NHW #5: Menyusun Desain Pembelajaran

NHW #5: Menyusun Desain Pembelajaran

Senangnya ikut kelas matrikulasi IIP, karena tiap pekan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengerjakan NHW yang mana bagi saya adalah blogging. Seperti yang sudah sering saya ceritakan, salah satu motivasi bergabung dalam kelas matrik IIP ini adalah menantang diri sendiri untuk berubah, termasuk kemauan saya untuk rutin menulis. Paling tidak, dengan rutin mengerjakan NHW saya sudah rutin menulis, meski sepekan sekali.

Saya suka menulis, tapi kadang terkendala mood, sehingga kalau lama tidak menulis jadi kagok memulainya lagi. Memang selama ini, setiap hari saya menulis, namun hanya semacam diary keseharian anak saya yang mana tidak perlu banyak berfikir, hanya menuangkan kejadian-kejadian yang sudah terjadi dalam tulisan. Paling tidak, sebagai ibu bekerja, cara itu membuat saya tidak terlalu jauh ketinggalan milestones anak saya.

Nah, untuk blogging, bagi saya sulit untuk dimulai lagi, karena, hmm apa ya? Mau bikin excuse nih — ngga ada waktu, ngga ada ide, dan segudang alasan yang intinya menyulitkan saya kembali menulis. Makanya saya bersyukur sekali dengan adanya NHW ini bisa membangkitkan semangat saya untuk mulai menulis lagi.

Ah, sungguh intro yang terlalu panjang.

Jadi di NHW #5 ini kami ditugaskan menyusun sebuah desain pembelajaran terkait ilmu-ilmu yang ingin kita pelajari untuk mendukung misi hidup kita.

Jika di NHW #1 kita sudah menentukan jurusan ilmu yang ingin kita pelajari di universitas kehidupan ini, NHW #4 kita mantapkan lagi benarkah ilmu tersebut yang ingin kita pelajari berikut membuat milestones penguasaan ilmu tersebut dengan satuan waktu, maka di NHW #5 ini yang saya tangkap adalah semacam strategi penjabaran dari milestones tersebut.

Berdasarkan googling yang saya lakukan, definisi desain pembelajaran adalah rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah (Briggs). Tujuan penyusunan desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi.

Menurut Morisson, Ross dan Kemp, ada empat komponen dasar dalam perencanaan desain pembelajaran, yakni:

  1. Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa);
  2. Anda ingin (siswa) mempelajari apa? (tujuan);
  3. Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik dipelajari? (strategi pembelajaran); serta
  4. Bagaimana cara mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai? (prosedur evaluasi).

Di sini saya akan menjawab keempat komponen desain pembelajaran tersebut agar dapat dirumuskan desain pembelajaran ala saya.

Tanya (T): untuk siapa desain ini dibuat dan dikembangkan?

Jawab (J): desain pembelajaran ini dibuat untuk saya sendiri, dengan karakteristik berdasarkan tipe kepribadian MBTI adalah ISTJ (introvert, sensing, thinking, judging) dan memiliki gaya belajar visual.

T: apa yang ingin dipelajari dan tujuannya?

J: yang ingin saya pelajari adalah ilmu-ilmu yang mendukung saya untuk menjalani peran sebagai ibu sekaligus penulis yang inspiratif bagi muslimah, meliputi: ilmu agama, ilmu membuat tulisan, ilmu kepengasuhan dan ilmu kerumahtanggaan.

T: bagaimana strategi belajar untuk mempelajari ilmu tersebut?

J: strategi belajar ini akan saya bagi sesuai jenis ilmu yang ingin saya kuasai, di antaranya:

Ilmu agama, dipelajari sepanjang hidup (Juni 2017-mati), strategi:

  • Bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah wajib dan sunnah
  • Mendatangi majelis ilmu sepekan sekali
  • Berusaha mengkaji Al Qur’an dengan membaca kitab tafsir sehari 20 ayat
  • Membaca kitab-kitab yang mendukung pelaksanaan ibadah dan mu’amalah sehari dua halaman
  • Belajar bahasa Arab (belum menentukan di mana dan kapan)
  • Menghafalkan Al Qur’an setiap hari 5 ayat dan mengulang ayat-ayat yang dihafal
  • Mengamalkan ajaran agama setiap hari dan membuat muhasabah harian terkait dosa-dosa yang dilakukan (baik pada Allah maupun sesama manusia)

Ilmu membuat tulisan terkait dunia muslimah, dipelajari dengan menggunakan hukum 10.000 jam hingga menjadi ahli (Juni 2017-Desember 2021) dengan strategi setiap 8 jam dalam sehari melakukan kombinasi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Menulis setiap hari minimal satu tulisan dalam dunia muslimah dan kepengasuhan dan diposting di blog
  • Membuat resume kajian agama dan seminar kepengasuhan yang dihadiri dan diposting di blog dua hari sekali
  • Membaca buku seputar dunia muslimah dan kepengasuhan sehari minimal satu bab
  • Mencari projects membuat tulisan bertema kepengasuhan dari portal penyedia pekerjaan seperti: projects.co.id, sribulancer.com, dsb minimal sepekan sekali
  • Mengirimkan naskah tulisan ke website yang membutuhkan tulisan dalam bidang muslimah dan kepengasuhan tiga hari sekali
  • Belajar dan bergabung di rumbel menulis IIP (jika lulus kelas matrikulasi)
  • Berguru pada penulis yang dikagumi karyanya (belum tahu caranya) tentang bagaimana menerbitkan buku (mungkin dengan self-publishing)
  • Berguru pada blogger yang dikagumi blognya tentang bagaimana meningkatkan jumlah pembaca blog, bagaimana mendesain blog agar menarik, bagaimana mendapatkan penghasilan dari blog

Ilmu kepengasuhan yang akan dipelajari dalam kurun waktu 2 tahun (Juni 2017-Juni 2019), dengan strategi:

