Rasa yang Berbeda

Rasa yang Berbeda

Di tulisan lalu, saya menulis tentang bagaimana kita sebagai ibu harus bisa menikmati momen-momen saat membersamai anak. Betapa bersama anak dan membersamai anak adalah dua hal yang berbeda. Bahwa seringkali kita sering terjebak pada situasi bersama anak, namun jiwa kita begitu jauh satu sama lain. Inginnya anak bermain bersama, namun fikiran kita melayang ke mana-mana sehingga tidak fokus pada permainan yang sedang kita lakukan bersama anak.

Saya sering sekali mengalami apa yang dinamakan bersama anak, tapi sejatinya tidak membersamai. Jujur, terkadang saya ketika sedang riweuh dengan urusan domestik, berharapnya anak tidur saja dan, jangan ganggu kerjaan Meme! Atau, ketika anak mengajak main sekolah-sekolahan sementara saya dalam kondisi belum beres — belum mandi, belum masak, belum cuci piring, aduh, rasanya pengen bilang: udahlah Nak, Meme belum ngapa-ngapain nih dan ngga bisa terlibat sepenuhnya dengan permainannya. Kadang ngga fokus, sehingga anak jadi ngga mood dan mudah tantrum. Lain waktu saya juga bisa dalam kondisi ngantuk berat sehingga boro-boro bisa fokus menemani, yang ada saya malah ngelindur dan ketiduran.

Kali ini saya akan menceritakan kisah “keberhasilan” mengelola perasaan tidak enjoy saat sedang membersamai anak. Setelah menulis sendiri tulisan ini, rasanya ngga enak ya, kalau tetap jadi ibu yang ngga bisa membersamai anak dengan baik. Berarti saya ngga bisa walk the talk alias cuma omdo dong. Jadi setelah menulis itu, saya niatkan untuk berubah jadi ibu yang lebih fokus dan responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan anak.

Dan Allah langsung menguji saya dengan kejadian tadi pagi. Jadi saya bangun pukul 2.30 untuk mempersiapkan makan sahur. Biasanya Ruma juga ngga bakal bangun tuh, sehingga saya bisa masak dan shalat malam dengan tenang. Tapi tadi pagi, sudahlah bangunnya terlambat 30 menit dari yang saya rencanakan, eh bocil malah bangun lagi. Pinginnya sih ngamuk ya, ini anak biasanya bobo kok jam segini malah ikutan bangun sih tapi ngga mungkinlah saya bilang seperti itu. Akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya ke dapur saja dengan digendong jarik — fyuh, anak 3.5 tahun digendong jarik, boyok oh boyok.

Ternyata, begitu saya mengambil beras untuk dimasak, Ruma minta turun dan minta dia yang menakar berasnya. Oke deh. Berusaha untuk ngga komentar apapun selain menyanggupinya. Lagian juga daripada digendong terus, pegel kan. Akhirnya Ruma yang menakar beras dan memasukkan ke wadah nasi.

Setelah itu, Ruma minta ditemani tidur-tiduran. Tapi saya bilang ngga bisa, karena saya harus masak untuk sahur. Akhirnya saya mengalah. Ruma juga mengalah sih. Saya meracik bahan di dekat kasur tempat dia tidur. Ngga diduga ternyata dia ingin ikut memotong-motong sayurnya. Oke monggo. Saya persilakan dia memotong-motong terung hijau. Berikutnya, setelah semua bahan siap, Ruma juga tertarik ikut memasak. Lalu dia mengambil meja kecil supaya bisa ikut memasak di dapur. Oke, saya iyakan pula permintaannya kali ini. Tugas Ruma adalah memasukkan sayur-sayuran ke panci, memasukkan santan, memasukkan garam dan mengaduk-aduk sayur hingga santan mendidih. Semua pekerjaan itu dilakukannya dengan baik dengan sedikit bantuan dari saya. Selanjutnya Ruma juga tertarik untuk ikut menggoreng telur. Dia bertugas membalik adonan dan mengeluarkannya dari penggorengan setelah matang. Awalnya agak takut terpercik minyak panas, namun akhirnya dia menjadi lebih berani.

