Akhlak Utama

Akhlak Utama

Sudah sering dengar kan, kisah seorang mulia yang namanya diabadikan Allah dalam salah satu surahNya, Luqman? Beliau memang bukan bangsawan, saudagar, orang kaya atau populer pada masanya, bahkan beliau hanyalah seorang budak. Namun karena kebijaksanaannya, beliau digelari Luqmanul Hakim, Luqman yang bijaksana.

Suatu hari, Luqman pernah ditanya oleh seseorang yang menyembelih kambing, bagian mana dari binatang itu yang paling baik. Lalu beliau menunjuk pada lidah dan hati si kambing. Kembali orang itu menanyakan, manakah bagian paling buruk dari kambing itu. Lagi-lagi beliau menunjuk bagian yang sama, lidah dan hati. 

Hal itu menunjukkan, dalam diri seorang manusia, bagian yang paling menentukan adalah lisan dan hati. Jika kedua bagian itu baik, maka baik pulalalah selainnya. Demikian sebaliknya jika lisan dan hati itu buruk, maka yang lain pun buruk pula.

Jadi bisa dikatakan seseorang itu baik apabila baik lisannya dan baik hatinya. Tidak bisa hanya baik salah satunya. Sering kan kita dengar, tak apalah ucapan menusuk asal maksudnya baik, demi kebaikan orang yang kita nasihati. Atau juga sering kita lihat orang yang manis tutur katanya pada seseorang, namun ternyata suka membicarakan keburukan orang tersebut di belakangnya. Pilih mana? 

Tentu tidak pilih dua-duanya, dong. Meski kadang, orang yang perkataannya kasar tetapi hatinya baik masih lebih baik daripada yang lain di mulut lain di hati.

Orang yang lisannya baik, tidak akan berbicara jika tak ada manfaatnya. Namun akan berbicara jika bicaranya lebih bermanfaat dari diamnya. Mereka tidak suka bergunjing, adu domba, mencela, berdusta — bahkan dalam kondisi bercanda sekalipun. Tutur katanya senantiasa lembut dan bisa mengontrol diri jika marah.

Orang yang hatinya baik, maka mereka tidak suka berprasangka buruk, tidak memelihara dendam, tidak iri kecuali kepada masalah akhirat dan selalu mampu melihat hikmah di balik peristiwa, sepahit apapun. 

Orang-orang baik ini, tentu tidak sebatas membalas kebaikan terhadap orang-orang yang baik padanya. Bahkan mereka tetap berbuat baik kepada mereka yang menzhaliminya. Mereka menerapkan benar perkataan Allah bahwa meskipun membalas keburukan dengan keburukan yang sama itu diperbolehkan, tapi memaafkan itu lebih utama. Mereka bergaul dengan sesamanya dengan prinsip keutamaan, bukan sekedar keadilan dan kejujuran.

Dan mengamalkan akhlak utama itu sungguh berat. Ya, karena surga sebagai balasannya.

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Beberapa pekan lalu saya mendengarkan kajian Ustadz Firanda hafizhahullaah dengan tema “Masuk Surga Sekeluarga.” Tentu setiap kita mencita-citakan masuk surga sekeluarga. Sudahlah masuk surga yang kenikmatannya belum pernah terindera oleh siapapun, ditambah lagi Allah kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai di dunia. Ayah ibu kita, anak-anak, saudara, pasangan hidup, berkumpul bersama di sebaik-baik tempat peristirahatan. Sungguh kenikmatan yang berlapis-lapis.

Adakah itu keinginan semata? Atau sudah ada rencana serius yang dibuktikan dengan amalan nyata supaya keinginan itu terwujud nyata?

Satu hal yang digarisbawahi agar masing-masing kita dalam mewujudkan keinginan sehidup sesurga adalah seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al Baqarah ayat 237,

Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian (QS Al Baqarah: 237)

Ya, inilah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga yang insya Allah bisa membawa kita berkumpul kembali di surga bersama orang-orang yang kita cintai semasa hidup.

Seperti yang disampaikan beliau hafizhahullah, keutamaan yang dimaksud di sini bukan kebaikan-kebaikan atau sifat baik yang dimiliki suami atau istri kita — meskipun kita juga diperintahkan untuk selalu berusaha mencari-cari kebaikan pasangan untuk melanggengkan cinta.

Keutamaan di sini lebih merujuk kepada perlakuan yang lebih baik kepada pasangan hidup kita, akhlak utama yang kita tunjukkan semata-mata untuk mencari ridha Allah yang dengan sebab itu rumah tangga akan berkah dan bisa membawa penghuninya menuju surga bersama-sama.