  • Mendatangi seminar kepengasuhan sebulan sekali
  • Membaca buku tentang kepengasuhan setiap hari satu bab
  • Menciptakan kegiatan seru bersama anak sehari satu kegiatan
  • Berusaha sadar penuh dan hadir utuh saat bersama anak dua jam sehari di hari kerja dan lima jam saat akhir pekan
  • Membacakan buku minimal satu buku per hari
  • Menceritakan kisah teladan minimal satu kisah per hari
  • Meneladankan ibadah dan muroja’ah hafalan Qur’an di depan anak
  • Belajar bagaimana komunikasi efektif dengan suami agar beliau bisa terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak secara Islam

Ilmu kerumahtanggaan yang akan dipelajari selama 2 tahun (Juli 2019-Juli 2021), dengan strategi:

  • Belajar konsep 5R
  • Belajar membersihkan rumah dan perabotannya
  • Belajar menata ruangan
  • Belajar manajemen keuangan

T: bagaimana prosedur evaluasi strategi tersebut?

J: saya menggunakan metode PDCA untuk mengetahui keberhasilan strategi yang sudah ditetapkan, yakni dengan membuat rencana harian, implementasi dalam kehidupan nyata, evaluasi pada esok harinya dengan sistem checklist dan membuat rencana untuk memperbaiki kekurangan.

Kiranya itu saja yang bisa saya tulis dalam NHW #5 ini. Tantangan besar adalah untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata. Semoga Allah mudahkan.

Sumber: https://isnaizakiya29.wordpress.com/2014/05/24/desain-pembelajaran-perencanaan-pembelajaran-dan-kurikulum/

Bagaimana Memperbaiki Hidup?

Bagaimana Memperbaiki Hidup?

Terkadang kita merasa hari-hari kita lalui dengan terburu-buru, waktu terasa begitu cepat meninggalkan kita, sampai-sampai merasa kekurangan waktu dan tidak sempat melakukan ini itu.

Terkadang kita merasa hidup begitu sulit. Cobaan demi cobaan datang menghampiri silih berganti. Masalah satu selesai datang masalah lain yang menguji kesabaran.

Terkadang diri ini merasa sangat lelah. Berpeluh menjemput nafkah dari pagi hingga petang namun hasilnya yah, masih begitu-begitu saja. 

Terkadang hati ini begitu nggrangsang, melihat orang lain hidupnya enak dan bahagia. Sementara hidup kita, duh apa yang bisa dibanggakan? Begini begini saja. Hari berlalu tanpa progres berarti.

Terkadang kita menganggap Allah tidak adil. Mengapa hidupku kacau begini? 

Ternyata, Allah sudah menyiapkan solusi. Tinggal mau diambil atau tidak solusi ini. Jika ingin hidup kita lebih baik, hanya ada satu cara. Cukup satu hal yang harus segera kita perbaiki.

Apakah itu? Shalat.

Sungguh perbaikan hidup dimulai dengan perbaikan kualitas shalat kita. Jadikan waktu kita sebagai waktu-waktu menunggu shalat satu menuju shalat berikutnya.

Perbaiki shalat, niscaya Allah akan baikkan hidupmu.

Ayo, tunggu apa lagi. Segera lakukan dan tunggu hasilnya.

Yogyakarta, 14 Juni 2017, jelang adzan Zhuhur

Listen Carefully & Respond Appropriately

Listen Carefully & Respond Appropriately

Semalam saya mendapat beberapa pelajaran berharga dari Rumaysa, anak yang kata saya segalanya, kesayangan, ternyata malah membuat saya tega bersikap kasar padanya. Maafkan Meme, Nak. Sungguh.

Kami semalam shalat Isya dan tarawih di Masjid Islamic Center UAD. Masjidnya luas dan bagus sekali. Ruma sangat senang shalat di sana. Setelah shalat Isya dengan tertib, Ruma ingin mengambil teh yang dibungkus plastik di serambi masjid. Lalu dia minta saya untuk membukakan plastiknya. Namun saya khawatir nanti tehnya tumpah.

Saya katakan padanya, “Nanti aja ya Mbak, dibuka di luar. Nanti kalau tumpah lantainya jadi lengket.” Anak saya menurut. Akhirnya teh saya letakkan di samping tas dengan dialasi beberapa lembar tisu. 

Saat ceramah, Ruma pun ingin lari-larian, coba-coba buka tutup pintu masjid, bermain boneka — yang memang dibawanya dari rumah, di masjid. Saat shalat tarawih baru saja dimulai, tiba-tiba Ruma menangis. Saya gendonglah ia hingga rakaat keempat. Setelah tarawih pertama itu selesai, saya tanyakan pada Ruma kenapa dia menangis. Dia jawab, “Ada orang gila.” Saya pun tak percaya. Saya menganggap Ruma hanya mengkhayal seperti biasanya kalau mengkhayal. 

Saya hanya bilang padanya, “Sudah ya, ngga usah minta gendong lagi. Meme capek.” Ruma tidak mau. Akhirnya saya gendong hingga shalat witir hampir selesai.

Saat posisi tahiyat akhir, saya melihat Ruma sibuk dengan teh di depannya. Dia juga mengeluarkan tisu dari tas saya. Dan benarlah tebakan saya, begitu shalat usai, Ruma langsung lapor, “Me, tehnya tumpah.”

Tak usah menunggu lama, meluncurlah kalimat-kalimat dengan nada tinggi dari lisan saya. Saya omeli ini itu mulai dari Tuh kaan, apa Meme bilang? Tumpah beneran kan? Dibilangin dari tadi ngga usah bawa-bawa teh ke sini kok sampai Yaudah, sekarang kamu (iya, kamu, biasanya Ruma atau Mbak Ruma) buang plastik ini sendiri atau biar Meme yang buang, kamu tunggu di sini jagain tas Meme, dan itu semua dengan nada tinggi plus muka jutek. Langsung deh Ruma menangis lagi.

