parenting

Membangun Komunikasi yang Bermakna dengan Anak

0411305a44011a602eeb1e565fed5b40
Gambar dari Pinterest

Salah satu permasalahan yang kerap muncul dalam dunia kepengasuhan adalah terkait komunikasi yang efektif dengan anak. Terkadang kita sebagai orang tua merasa sangat sulit berkomunikasi dengan buah hati kita sendiri. Hal pertama yang harus dilakukan orang tua dalam mengatasi masalah tersebut adalah mengenali anak, karena kadang kita “memegang” anak seperti memegang uang, mengetahui namun tidak mengenali.

Setelah mengenal anak, kita perlu juga untuk mencatat setiap perkembangannya. Sebaiknya kita mempunyai jurnal khusus yang berisi pengamatan kita terhadap tingkah laku anak sehari-hari. Jurnal ini bisa berupa buku harian, bisa pula dokumentasi yang disimpan di blog pribadi atau akun sosial media kita. Hal ini bermanfaat untuk memudahkan kita dalam mengamati kecenderungan anak dari hari ke hari, sehingga jika ada masalah kita lebih mudah mengatasinya.

Urgensi Komunikasi

Komunikasi adalah skill dasar yang harus dimiliki setiap orang tua. Komunikasi, dalam hal ini bahasa, juga merupakan stimulasi terbaik bagi anak.

Kadang kita bingung, jika anak kita masih bayi, mau diajak main apa ya? Kan belum bisa ngapa-ngapain. Daripada berbingung ria, lebih baik diajak ngobrol saja. Dalam situasi apapun, misalnya saat memandikan, memakaikan baju, menyusui. Dan saat menyusui adalah waktu terbaik untuk mengajak ngobrol bayi kita. Itulah sebabnya menyusui merupakan bonding time terbaik ibu dan bayi.

Urgensi Mempelajari Skill Komunikasi

Mengapa skill berkomunikasi yang baik itu penting dan wajib dikuasai setiap orang tua? Ada 2 alasan.

Pertama, anak akan mencontoh cara kita berkomunikasi.

Cara komunikasi yang akan dicontoh anak bukan hanya cara komunikasi dengan anak, melainkan juga bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain saat bersama anak. Wah, kebayang dong kalau kita sering berkomunikasi dengan ngomel-ngomel? #tunjukdirisendiri

Kedua, bagaimana cara kita berkomunikasi akan membentuk karakter anak dan menentukan masa depannya.

Ingin anak ke depannya jadi pribadi lemah lembut dan ramah tapi sehari-hari berkomunikasi dengan ibu yang hobi ngomel? Kira-kira bisa nggak? #lagilagitunjukdirisendiri

Bagaimana Seharusnya Kita Berkomunikasi?

Terkait hal ini perlu kiranya kita merujuk pada pakar parenting terbaik, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengajarkan bagaimana membangun komunikasi yang efektif sekaligus bermakna, dengan anak yang diringkas dalam enam tips ini.

1) Membangun trust untuk memperkuat attachment

Kita tentu pernah mendengar teori behavioristik terkait reward dan punishment. Saya sendiri cukup sering menerapkan teori ini supaya anak mau melakukan apa yang saya inginkan.

Ternyata, teori ini tidak bisa saklek diterapkan, karena efeknya yang cukup berbahaya. Teori ini bahkan pertama kali diujicobakan pada binatang. Padahal penciptaan manusia berbeda dengan binatang. Manusia memiliki fitrah kebaikan, demikian pula anak kita. Terlalu sering menerapkan reward dan punishment dikhawatirkan mengikis fitrahnya.

Oleh karena itu, yang perlu kita terapkan adalah future reward and punishment, yakni surga dan neraka, dengan terlebih dahulu menyentuh hatinya. Jadi, tidak bisa tidak, kita harus dekat dulu dengan anak untuk menyentuh hatinya. Dengan itulah anak akan mempercayai kita dan mau melakukan apa yang kita perintahkan. Kita harus bisa menjadi sosok yang dirindukan dan lekat dengan anak, sehingga mereka mau mendengarkan dan mematuhi nasihat kita.

2) Berbicara dengan lemah lembut

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang lemah lembut. Sebagai umatnya, kita tentu perlu mengikuti kelemahlembutan beliau dalam segala hal, termasuk cara kita berkomunikasi dengan anak.

Namun untuk bisa berkomunikasi dengan lemah lembut dengan anak, kita perlu satu syarat, yakni hati yang tenang. Ini benar sekali, karena kalau dalam kondisi terburu-buru, hectic, grasa-grusu, mustahil sekali bisa lemah lembut.

Berarti yang harus kita usahakan adalah suasana hati yang tenang, tidak kemrungsung. Dan obat mujarab untuk menenangkan hati adalah dzikir.

3) Menghargai perasaan anak

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengecilkan perasaan anak. Ada seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair yang saat itu suka sekali bermain dengan burung pipit. Setiap bertemu Abu ‘Umair, Rasulullah selalu menegur dengan menanyakan keadaan peliharaannya itu. Suatu ketika burung kesayangannya itu mati dan Rasulullah pun menghiburnya.

Sebagai orang tua, kita perlu memiliki rasa empati terhadap perasaan anak. Terkadang kita lebih sering mengutamakan perasaan kita sendiri dalam berkomunikasi dengan anak, sehingga kita merasa gagal berkomunikasi dengan mereka.

4) Tidak banyak menegur dengan keras

Hal ini diceritakan oleh keponakan Rasulullah, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang sejak kecil tinggal di rumah Rasul. Selama sepuluh tahun beliau tinggal bersama Rasul, tidak pernah sekalipun beliau menegur keponakannya dengan keras.

Kadang kita lupa, jika kekesalan akibat ulah anak sudah sampai ubun-ubun, kita refleks membentaknya. Bahkan terkadang melayangkan cubitan dan pukulan. Padahal bahasan dalam seminar parenting yang menyatakan bentakan sekecil apapun dapat memutuskan sambungan di otaknya juga sudah sering kita dengar. Memang ya, manusia itu tempatnya salah dan lupa.

5) Menghargai imajinasi anak

Masa balita adalah masa di mana otak anak berkembang paling pesat. Salah satu tanda perkembangan ini adalah imajinasi anak yang semakin luas. Sayang kita sering tidak menangkap peluang ini, sehingga kurang merespon saat anak sedang berimajinasi. Tanggapan kita standar-standar saja. Nanti giliran anak semakin besar dan semakin akrab dengan teman-temannya, kita malah merasa ditinggalkan. Padahal siapa dulu yang ketika diajak main dan berimajinasi tidak bisa “masuk” di dalamnya?

6) Memperkuat bonding dengan kedekatan fisik

Terkait hal ini, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh nyata seorang ayah dan kakek yang sangat menyayangi anak cucunya dan sama sekali tidak malu mengekspresikan rasa sayang tersebut.

Masa 0-7 tahun adalah masa di mana anak sangat butuh kedekatan fisik, jadi jangan ragu untuk mencium anak, memeluk dan membelainya sebagai tanda kita menyayangi mereka. Pupuk betul rasa rindu anak kepada kita di tujuh tahun pertama. Kalau kita sudah menjadi orang tua yang dirindukan anak, mudah saja menanamkan nasihat kepada mereka.

Alhamdulillah enam tips untuk membangun komunikasi bermakna dengan anak telah selesai saya paparkan. Semoga Allah mampukan kita menerapkannya pada buah hati kita.

Disarikan dari Kajian Parenting JMP Community bersama praktisi homeschooling Bunda Ayu Kinanti Dewi, S.Psi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s