Setelah sesi memasak berakhir, Ruma terlihat sangat bangga. Dia berkata, “Yee, enak lho, Me, masakan aku. Kalau masakan Meme ngga enak.” Wis ngga papa nduk, asal kamu seneng dan enjoy membantu Meme

Berkat bantuan Ruma, saya malah jadi ngga terlalu keteteran. Masih bisa shalat malam dan cuci piring. Coba kalau Ruma ngga ikut masak, saya pasti masih sibuk mengaduk sayuran plus menggoreng sendirian yang pastinya bikin shalat terburu-buru dan terpaksa menunda cuci piring setelah shalat Subuh. Oh ya, melihat saya shalat malam, Ruma pun ikut-ikutan shalat malam loh. Alhamdulillah.

Ternyata, dengan menghadirkan rasa yang berbeda saat membersamai anak, hasilnya bahkan jauh lebih positif. Biasanya sih saya juga cukup sering masak-masakan bersama Ruma, tapi saya hanya memberi sedikit perhatian padanya ditambah gerutuan-gerutuan dalam hati. Pantas saja hasilnya ngga oke ya.

Jadi rahasianya, ikhlaskan hati saat membersamai anak. Curahkan cukup perhatian padanya. Jangan banyak ngedumel saat anak sedang menunjukkan kreativitasnya. Insya Allah, hasilnya bahkan lebih dari yang kita harapkan.

Tetap semangat membersamai anak, ya Bu.

Yogyakarta, 15 Juni 2017, sebuah catatan untuk anakku

Listen Carefully & Respond Appropriately

Listen Carefully & Respond Appropriately

Semalam saya mendapat beberapa pelajaran berharga dari Rumaysa, anak yang kata saya segalanya, kesayangan, ternyata malah membuat saya tega bersikap kasar padanya. Maafkan Meme, Nak. Sungguh.

Kami semalam shalat Isya dan tarawih di Masjid Islamic Center UAD. Masjidnya luas dan bagus sekali. Ruma sangat senang shalat di sana. Setelah shalat Isya dengan tertib, Ruma ingin mengambil teh yang dibungkus plastik di serambi masjid. Lalu dia minta saya untuk membukakan plastiknya. Namun saya khawatir nanti tehnya tumpah.

Saya katakan padanya, “Nanti aja ya Mbak, dibuka di luar. Nanti kalau tumpah lantainya jadi lengket.” Anak saya menurut. Akhirnya teh saya letakkan di samping tas dengan dialasi beberapa lembar tisu. 

Saat ceramah, Ruma pun ingin lari-larian, coba-coba buka tutup pintu masjid, bermain boneka — yang memang dibawanya dari rumah, di masjid. Saat shalat tarawih baru saja dimulai, tiba-tiba Ruma menangis. Saya gendonglah ia hingga rakaat keempat. Setelah tarawih pertama itu selesai, saya tanyakan pada Ruma kenapa dia menangis. Dia jawab, “Ada orang gila.” Saya pun tak percaya. Saya menganggap Ruma hanya mengkhayal seperti biasanya kalau mengkhayal. 

Saya hanya bilang padanya, “Sudah ya, ngga usah minta gendong lagi. Meme capek.” Ruma tidak mau. Akhirnya saya gendong hingga shalat witir hampir selesai.

Saat posisi tahiyat akhir, saya melihat Ruma sibuk dengan teh di depannya. Dia juga mengeluarkan tisu dari tas saya. Dan benarlah tebakan saya, begitu shalat usai, Ruma langsung lapor, “Me, tehnya tumpah.”