Sudah melihat dia nangis begitu, bukannya iba saya malah masih ngomel. Saya itu sebenarnya marah karena tisu saya jadi berkurang banyak untuk mengelap tumpahan teh, tapi juga kesel karena yang saya takutkan malah benar terjadi.
Akhirnya setelah bertemu Pepenya, ditanyakan baik-baik masalahnya, Ruma cerita awal mula dia menangis karena dia sedang bermain dengan bonekanya, lalu ada seorang ibu berpenampilan kumuh memarahinya dan bilang bahwa dia tidak boleh mengambil bonekanya lagi. Jadi si ibu itu mau mengambil boneka Ruma namun akhirnya dikembalikan oleh ibu lain. Itulah sebab Ruma menangis dan jadi tidak ceria setelah sebelumnya ceria banget main-main di masjid.

Dan saya gagal memahaminya. Gimana mau paham sih, dengar saja cuma sambil lalu dan tidak menanggapi apapun. Gimana mau menanggapi, mempercayai ceritanya saja tidak. Sungguh maafkan Meme, Nak.

Dan kisah tentang teh yang tumpah, sama sekali tak diceritakan pada Pepenya. Sungguh baiknya hatimu, Nak. Padahal Ruma tak sengaja. Padahal Ruma sudah berkata jujur dengan melaporkan bahwa tehnya tumpah. Padahal Ruma sudah bertanggung jawab dengan mencari tisu di tas Meme dan berusaha membersihkannya.

Dan padahal — kata Pepe setelah tahu semua masalahnya — lantai masih bisa dibersihkan, sementara luka hati anak karena perkataan kasar ibunya, belum tentu bisa dipulihkan. Itu juga yang selalu Meme katakan ketika emosi tidak di puncak. Tapi saat menghadapi realita, hilang semua teori itu. Astaghfirullaah.

PR mulai hari ini, jaga lisan saat anak sedang berulah yang membuat kita tak suka. Jangan sampai terpancing meledak-ledak. Karena sungguh, anak tidak pernah salah meniru. Jangan pernah kau ulangi lagi kejadian malam itu.

Untukmu yang Ingin Berhenti Bekerja

Untukmu yang Ingin Berhenti Bekerja

Dua hingga tiga dekade lalu, jumlah ibu yang bekerja di sektor publik jauh lebih banyak dari saat ini. Seiring perkembangan zaman yang makin meresahkan, dilihat dari banyaknya kasus ekstrim (pornografi, married by accident, LGBT, dsb) yang mengancam anak-anak kita membuat para ibu tergerak pulang kembali ke rumah untuk mengurus anak-anak mereka dengan tangan mereka sendiri, menjadi madrasah pertama dan utama bagi mereka. Tentu hal ini sangat kita syukuri, karena memang sejatinya peran utama seorang wanita setelah menikah adalah mengurus suami, anak-anak dan rumah tangga.

Namun terkadang, ada kondisi tidak ideal yang terjadi dalam sebuah keluarga yang membuat seorang ibu belum bisa kembali ke rumah untuk mengurus dan mendidik anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Misalnya, kehilangan suami selaku pencari nafkah utama karena meninggal atau berpisah, suami sedang diuji dengan penyakit sehingga untuk sementara waktu tidak bisa mencari nafkah. Atau seorang ibu yang ingin kembali ke rumah untuk mengurus anak-anak namun terbentur beberapa kendala, seperti: belum mengantongi ridha suami untuk keluar dari pekerjaan, masih harus menanggung keperluan anggota keluarga lain, permintaan kedua orang tua dan mertua, serta aneka rupa alasan lain yang menyulitkan ibu tersebut untuk keluar dari pekerjaan.

Kendala-kendala seperti itu memang cukup menyesakkan dada, mengingat kontrol berada di luar diri sang ibu, sehingga seakan tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja di luar rumah.

Untuk itu saya menulis tulisan ini, supaya ibu-ibu yang galau ingin berkarir di rumah namun terhalang faktor-faktor yang cukup berat bisa bangkit, tidak larut dalam kesedihan dan bisa kembali bersemangat mengejar mimpinya yakni menjadi madrasah utama bagi anak-anak sekaligus manajer rumah tangga yang baik.

Satu: Akui, Terima, Maafkan Diri Sendiri dan Orang Lain

Salah satu kunci untuk berbahagia adalah dengan menerima kondisi dan diri sendiri apa adanya. Akuilah bahwa sementara ini kita memang masih berstatus sebagai ibu bekerja yang pada waktu tertentu tidak dapat membersamai anak di rumah. Jangan denialterhadap kondisi yang dialami dan berpura-pura menjadi seseorang yang bukan kita. Kemudian, setelah mengakui dan menerima, kita perlu memaafkan diri sendiri dan orang lain yang — mungkin — menjadi salah satu kendala yang menyebabkan kita belum bisa berhenti bekerja. Hilangkan rasa bersalah meninggalkan anak di rumah, karena itu semua bukan keinginan kita.

Dua: Tetapkan Deadline Kapan Akan Berhenti Bekerja

Kalau sudah yakin bahwa kita memang berniat berhenti bekerja, tetapkan deadline tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian saya harus berhenti bekerja. Ini untuk mengukur usaha-usaha apa saja yang akan kita lakukan selama kurun waktu tersebut sehingga pada saat deadline kita sudah punya bekal yang cukup.

Tiga: Berusaha Mencari Alternatif Pekerjaan Lain

Setelah menentukan deadline,mulailah melakukan aksi nyata yang mendekatkan kita pada impian kita untuk bekerja dari dalam rumah. Apalagi kendala-kendala yang disebutkan tadi bermuara pada satu hal, yakni kekhawatiran akan aspek finansial. Maka tidak ada pilihan lain selain mencari alternatif pekerjaan yang sekiranya dapat dilakukan dari dalam rumah. Saat ini, saya kira ada banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukan dari dalam rumah, sebutlah itu pedagang baik online maupun offline, penulis, desainer, freelancer, translator, editor, guru les privat, crafter, dsb. Yang terpenting carilah bidang-bidang yang sesuai dengan minat dan keahlian kita.

