Bingung Cari Pengganti Angpau Lebaran?

Bingung Cari Pengganti Angpau Lebaran?

Hari Raya Idul Fitri selain identik dengan ketupat, opor, takbiran, mudik, juga kerap dikaitkan dengan salam tempel atau amplop berisi lembaran uang (baru) yang diberikan dari orang yang lebih tua kepada yang muda khususnya anak-anak.

Tradisi ini ada dampak positifnya, yakni menanamkan kebiasaan gemar berbagi dan bersedekah, namun juga mengandung dampak negatif berupa pengenalan uang yang terlalu dini pada anak dan memperkenalkan gaya hidup konsumerisme.

Tahun-tahun lalu saya sebagai orang tua juga memberikan beberapa angpau kepada para sepupu dan keponakan yang lebih kecil. Namun tahun ini setelah membaca tulisan Ibu Sarra Risman di sebuah grup parenting yang diasuh bersama keluarganya, saya pun mengamini dampak negatif pemberian angpau pada anak.

Bagi saya, pemberian angpau tersebut terkesan kurang bermanfaat karena seperti membuang-buang uang dan sifatnya hanya untuk wangun-wangunan saja. Semacam hanya ikut tradisi dan rasa tidak afdhal serta pekewuh kalau tidak bagi-bagi angpau.

Kembali ke tulisan Bu Sarra tadi, beliau menyebutkan alternatif pengganti angpau yang lebih pas dan bermanfaat untuk diberikan kepada anak-anak kecil. Di antaranya buku, pakaian dan celengan.

Wah, ide yang menarik tuh, terutama celengan. Anak-anak langsung bisa menabungkan angpau-angpau yang dimilikinya, sehingga tidak jadi konsumtif. Hal ini juga mengajarkan anak kebiasaan menabung. Semoga saja benar begitu ya. Jadi untuk tahun ini saya tidak bagi-bagi angpau lagi, melainkan celengan.

Ide memberi buku juga sangat bermanfaat karena diharapkan dapat meningkatkan minat baca anak. Apalagi kalau pilihan bukunya memang cocok untuk anak yang bersangkutan.

Satu lagi, kita juga bisa memberi alat-alat tulis seperti notes kecil bergambar lucu, pensil atau penghapus dengan bentuk yang lucu, tempat alat tulis dengan gambar yang disukai anak. Insya Allah lebih bermanfaat bagi anak-anak, ketimbang memberi mereka “mentahan” yang kadang digunakan untuk membeli barang-barang yang kurang berguna.

Memang lebih ribet, karena harus mencari-cari barang yang tentunya tidak hanya ada di satu tempat, terutama jika jumlah anak yang diberi banyak. Namun mengingat peluang manfaatnya, tidak mengapalah. Mudah-mudahan anak-anak itu menjadi gemar menabung, gemar membaca dan gemar belajar, alih-alih gemar belanja.
Semoga ada manfaatnya, bagi teman-teman yang rencananya akan berbagi dengan kerabat-kerabat kecilnya.

Ditulis H-1 Idul Fitri 1438, dikembangkan dari posting-an Ibu Sarra Risman yang disebarkan di Whatsapp Grup

Bukan Penghalang Mimpimu

Bukan Penghalang Mimpimu

Sebelum menikah, perempuan itu adalah aktivis. Dua puluh empat jam sehari seakan tak cukup untuknya. Dari pagi sampai malam, banyak tempat sudah ia kunjungi. Hidupnya seakan sangat produktif. Rapat dewan mahasiswa, praktikum kelompok sains, proyek dengan dosen, mengurus sanggar yang didirikannya bersama sahabat-sahabatnya dan seabrek aktivitas lain yang tentunya menguras energi namun tidak keceriaan di wajahnya. Hidupnya memang di sana.

Namun semua berubah setelah menikah. Dua puluh empat jam sehari memang masih seakan tak cukup untuknya. Bedanya, kini ia hanya berkutat di sebuah rumah  tak terlalu luas bersama beberapa dua batita yang bahkan belum bisa diajak bercerita. Sumpek. Belum lagi aneka rupa pekerjaan rumah nyaris tiada henti yang tentunya menguras energi. Namun kini semua itu merenggut keceriaan di wajah manisnya.