Tak usah menunggu lama, meluncurlah kalimat-kalimat dengan nada tinggi dari lisan saya. Saya omeli ini itu mulai dari Tuh kaan, apa Meme bilang? Tumpah beneran kan? Dibilangin dari tadi ngga usah bawa-bawa teh ke sini kok sampai Yaudah, sekarang kamu (iya, kamu, biasanya Ruma atau Mbak Ruma) buang plastik ini sendiri atau biar Meme yang buang, kamu tunggu di sini jagain tas Meme, dan itu semua dengan nada tinggi plus muka jutek. Langsung deh Ruma menangis lagi.

Sudah melihat dia nangis begitu, bukannya iba saya malah masih ngomel. Saya itu sebenarnya marah karena tisu saya jadi berkurang banyak untuk mengelap tumpahan teh, tapi juga kesel karena yang saya takutkan malah benar terjadi.
Akhirnya setelah bertemu Pepenya, ditanyakan baik-baik masalahnya, Ruma cerita awal mula dia menangis karena dia sedang bermain dengan bonekanya, lalu ada seorang ibu berpenampilan kumuh memarahinya dan bilang bahwa dia tidak boleh mengambil bonekanya lagi. Jadi si ibu itu mau mengambil boneka Ruma namun akhirnya dikembalikan oleh ibu lain. Itulah sebab Ruma menangis dan jadi tidak ceria setelah sebelumnya ceria banget main-main di masjid.

Dan saya gagal memahaminya. Gimana mau paham sih, dengar saja cuma sambil lalu dan tidak menanggapi apapun. Gimana mau menanggapi, mempercayai ceritanya saja tidak. Sungguh maafkan Meme, Nak.

Dan kisah tentang teh yang tumpah, sama sekali tak diceritakan pada Pepenya. Sungguh baiknya hatimu, Nak. Padahal Ruma tak sengaja. Padahal Ruma sudah berkata jujur dengan melaporkan bahwa tehnya tumpah. Padahal Ruma sudah bertanggung jawab dengan mencari tisu di tas Meme dan berusaha membersihkannya.

Dan padahal — kata Pepe setelah tahu semua masalahnya — lantai masih bisa dibersihkan, sementara luka hati anak karena perkataan kasar ibunya, belum tentu bisa dipulihkan. Itu juga yang selalu Meme katakan ketika emosi tidak di puncak. Tapi saat menghadapi realita, hilang semua teori itu. Astaghfirullaah.

PR mulai hari ini, jaga lisan saat anak sedang berulah yang membuat kita tak suka. Jangan sampai terpancing meledak-ledak. Karena sungguh, anak tidak pernah salah meniru. Jangan pernah kau ulangi lagi kejadian malam itu.

Ruma (7)

Ruma (7)

Fyuh, habis very longweekend, semacam ga sempat nyatat catatan harian anak. Cuma sibuk ngingat-ngingat dikit plus nyatat-nyatat secara garis besar aja. Itupun di blocknote konvensional. Maklum di rumah kan males buanget internetan. Jangankan buat nongkrongin PC, cuma pegang HP dan ngopast broadcast WA ke Keep aja semacam ga sempat-ga mau-dan ga pengen. Hihi. Balada ibu bekerja yang kerja karena terpaksa dan pengennya jadi SaHM aja. Bzzzt, mulai, mulai deh.

Nah langsung aja dah ya, prolog kaga usah panjang-panjang. Keburu lupa cathar-nya.

Rabu (04/05) sore Ruma diajakin nengok aunty di JIH terus malemnya kita ke angkringan Ngipik buat ngemil dan mimi susu segar. Susu coklat kesukaannya Ruma banget dah. Abis deh itu hampir segelas gede. Tapi sayang habis itu ga mau makan. Selain karena mie gorengnya ga ada, kita emang sengaja ga pesen roti bakar karena di rumah lagi banyak makanan sejenis rerotian gitu.