Yang menjadi pertanyaan, jika kita pun masih bingung apakah bidang yang menjadi keahlian kita, bagaimana? Tenang, pilih saja bidang yang paling kita sukai dan relevan dengan mimpi kita, pelajari, cari guru, dan berlatihlah dengan maksimal sampai menjadi ahli di bidang tersebut.

Dalam melakukan usaha ini, tentu harus dilakukan setiap hari dan tulis di jadwal harian supaya kita terpacu untuk konsisten mengerjakannya hingga tidak melewati batas deadline.

Empat: Tunjukkan Akhlak yang Baik

Memang kendala-kendala yang menyulitkan kita untuk keluar dari pekerjaan adalah dari orang lain, yang kebetulan hubungannya sangat dekat dengan kita. Karena itu, jangan sampai kita menunjukkan akhlak yang buruk pada mereka. Ikhlaslah, tunjukkan akhlak yang baik, jangan lupakan untuk selalu melakukan perbuatan yang mulia pada mereka. Kedepankan prasangka baik, karena bisa jadi merekalah yang menjadi sebab kita meraih keutamaan dari Allah.

Lima: Berdo’a

Allahlah yang Maha Membolak-balikkan hati-hati manusia. Dia yang Maha Berkehendak, maka mohonlah selalu dengan permintaan yang lembut terutama pada waktu-waktu mustajab, rayulah Dia karena apapun yang kita lakukan adalah demi mendapatkan ridhaNya dan memenuhi seruanNya untuk tetap di rumah. Berprasangka baiklah selalu kepadaNya dan jangan sampai putus asa dan bosan memohon kebaikan dariNya.

Enam: Tawakkal

Jika kelima cara tadi sudah kita lakukan, saatnya kita menyerahkan hasilnya pada Allah. Pasrahkan semua pada kehendakNya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membebani kita dengan beban yang tidak sanggup kita tanggung. Karena sejatinya Allah yang Maha Mengetahui segala yang terbaik bagi kita, hamba-hambaNya. Tugas kita hanya berdo’a dan berusaha. Urusan hasil, biar Dia yang tentukan. Apapun hasilnya, tetap harus kita syukuri.

Semoga bermanfaat. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.

Diselesaikan pada 13 Juni 2017, sebagai catatan untuk diri sendiri

Bukan Penghalang Mimpimu

Bukan Penghalang Mimpimu

Sebelum menikah, perempuan itu adalah aktivis. Dua puluh empat jam sehari seakan tak cukup untuknya. Dari pagi sampai malam, banyak tempat sudah ia kunjungi. Hidupnya seakan sangat produktif. Rapat dewan mahasiswa, praktikum kelompok sains, proyek dengan dosen, mengurus sanggar yang didirikannya bersama sahabat-sahabatnya dan seabrek aktivitas lain yang tentunya menguras energi namun tidak keceriaan di wajahnya. Hidupnya memang di sana.

Namun semua berubah setelah menikah. Dua puluh empat jam sehari memang masih seakan tak cukup untuknya. Bedanya, kini ia hanya berkutat di sebuah rumah  tak terlalu luas bersama beberapa dua batita yang bahkan belum bisa diajak bercerita. Sumpek. Belum lagi aneka rupa pekerjaan rumah nyaris tiada henti yang tentunya menguras energi. Namun kini semua itu merenggut keceriaan di wajah manisnya.

Anggapannya satu: merekalah penghalang mimpi-mimpiku. Bagaimana bisa mengejar mimpi kalau setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya melakukan aktivitas yang itu-itu saja? Lelah namun miskin produktivitas.

Akrab dengan situasi di atas? Saya rasa hampir semua ibu, terutama ibu baru mengalaminya. Seakan tidak lagi bisa mewujudkan mimpi karena waktu rasanya tak cukup. Aneka tetek bengek urusan anak dan rumah tangga sudah lebih dulu menjadi prioritas harian. Sekedar mandi dua kali sehari saja ngga sempat, boro-boro menggali cita-cita zaman muda yang masih belum kesampaian?

Padahal, kalau boleh berpendapat, bagaimana kalau kita ubah mindset yang kadung tertanam di benak, bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan mulia yang tak bisa dibandingkan dengan sehebat apapun mimpi masa muda kita. Bagaimana kalau menjadi ibu yang baik, profesional dan sungguh-sungguh kita jadikan mimpi baru sehingga pekerjaan utama yang mulia itu menjadi semakin greget untuk dilakukan?

Saya tidak akan membahas keutamaan-keutamaan pekerjaan seorang ibu yang tentu sudah banyak kita ketahui, tapi saya berharap perempuan-perempuan yang telah menjadi ibu dan merasa pekerjaan barunya sungguh melelahkan akan merasakan semangat baru, karena sungguh keikhlasan itu menerbitkan semangat.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Nikmatilah saat-saat membersamai anak, jadikanlah waktu-waktu bersamanya istimewa dengan mengadirkan hati dan fikiran pada mereka, jangan disambi memikirkan atau mengerjakan hal lain. Terlibatlah dalam aktivitas mereka, dan sebaliknya libatkan mereka dalam aktivitas yang kita lakukan. Mereka bisa belajar banyak hal dari sana. Kalau kata Pak Ading Childhood Optimizer, jadikan anak sebagai partner kegiatan, bukan penghambat.

Begitu pula dengan aneka rupa pekerjaan rumah tangga yang berkelanjutan itu, kerjakanlah dengan ikhlas, sepenuh hati, tanpa menggerundel. Tapi tak perlulah terlalu perfeksionis, demi kewarasan jiwa.

Nah, kalau kita sudah beres pada dua hal di atas, boleh menambah kegiatan demi mimpi-mimpi kita. Beres di sini maksudnya kita sudah benar-benar menikmati peran kita. Tidak merasa direpotkan dengan tetek bengek urusan domestik dan anak-anak. Repot sih repot, namun kita mampu menghadirkan rasa yang berbeda saat melakukannya.

