lain, kelapangan rezeki keluarga ibu lain, dsb. yang sifatnya duniawi banget.

Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita semua dari sifat iri dengki yang memakan kebaikan. Aamiin. Kalau diri ini sudah bebas iri dengki, insya Allah tidak akan insecure juga karena yakin bahwa segala sesuatu ditetapkan sesuai kadarnya.

Kiranya cukup itu saja yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini. Semoga bisa bermanfaat agar kita semua terhindar dari perasaan insecure dalam dunia motherhood.

Advertisements

4 thoughts on “Ibu-ibu Anti Insecure”

  1. Benar Mbak..jika nggak segera diatasi perasaan insecure seorang istri ini bisa berdampak buruk ke hubungan suami dan anak. Poin pertama itu yang musti dicermati. Lebih baik mengasah potensi diri daripada iri pada kemampuan orang lain..:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s