11 days later —

Berhubung udah males ngeblog untuk nulis semacam cathar beginian, dengan ini saya menyatakan bahwa kisah bersambung Rumaysa di blog ini ditutup. Alasannya antara lain:

  1. cuma bisa ngeblog di kantor yang mana cuma bisa dilakukan ketika jam kantor, sementara daily activitiesnya Ruma kan jalan terus ya, mau ngantor ataupun enggak, jadi kayak kurang fleksibel gitu;
  2. nulis di blog butuh mikir, ga bisa seenak udel, tulisan se-enggak-bermutu apapun pokoknya tetep butuh mikir yang ga bisa selepas kalau saya nulis di kertas biasa pakai pulpen;
  3. kadang kalau saya lagi ga di depan PC misal lagi libur atau lagi tugas di luar ruangan gitu, demi tidak menulis ulang saya terpaksa nulis cathar Ruma di notes henpon yang selanjutnya akan saya kirim ke email pribadi saya yang kemudian dari email tersebut saya copas notes ke draftnya wordpress. dan nulis notes di henpon itu amat sangat tidak praktis, saudara-saudara. beeeeedak banget sama nulis di atas kertas yang mana tulisan ngga penting akan mengalir sederas-derasnya.

Jadi demi ketiga alasan mahapenting tersebut saya ngga ngeblog-in catharnya Ruma ya. Dan sebagai gantinya, saya kini rajin nyatat cathar Ruma di buku notes konvensional yang peweeeee abis. Apalagi kalau didukung dengan pulpen berujung fine alias lancip yang mendukung tulisan tangan saya yang aslinya uda bagus dari sononya ituh — apaan siiih — jadi lebih bagus lagi. Hihihi. Kini, setiap hari ga ada yang kelewat deh dari nulis cathar. Semoga sayanya bisa istiqomah ya. Aamiin.

Oh ya, di buku notes konven tersebut saya juga nyatetin tiap hari saya masak apa loh — sumpah freak abis. Hehe maklum saya emang orangnya suka nyatet sih. Sayang cuma nyatet hal ngga penting menurut orang-orang, tapiii penting banget kok buat diri saya sendiri. Hehe, piss ah.

 

Ruma (6)

Ruma (6)

Selasa (03/05) Ruma ditungguin Yangti karena Pepe ada acara dari pagi sampe sore. Alhamdulillah pinter, lucu dan maemnya banyak.

Sorenya ikut jemput Meme di kantor. Lucuuuu banget dan sukses bikin Meme kaget karena sama sekali ga nyangka Ruma ikut jemput. Seperti yang pernah Meme ceritakan bahwa Meme always excited yang ga terjelaskan kalau ketemu Ruma. Tambah lucu karena cuma pake baju rumah yang ga matching sama sekali: kaos Batur Raden plus celana pendek garis-garis pasangannya Snoopy. Hihihi.

Pulang-pulang langsung diajak main ke kamarnya Mba Dedep (tapi cuma bentar) trus main kapal-kapalan lagi sama Meme yang belum jadi mandi.

Habis Maghrib ditinggal Pepe ke rumah sakit nengokin Onty. Kita ga diajak karena uda malem, takut Ruma kecapean. Yeeee, berdua lagi sama Ruma.

Tadi malam Ruma maemnya buanyak banget. Uda maem hokben, trus ikut ngrusuhin pas Meme maem bakso pangsit. Alhamdulillah, tambah pinter ya Nak.

Pas Isya, Ruma awalnya mau ikut Meme shalat. Pake mukena juga. Tapi belum slese do’a iftitah, si Ruma uda ga sabaran banget nglepas mukenanya trus ngacak-ngacak plastik besar di deket rak buku. Abis Meme slesai shalat, minta diambilin plastik buat masukin baju-bajunya yang ada di lemarinya. Keknya Ruma begitu gara-gara kapan hari Meme ngeberesin clodi-clodinya dari lemari trus dimasukin ke plastik besar. Hihi lucu banget ikut-ikutan.

Abis itu bobo-boboan sampe jadi bobo beneran. Paginya bangun siang lagi sampe Meme uda slesai masak.