Saat kita sudah ikhlas dengan peran kita sebagai ibu, kita bisa melakukan hobi yang sempat terbengkalai karena sibuk urusan anak dan rumah tangga. Kita bisa belajar hal-hal baru yang menjadi minat kita. Kita bisa menekuni bidang-bidang yang merupakan keahlian kita. Benarlah kata Bu Septi Peni founder IIP, bahwa mendidik anak, bekerja dan berkarya adalah satu kesatuan tak terpisahkan yang tidak saling mengorbankan.

Kita masih bisa bermimpi, wajib memelihara dan memperjuangkan mimpi karena dengan punya mimpi kita merasa bertenaga, bergairah menjalani hidup di dunia ini. Orang yang tidak punya mimpi hanya seperti mayat hidup yang menjalani hari dengan mengikuti arus, tanpa rasa dan pemaknaan.

Ingat, anak bukan penghalang mimpi kita. Jadikan mereka partner untuk mewujudkan mimpi besar keluarga kita: berkumpul di surgaNya.

Diselesaikan pada 14 Juni 2017, terinspirasi dari obrolan di WhatsApp grup

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Beberapa pekan lalu saya mendengarkan kajian Ustadz Firanda hafizhahullaah dengan tema “Masuk Surga Sekeluarga.” Tentu setiap kita mencita-citakan masuk surga sekeluarga. Sudahlah masuk surga yang kenikmatannya belum pernah terindera oleh siapapun, ditambah lagi Allah kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai di dunia. Ayah ibu kita, anak-anak, saudara, pasangan hidup, berkumpul bersama di sebaik-baik tempat peristirahatan. Sungguh kenikmatan yang berlapis-lapis.

Adakah itu keinginan semata? Atau sudah ada rencana serius yang dibuktikan dengan amalan nyata supaya keinginan itu terwujud nyata?

Satu hal yang digarisbawahi agar masing-masing kita dalam mewujudkan keinginan sehidup sesurga adalah seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al Baqarah ayat 237,

Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian (QS Al Baqarah: 237)

Ya, inilah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga yang insya Allah bisa membawa kita berkumpul kembali di surga bersama orang-orang yang kita cintai semasa hidup.

Seperti yang disampaikan beliau hafizhahullah, keutamaan yang dimaksud di sini bukan kebaikan-kebaikan atau sifat baik yang dimiliki suami atau istri kita — meskipun kita juga diperintahkan untuk selalu berusaha mencari-cari kebaikan pasangan untuk melanggengkan cinta.

Keutamaan di sini lebih merujuk kepada perlakuan yang lebih baik kepada pasangan hidup kita, akhlak utama yang kita tunjukkan semata-mata untuk mencari ridha Allah yang dengan sebab itu rumah tangga akan berkah dan bisa membawa penghuninya menuju surga bersama-sama.

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullaah dalam tafsirnya menafsirkan ada dua macam akhlak yang dianjurkan dalam bergaul dengan manusia, yakni akhlak yang baik — di antaranya adalah perbuatan jujur dan adil serta yang lebih baik dari itu, yakni akhlak yang utama, yakni memberi lebih dari apa yang dianjurkan serta toleransi dalam meminta hak. Dua hal ini sebagai modal utama bergaul dengan manusia. Nah, dengan sesama manusia saja kita dianjurkan untuk menunjukkan akhlak yang utama, maka apatah lagi dengan pasangan hidup kita, keluarga kita?

Seperti kita ketahui, ada kalanya rumah tangga diguncang prahara, salah satu pihak berlaku zhalim terhadap pasangannya, ada yang merasa terzhalimi, pertengkaran yang terus-menerus misalnya, tentu akan membuat suasana rumah tak keruan, tak ubahnya seperti neraka. Dalam keadaan seperti ini sikap kita sebagai pihak yang terzhalimi misalnya, adalah dengan tetap berakhlak baik pada pasangan yang menzhalimi kita, lakukan apa-apa yang menjadi kewajiban kita, serta toleransi dalam meminta hak. 

Ini relevan dengan yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi dalam buku beliau yang berjudul “Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia, hendaknya masing-masing suami istri mencari kewajiban-kewajiban kepada pasangannya, menunaikannya sesuai kemampuan dan bersabar menantikan pihak lain menunaikan hak kita.

Karena sungguh, hidup berrumah tangga bukan sekedar hak dan kewajiban. Sepatutnya kita tunjukkan kemuliaan dengan memberi lebih dari yang seharusnya.

Dengan saling menunjukkan akhlak yang utama, masing-masing suami istri akan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang memicu kebahagiaan di dunia, dan apabila dibingkai dalam ketaatan kepada Allah serta melalukan amal shalih, niscaya kebahagiaan tersebut akan berlanjut di akhirat, di surgaNya. Sungguh pada yang demikian itu, hendaknya kita berlomba-lomba.

Semoga dimudahkan.

Ditulis dan diselesaikan pada 12 Juni 2017, sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Sungguh Hidayah Itu

Sungguh Hidayah Itu

Sejak dulu saya suka sekali dengan terjemah Surah Asy Syams ayat 7 sampai 10,

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya . Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS Asy Syams: 7-10)

Menurut saya, ayat ini terkait sekali dengan konsep hidayah. Bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang berkehendak apakah seseorang itu layak diberi hidayah atau tidak, sekarang atau besok. Allahlah yang mengilhamkan kepada jiwa kita jalan yang akan kita pilih, apakah itu jalan fujur dan jalan takwa. Dan meskipun hidayah itu murni hak Allah, tugas kita adalah terus-menerus mencarinya, bukan hanya menunggu kedatangannya — yang memang hak prerogatif Allah.

Terhadap hal ini, saya jadi ingat salah satu kawan akrab semasa sekolah, yang sejak menikah dan punya anak, alhamdulillah telah mendapatkan karunia hidayah. Dan betapa perubahannya sungguh luar biasa, masya Allah tabarakallah. Dia yang dulunya cukup berjarak dengan segala sesuatu berbau Islam, kini bahkan sudah sampai level marketing dakwah. Masya Allah, semoga istiqamah.