Anggapannya satu: merekalah penghalang mimpi-mimpiku. Bagaimana bisa mengejar mimpi kalau setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya melakukan aktivitas yang itu-itu saja? Lelah namun miskin produktivitas.

Akrab dengan situasi di atas? Saya rasa hampir semua ibu, terutama ibu baru mengalaminya. Seakan tidak lagi bisa mewujudkan mimpi karena waktu rasanya tak cukup. Aneka tetek bengek urusan anak dan rumah tangga sudah lebih dulu menjadi prioritas harian. Sekedar mandi dua kali sehari saja ngga sempat, boro-boro menggali cita-cita zaman muda yang masih belum kesampaian?

Padahal, kalau boleh berpendapat, bagaimana kalau kita ubah mindset yang kadung tertanam di benak, bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan mulia yang tak bisa dibandingkan dengan sehebat apapun mimpi masa muda kita. Bagaimana kalau menjadi ibu yang baik, profesional dan sungguh-sungguh kita jadikan mimpi baru sehingga pekerjaan utama yang mulia itu menjadi semakin greget untuk dilakukan?

Saya tidak akan membahas keutamaan-keutamaan pekerjaan seorang ibu yang tentu sudah banyak kita ketahui, tapi saya berharap perempuan-perempuan yang telah menjadi ibu dan merasa pekerjaan barunya sungguh melelahkan akan merasakan semangat baru, karena sungguh keikhlasan itu menerbitkan semangat.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Nikmatilah saat-saat membersamai anak, jadikanlah waktu-waktu bersamanya istimewa dengan mengadirkan hati dan fikiran pada mereka, jangan disambi memikirkan atau mengerjakan hal lain. Terlibatlah dalam aktivitas mereka, dan sebaliknya libatkan mereka dalam aktivitas yang kita lakukan. Mereka bisa belajar banyak hal dari sana. Kalau kata Pak Ading Childhood Optimizer, jadikan anak sebagai partner kegiatan, bukan penghambat.

Begitu pula dengan aneka rupa pekerjaan rumah tangga yang berkelanjutan itu, kerjakanlah dengan ikhlas, sepenuh hati, tanpa menggerundel. Tapi tak perlulah terlalu perfeksionis, demi kewarasan jiwa.

Nah, kalau kita sudah beres pada dua hal di atas, boleh menambah kegiatan demi mimpi-mimpi kita. Beres di sini maksudnya kita sudah benar-benar menikmati peran kita. Tidak merasa direpotkan dengan tetek bengek urusan domestik dan anak-anak. Repot sih repot, namun kita mampu menghadirkan rasa yang berbeda saat melakukannya.

Saat kita sudah ikhlas dengan peran kita sebagai ibu, kita bisa melakukan hobi yang sempat terbengkalai karena sibuk urusan anak dan rumah tangga. Kita bisa belajar hal-hal baru yang menjadi minat kita. Kita bisa menekuni bidang-bidang yang merupakan keahlian kita. Benarlah kata Bu Septi Peni founder IIP, bahwa mendidik anak, bekerja dan berkarya adalah satu kesatuan tak terpisahkan yang tidak saling mengorbankan.

Kita masih bisa bermimpi, wajib memelihara dan memperjuangkan mimpi karena dengan punya mimpi kita merasa bertenaga, bergairah menjalani hidup di dunia ini. Orang yang tidak punya mimpi hanya seperti mayat hidup yang menjalani hari dengan mengikuti arus, tanpa rasa dan pemaknaan.

Ingat, anak bukan penghalang mimpi kita. Jadikan mereka partner untuk mewujudkan mimpi besar keluarga kita: berkumpul di surgaNya.

Diselesaikan pada 14 Juni 2017, terinspirasi dari obrolan di WhatsApp grup

Mengalahkan Rasa Takut

Mengalahkan Rasa Takut

Dua bulan lalu, sekitar Maret 2017, Ruma mengalami masa mogok sekolah. Namun mogoknya ini bukan karena dia ngga suka pergi ke sekolah, bosan dengan aktivitas dan pembelajaran di sekolah, mengalami separation anxiety dengan orang tuanya, melainkan trauma gara-gara melihat hidung temannya mengeluarkan darah. Bukan mimisan sih, tapi kena roda tas salah seorang temannya yang lain. Dan darahnya itu banyak banget kata Ruma. Mulai hari itu dan seterusnya selama hampir sebulan, setiap mau berangkat sekolah selalu ada drama. Mulai dari nangis sampai muntah-muntah, minta ditunggu ngga mau ditinggal, sampai cuma nangis doang di awal berangkat sekolah. Masa paling heboh adalah dua pekan awal pasca kejadian teman berdarah. Sampai minta ditarik dari sekolah.