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullaah dalam tafsirnya menafsirkan ada dua macam akhlak yang dianjurkan dalam bergaul dengan manusia, yakni akhlak yang baik — di antaranya adalah perbuatan jujur dan adil serta yang lebih baik dari itu, yakni akhlak yang utama, yakni memberi lebih dari apa yang dianjurkan serta toleransi dalam meminta hak. Dua hal ini sebagai modal utama bergaul dengan manusia. Nah, dengan sesama manusia saja kita dianjurkan untuk menunjukkan akhlak yang utama, maka apatah lagi dengan pasangan hidup kita, keluarga kita?

Seperti kita ketahui, ada kalanya rumah tangga diguncang prahara, salah satu pihak berlaku zhalim terhadap pasangannya, ada yang merasa terzhalimi, pertengkaran yang terus-menerus misalnya, tentu akan membuat suasana rumah tak keruan, tak ubahnya seperti neraka. Dalam keadaan seperti ini sikap kita sebagai pihak yang terzhalimi misalnya, adalah dengan tetap berakhlak baik pada pasangan yang menzhalimi kita, lakukan apa-apa yang menjadi kewajiban kita, serta toleransi dalam meminta hak. 

Ini relevan dengan yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi dalam buku beliau yang berjudul “Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia, hendaknya masing-masing suami istri mencari kewajiban-kewajiban kepada pasangannya, menunaikannya sesuai kemampuan dan bersabar menantikan pihak lain menunaikan hak kita.

Karena sungguh, hidup berrumah tangga bukan sekedar hak dan kewajiban. Sepatutnya kita tunjukkan kemuliaan dengan memberi lebih dari yang seharusnya.

Dengan saling menunjukkan akhlak yang utama, masing-masing suami istri akan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang memicu kebahagiaan di dunia, dan apabila dibingkai dalam ketaatan kepada Allah serta melalukan amal shalih, niscaya kebahagiaan tersebut akan berlanjut di akhirat, di surgaNya. Sungguh pada yang demikian itu, hendaknya kita berlomba-lomba.

Semoga dimudahkan.

Ditulis dan diselesaikan pada 12 Juni 2017, sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Stop Ghibah

Stop Ghibah

Kalau ada satu dosa yang begitu ringan dilakukan namun bahayanya besar, mungkin itu adalah ghibah. 

Ghibah adalah membicarakan perihal seseorang yang kalau ia ada di tempat yang ia dibicarakan dan mendengarnya, niscaya ia akan tidak suka. Terlepas dari benar atau tidaknya perkara tersebut.

Jika benar, maka berarti ghibah. Namun jika tidak benar, hati-hati, itu masuk wilayah fitnah.

Betapa besar dosa yang ditimbulkan dari perbuatan ghibah. Amal kebaikan kita akan berpindah pada orang yang kita ghibahi, sementara dosa orang yang dighibah, akan dipindahkan kepada pengghibah-pengggibahnya. Betapa mengerikan kiranya kita datang kepada Allah dalam keadaan bangkrut.

Sulit, memang sulit untuk lepas dari kebiasaan ini. Apalagi jika orang yang sedang ngobrol dengan kita adalah orang yang nyambung, cocok, klop. Bisa-bisa kita ikut-ikutan dalam kenikmatan mengghibahi orang. Namun jika ngobrol bersama orang yang tidak begitu cocok pun, menghindar dari ghibah juga cukup sulit. Biasanya karena rasa tidak enak kalau tidak menimpali pembicaraan lawan bicara. Paling kalau dalam keadaan seperti itu saya hanya bisa diam, mengingkari dalam hati dan berusaha mengalihkan pembicaraan — yang tentu juga tidak mudah.

Sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Mintalah pertolongan dari Allah supaya dipalingkan kesenangan kita dari berghibah, dihilangkan keinginan untuk bergunjing, dipertemukan dengan teman-teman yang tidak suka bergosip.

Saya jadi ingat sebuah quote, small people talk about people, average people talk about event, great people talk about ideas. Jadi mulai sekarang, ubah topik pembicaraan menjadi sesuatu yang berguna yuk. Kalau memang bingung yaudah, diem aja. Karena sabda Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dari Abu Hurairah:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam” (Muttafaq ‘alaih: Al Bukhari no 6018 dan Muslim no 47

Sumber: muslimah.or.id