Maka benar, sungguh hidayah itu milik Allah. Dia yang gerakkan, bolak-balikkan hati hamba-hambaNya dari yang dulunya berjalan di jalan fujur menuju jalan takwa. Demikian pula sebaliknya. Sudah banyak kisah seorang yang dulunya ahli ibadah yang lalu terjebak futur dan tidak lagi menggenggam hidayahNya.

Maka atas semua itu, kita — yang mungkin saat ini “merasa” sudah berada di jalanNya yang lurus, jangan sampai menjadi sombong, merasa lebih baik dari saudara kita yang lain, karena sejatinya kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan kita.

Namun satu yang harus selalu kita lakukan, mohonlah kepada Allah kekekalan dalam hidayah, dengan do’a yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam,

Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu. Wahai Yang Maha Memalingkan hati, palingkanlah hatiku kepada ketaatan kepadaMu. (hadits riwayat Tirmidzi, Ahmad, Hakim dishahihkan oleh Adz Dzahabi)

Sungguh hidayah itu milik Allah. Maka jika sudah kau genggam, jangan sekali-kali kau lepaskan.

Ditulis dan diselesaikan pada 12 Juni 2017, untuk seorang teman: hijrahmu, sungguh menginspirasiku

 

Hadirkan Hati Saat Membersamai

Hadirkan Hati Saat Membersamai

Sekarang setiap pekan selalu disuguhi materi-materi gurih dari kelas Matrikulasi IIP oleh Ibu Septi Peni Wulandani — duh keknya ngga bosen-bosen deh ngebahas kelas offline nan syuper keren ini. Mudah-mudahan ngga cuma euforia sesaat ya, alias cuma rajin ngerjain PR tapi ngga diterapkan blas dalam keseharian.

Jadi pas materi pekan keempat kan temanya tentang “Mendidik dengan Kekuatan Fitrah.” Intinya setiap bayi yang lahir itu sudah membawa 4 fitrah, yaitu fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan. Nah, tugas orang tualah yang merawat fitrah-fitrah tersebut supaya tumbuh sempurna. 

Jadi pendidikan berbasis fitrah itu bukan tentang mengajarkan, menjejalkan (outside in) materi-materi pembelajaran kepada anak melainkan lebih kepada membangkitkan (inside out) fitrah atau potensi kebaikan yang sudah ter-install dalam diri supaya semakin menonjol dan tujuan akhirnya anak akan memahami untuk menjalankan peran apa dia diciptakan. Tentunya semua bermuara kepada ibadah. Karena tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dengan yang namanya inside out tadi orang tua tidak perlu galau dan menggegas anak untuk menguasai beragam keterampilan yang dimiliki anak lain namun tak dimiliki anak kita. Terkait hal ini saya juga pernah, bahkan sering sampai sekarang, galau bin baper kalau anak belum bisa begini-begini sementara anak lain yang usianya sama sudah bisa begitu-begitu. Kadang kalau kayak gitu merasa jadi ibu yang gagal. Nah, perasaan kayak gitu yang perlu dihilangkan. Kita adalah ibu terbaik untuk anak-anak kita. Jadi tak perlu galau dengan pencapaian orang lain. Buat sejarah kita sendiri bersama anak-anak kita.

Nah, untuk bisa mendidik dengan kekuatan fitrah, untuk bisa menemukenali bidang apa sejatinya yang akan menjadi peran spesifik anak-anak kita kelak — sehingga tidak telat seperti kita, Bu Septi menjabarkan tujuh tahap yang harus dilalui seorang ibu. Nah, satu tahap yang menurut saya paling prioritas untuk dilakukan mulai sekarang adalah manfaatkan momen-momen membersamai anak. Hadirkan segenap hati dan fikiran saat bersama anak. Bersama dan membersamai adalah dua hal yang berbeda. Kita bersama anak di suatu tempat yang sama, melakukan aktivitas yang sama tapi hati dan fikiran kita melayang entah ke mana, apakah itu tumpukan piring kotor atau lantai yang seharian ini belum dibersihkan. Namun membersamai, berarti kita memfokuskan segenap hati dan fikiran dalam mendampingi anak-anak, mendengarkan sepenuh perhatian atas celoteh mereka, bercakap-cakap sambil menatap bulat mata mereka, tanpa distraksi apapun.

Bagi saya hal itu masih merupakan PR besar, karena terkadang saya masih ter-distract oleh handphone, aneka rupa kerjaan rumah yang bikin gatel kalau ngga segera dibereskan, dan jujur saja kadang agak terganggu dengan kehadiran anak.  Akibatnya saya jadi merasa kurang menikmati saat-saat bersama anak.

Anak saya paling suka main pretend play, favorit saya juga semasa kecil. Namun agaknya kini saya gagal memahami perasaan anak sampai terkadang saya minta udahan ah mainnya, Meme masih banyak kerjaan, begitu kilah saya. Saya lupa betapa seusianya dulu, saya pun paliiiing suka main pretend play.

Pantas saya selama ini bingung dan galau, apa ya sebenarnya yang disukai anak saya? Bidang apa yang sekiranya kelak akan menjadi peran hidupnya? Ternyata sulit sekali menemukannya karena saya masih setengah-setengah membersamainya, belum memberikan atensi sepenuhnya atas apa-apa yang dilakukannya dalam keseharian. Oleh karena itu, kini saya harus berubah. Saya harus lebih perhatian padanya, berempati terhadap perasaannya saat melakukan suatu aktivitas, membayangkan ketika saya kecil dulu juga melakukan hal yang sama — susah disuruh mandi tapi suka berlama-lama kalau sudah di kamar mandi misalnya.

PR berat. Namun dengan do’a dan ikhtiar serta tawakkal yang maksimal, insya Allah seberat apapun tantangan akan tertaklukkan.

Diselesaikan pada 12 Juni 2017 di Yogyakarta, terinspirasi dari Materi #4 Kuliah Matrikulasi Institut Ibu Profesional

NHW #4: Mimpi Itu Menyala Lagi

NHW #4: Mimpi Itu Menyala Lagi

Disclaimer: Posting-an ini akan panjang.