Untungnya sekarang masa itu sudah berlalu. Ruma sudah kembali masuk sekolah dengan ceria. Pulang sekolah juga selalu bersemangat menceritakan kejadian-kejadian yang dia alami di sekolah. Pelajarannya bagi saya adalah sebagai orang tua harus selalu menunjukkan keberanian terhadap apapun yang dihadapi. Jangan pernah menunjukkan ketakutan terhadap sesuatu di depan anak. Saya ini memang orangnya penakut sekali. Terutama pada darah, misalnya lihat orang kecelakaan, (dulu) nonton sinetron di mana pemerannya mengalami muntah darah atau batuk darah, duh pasti saya langsung teriak dan menutup mata. Pokoknya menunjukkan ekspresi lebay. Nah, itu yang ditangkap anak sehingga dia pun jadi takut terhadap hal yang sama.

Saya jadi ingat, beberapa bulan lalu, sekitar akhir November 2016, Ruma juga mendadak jadi anak yang penakut. Dia yang biasanya berani ditinggal sebentar jika saya mandi atau ke toilet, mulai asyik bermain sendiri, mendadak jadi anak yang mudah menangis kalau ditinggal dan harus selalu ditemani. Pergi mengambil sesuatu di luar ruangan di mana saya tidak di sampingnya juga sudah ngga mau. Bingunglah saya, sampai saya tanya-tanya sama teman-teman yang ngerti psikologi anak kok. Ternyata setelah saya ingat-ingat itu, memang tempo harinya sempat dengar suara heboh tabrakan gitu di jalan. Saya juga langsung bereaksi heboh ketakutan. Ruma sih diam saja waktu itu. Tapi ternyata, reaksi saya terhadap kejadian itu terekam jelas di otaknya sehingga dia mendadak jadi penakut.

Dengan dua kejadian itu, kini saya harus lebih hati-hati lagi saat menanggapi atau bereaksi terhadap sesuatu yang di luar kendali saya. Saya harus bisa memaksa diri untuk lebih berani, meskipun dalam hati sih takut banget. Apalagi kalau bukan demi kebaikan dan masa depan anak yang lebih baik?

 

Sungguh Aku Ingin

Sungguh Aku Ingin

Kalau aku yang jadi pemimpin negeri ini, atau aku bisa mengisiki para pemimpin negeri ini, akan kuusulkan satu kebijakan. Apakah kebijakan itu?

LAPANGAN PEKERJAAN HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI KAUM LELAKI, kecuali pekerjaan-pekerjaan yang memang memerlukan jasa perempuan, seperti dokter, perawat, bidan, guru. Untuk bidang pekerjaan umum seperti: pemerintahan, industri, manufaktur, keuangan, dsb yang bersifat umum jauh lebih baik hanya mempekerjaan kaum lelaki.

Hal ini supaya, kaum perempuan lebih banyak berdiam di rumah untuk mengurus suami dan rumah tangganya, mendidik anak-anaknya, yang mana pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang wajib dikerjakan perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak. Lebih daripada sekedar mencari nafkah — meskipun untuk keluarga.

Hal ini supaya, tidak ada lagi anak yang merasa kekurangan kasih sayang ibunya. Tidak ada lagi ibu yang kehilangan waktu-waktu berkualitas bersama buah hatinya. Tidak ada lagi rumah tangga yang goncang karena kesibukan istri di luar rumah. Tidak ada lagi para suami yang mengalami krisis kepercayaan diri karena posisi istri yang lebih tinggi darinya dari segi penghasilan maupun pekerjaan.

Supaya laki-laki dan perempuan dapat melakukan peran-perannya sesuai fitrah masing-masing.

Sungguh aku ingin sekali.