Sejak mengikuti kuliah Matrikulasi Institut Ibu Profesional saya merasa hidup saya lebih bersemangat, lebih ingin memperbaiki diri terutama terkait mengelola waktu, mengatur kegiatan dan merencanakan keuangan. Lebih dari itu, saya pun kini berani punya mimpi. Sejak menikah dan punya anak, saya merasa hidup saya datar-datar saja. Tidak ada target yang ingin diraih selain menjadi istri dan ibu yang baik — tentu bukan sebuah target yang spesifik kan? Istri dan ibu yang baik itu yang bagaimana? Saya juga bingung. Bangun tidur, mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan keperluan anak, menyiapkan diri untuk pergi ke kantor, di kantor mengerjakan beberapa detail pekerjaan, pulang kantor belanja untuk keperluan memasak esok hari, sampai rumah main sama anak, lalu tidur lagi — dan bangun lagi untuk mengulang kegiatan yang sama. Entah sampai kapan saya melakukan segala rutinitas tanpa penghayatan itu.

Sejak tiga tahun lalu saya punya keinginan untuk resign dari kantor dan menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin seutuhnya mendampingi tumbuh kembang anak saya, menjadi madrasah pertama dan utama untuknya dan tentunya mengamalkan perintah Allah untuk tetap tinggal di rumah. Namun karena masih terbentur satu dan lain hal, keinginan itu hingga kini masih di awang-awang.

Selama ini saya berusaha menerima keadaan ini. Saya hanya bisa berdo’a semoga kelak ada jalan supaya saya bisa menjadi sebenar-benar ibu yang berdiam di rumahnya, tidak kerja kantoran seperti saat ini. Sampai akhirnya saya menerima kenyataan bahwa saya saat ini adalah ibu yang bekerja di luar rumah dan untuk beberapa waktu tidak berada di sisi anak. Saya pun perlahan melupakan mimpi saya dan hanya menunggu keajaiban.

Setelah mengikuti kelas matrikulasi IIP — yang memang salah satu tujuan saya bergabung adalah bisa menjadi ibu yang produktif dari dalam rumah — perlahan mimpi saya untuk bisa bekerja dari rumah, tetap bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan anak, mulai menyala kembali. Saya mulai berani bermimpi untuk bisa mendidik anak, menjadi ummul madrasah baginya, sekaligus membantu suami. Saya sadar, kondisi keluarga kami berbeda dengan keluarga lain. Dan tidak bisa saya terus-menerus berharap keadaan agar segera berubah. Karena kata salah satu pakar enlightening parenting, berubah itu mengubah. Tujuan yang fokusnya adalah merubah apa-apa yang ada di luar diri kita adalah tujuan yang paling rentan menimbulkan frustrasi. Untuk itu dalam hal ini, sayalah yang harus berubah. Kalau saya ingin segera resign dari kantor, saya harus bisa membuktikan bahwa saya tetap bisa produktif walaupun tidak dengan kerja kantoran.

Untuk itu, dalam NHW #4 ini, saya akan mencoba menjawab beberapa poin pertanyaan yang harus dijawab.

Apakah saya masih ingin mempelajari ilmu yang saya tulis dalam NHW #1?

Ya, saya masih ingin mempelajari ilmu berbicara dengan lemah lembut, terutama kepada suami dan anak. Kepada suami, dengan kelemahlembutan saya dalam berbicara dengan beliau, akan lebih mengharmoniskan rumah tangga kami. Kepada anak, jika saya lemah lembut anak akan semakin sayang pada ibunya dan saya mampu menjadi teladan anak dalam berbicara.

Namun, ternyata saya perlu menambahkan satu ilmu lagi, yakni ilmu untuk bisa menjadi ibu yang produktif dari dalam rumah, dalam hal ini fokus saya adalah untuk menulis tulisan yang bermanfaat dalam bidang kemuslimahan. Adapun saya juga berharap hal tersebut bisa menjadi penguat saya untuk bisa resign dari pekerjaan.

Apakah saya rutin melakukan checklist indikator perempuan profesional yang telah saya tulis di NHW #2?

Bisa dibilang saya sudah berusaha tetapi ada kondisi di mana saya tidak mampu menerapkan apa yang sudah saya tulis. Dan jika sadar saya telah khilaf, saya berusaha memperbaiki agar tidak terulang lagi. Istilahnya tidak tobat sambel.

Apakah sudah bisa membaca apa kira-kira maksud Allah menciptakan saya di muka bumi ini? Apakah bidang yang ingin saya kuasai sehingga peran hidup saya semakin jelas terlihat?

Di NHW #3, saya menulis kelebihan saya adalah senang melayani dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Dengan modal itu, saya mengira maksud Allah menciptakan saya adalah agar saya bisa menjadi ibu sekaligus penulis yang bermanfaat dan menginspirasi.

Dengan demikian, misi hidup saya adalah menyebarkan manfaat dan inspirasi lewat tulisan, bidang kemuslimahandan peran yang akan saya lakoni adalah menjadi ibu sekaligus penulis dalam bidang kemuslimahan.

Ilmu-ilmu apa saja yang akan saya pelajari untuk mendukung misi tersebut?

  1. Ilmu agama;
  2. Ilmu menulis dan menyebarkan tulisan;
  3. Ilmu parenting;
  4. Ilmu terkait kerumahtanggaan.

Bagaimana milestones saya dalam mempelajari ilmu-ilmu tersebut? 

Ilmu agama akan saya pelajari sepanjang hidup mulai hari ini (KM 0 sejak saya berusia 29 tahun lebih 3 bulan). KM 0 – KM 2 (dua tahun pertama): menguasasi ilmu parenting. KM 0 – KM 4 (empat tahun pertama): menguasai ilmu menulis. KM 2 – KM 4 (dua tahun kedua): menguasasi ilmu terkait kerumahtanggaan. Sehingga maksimal 4 tahun lagi saya sudah bisa menjadi seorang ibu sekaligus penulis produktif.

Apakah waktu-waktu untuk mempelajari ilmu tersebut sudah dimasukkan ke dalam checklist?

Saya sudah memasukkan waktu-waktu mempelajari ilmu tersebut ke dalam checklist. Semoga istiqamah mengerjakannya.

Selanjutnya, yang perlu dilakukan adalah just do it. Terus lakukan dan jangan putus asa. Terhadap hal ini saya harus banyak belajar dari suami saya yang sampai detik ini masih berusaha menempa diri menjadi wirausahawan tangguh. Saya pun ingin begitu hingga kelak iba masanya saya menjadi sebenar-benar ibu yang tetap bisa berkarya, meski dari dalam rumah.

Semoga Allah mudahkan saya meraih mimpi ini.

NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Alhamdulillah, kuliah matrikulasi IIP sudah memasuki pekan ketiga. Materi makin seru dan NHW-nya pun makin menantang. Kali ini materi yang diberikan adalah tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah.” Saya sudah cukup sering membaca literatur yang menyatakan bahwa rumah adalah pusat peradaban pertama dan utama manusia. Sejatinya pendidikan manusia pertama dimulai dari rumah, bukan sekolah dan lingkungan-lingkungan lain yang akan ia masuki. Oleh karena itu, benar kiranya jika seorang anak sudah “beres” di rumahnya, akan mudah baginya untuk memasuki lingkungan-lingkungan selanjutnya yang mendukung perkembangannya di kemudian hari.

Dalam membangun peradaban di sebuah keluarga, kerjasama dan kesamaan pandangan antara suami istri sangat dibutuhkan. Mustahil rasanya jika hanya salah satu pihak saja yang berusaha sementara pihak lain hanya diam atau bahkan tidak mendukung apa yang sedang diusahakan pasangannya. Bagi rumah tangga yang di tengah-tengah perjalanannya ada gesekan-gesekan, friksi, konflik, atau ketaksepahaman antar pasangan tentu tidak mudah ya. Oleh karena itu perlu kiranya untuk kembali me-refresh hubungan dengan pasangan, supaya suami istri bisa saling jatuh cinta lagi, tentunya bukan dengan orang lain, tapi dengan pasangan yang telah dihalalkanNya bagi kita. 

Nah, di NHW ini pun kami diberi tugas yang  challenging dalam menghangatkan kembali hubungan pasutri. Apakah itu? Membuat surat cinta kepada suami. Bagi saya agak sulit ya, karena tidak terbiasa mengungkapkan cinta via tulisan. Lagipula saya takut jika respon suami tidak sesuai harapan. Ternyata suami yang membaca surat itu hanya mengirimkan kiss emoticon saja sih. Waktu saya tanya apa maksudnya, suami cuma diam saja dan hanya memeluk saya. Entahlah. Tapi semoga dengan itu hubungan kami semakin kompak dan cita-cita mewujudkan peradaban dari dalam rumah bisa terwujud. Kalau kelebihannya suami apa ya? Rata-rata yang dipunyai suami ini tidak dipunyai oleh saya, seperti pekerja keras, kemampuan manajerial dan organisir yang baik, inisiator. Jadi bisa dibilang beliau dihadirkan untuk melengkapi kekurangan saya.

Bicara tentang peradaban dalam sebuah keluarga, tentunya anak juga termasuk karena merekalah pelaku yang melanjutkan peradaban kita nanti. Anak juga investasi akhirat bagi kita sehingga mendidik mereka butuh kesungguhan yang luar biasa. Saya sangat bersyukur dianugerahi putri seperti Rumaysa. Kami berharap Ruma bisa meneladani Rumaysa binti Malhan, shahabiyah yang terkenal dengan ketabahannya. Dia adalah permata hati kami yang sungguh ceria, senang dengan kelembutan, suka membantu dan penyayang. Dia juga sangat senang bermain peran, dibacakan buku, mudah menyerap apa yang dilihat (visual) dan senang aktivitas fisik. Di usianya yang kini 3,5 tahun Ruma sudah mengenal rasa malu, tidak mau memakai baju tanpa lengan, celana pendek dan selalu ingin menggunakan baju muslimah berikut jilbabnya kalau keluar rumah. Mudah-mudahan istiqamah hingga dewasa nanti ya, Nak. 

Lalu saya sendiri sebagai seorang ibu, apa ya kelebihannya? Saya adalah orang dengan tipe senang melayani dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain, terbuka terhadap kritik dan mau melakukan perubahan demi kondisi yang lebih baik. Semoga dengan modal itu bisa menjadikan saya sebagai ibu dan istri yang lebih baik lagi. 

Membangun peradaban juga terkait dengan lingkungan di sekitar kita. Ini agak sulit sih, karena saya merasa kami — saya dan suami — masih kurang aktif berbaur di lingkungan tempat tinggal. Semoga dengan bergabungnya saya di IIP ini membuat saya — dan juga suami — tergerak untuk memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Namun sebelumnya kami terlebih dahulu harus memperbaiki apa yang ada di dalam keluarga kami, sehingga jika keluarga kami sudah baik, sudah kompak, satu visi misi dalam pendidikan anak, suami mempercayakan pada saya sepenuhnya untuk menjadi guru pertama dan utama bagi putri kami, baru kami akan keluar untuk membagikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sekarang kami baru sebatas membantu jika ada tetangga yang minta bantuan (kebetulan ada tetangga janda kurang mampu di tempat kami yang masih butuh bantuan) dan takziyah jika ada tetangga yang meninggal dunia, serta berpartisipasi dalam kegiatan masjid di tempat kami (ini juga cukup PR karena suami kadang malah tidak begitu suka shalat berjama’ah di masjid dekat rumah kami dengan alasan lebih mantap di masjid yang lebih besar).

Kiranya itu saja yang bisa saya tuliskan di homework ketiga ini. Semoga cita-cita membangun peradaban dari  dalam rumah bisa segera terwujud dalam keluarga kami. Aamiin.