Rabu, 4 Mei 2016

Ruma (5)

Ruma (5)

Senin (02/05) bangun bobo siang Ruma langsung diajak Meme Pepe keliling nyari sendal jepit biru muda kesayangannya yang jatuh di jalan gara-gara bobo di motor. Namun sepanjang jalan Jogja selatan yang kita susuri sendal itu tak juga ketemu. Yaudahlah ya, berarti emang takdirnya ilang.

Sore jenguk Aunty Dita yang dirawat di RS JIH karena sakit lambung. Abis itu belanja bulanan di Pamella.

Sampe rumah bobo jam setengah sepuluhan setelah sebelumnya ngobrol sama Meme.

M: Kita tu sakjane ga boleh dengerin musik loh Rum. Tapi Meme sendiri masih susaaah banget buat ninggalin musik 100%

R: Syaithon ya Me

M: Hahaha, kok tau Rum? Iya musik itu dari syaithon

Kemudian Meme lupa apa yang terjadi karena uda ketiduran.

Selasa, 3 Mei 2016

Ruma (4)

Ruma (4)

Jum’at (29/04) nggodain Meme masalah cantengen. Habis Meme masak trus disuapin minta main terus di tempat Mba Eva, anak kost yang Ruma suka banget main sama dia. Pas Meme balik ke kantor Ruma main motor-motoran. Malemnya maem sup sama telor dadar. Minta bobo cepet sampe Meme ga sempat makan malam.

Sabtu (30/04) Ruma bangun agak siang, ditinggal Pepe sepedaan karena belum bangun. Bangun siang sampe Meme sempet ngeracik semua bumbu ungker-ungker. Sambil nunggu resep dari Yangti (yang kemaren-kemaren ilang) main sepeda dulu sama Ruma ke tempat De Caca. Ngobrol-ngobrol bentar sampe Pepe pulang sepedaan. Terus pulang, resep belum ada, Ruma minta berenang. Akhirnya bak babyspa dari Bule Ici dibongkar lagi. Berenanglah Ruma hampir sejam sambil Meme nerusin masak ungker-ungker plus disuapin di kolam juga. Habis buanyak. Sambil berenang diliatin juga sama mba-mba kost, Mba Eva dan Mba Dela. Mba Eva ini ternyata hari Ahad (01/05) udah pulang kampung ke Ponorogo karena kuliahnya udah selesai. Sedih banget, karena udah akrab banget sama Ruma dan Ruma ini paling lulut sama Mba Eva. Pantesan tempo hari Mba Eva ngasi Ruma setelan kaos gambar Reyog, dan Mba Eva ini sering digodain Mba Dela dan Mba Dedep kalo mau pulkam.

Siangnya Ruma ga bobo-bobo. Uda ngajakin bobo dari jam 10 tapi sampai jelang Zuhur ga bobo juga. Meme sampe ga mandi-mandi. Akhirnya diboboinlah sama Pepe. Meme mandi plus sampoan lama banget. Selesai mandi Ruma uda bobo. Bangun bobo langsung maem siang dan main sepedaan lagi. Ngobrol-ngobrol juga sama Mba Eva Mba Dela di belakang rumah. Ruma juga latian manjat motornya Mba Dela. Alhamdulillah hari ini maemnya Ruma buanyak.

Malemnya kita cari makan di susu segar daerah Ngipik. Soalnya uda dari sore Ruma pengen susu. Yaudahlah sekalian keluar cari makan dan cari jilbab buat kenang-kenangan mau dikasihin Mba Eva. Ruma maemnya banyak sampe kekenyangan. Maem mie, gorengan, susu coklat sama roti bakar. Pulangnya cari jilbab buat Mba Eva. Karena uangnya ngepas cuma dapet pasmina tosca. Di toko Jilbabmart ini Ruma pengen jilbab yang ada hiasan kelincinya. Tapi lagi-lagi karena uang ngepas besok ajalah ya. Hihi.

Pulang dari pergi ternyata bapak ibunya Mba Eva uda dateng. Trus Ruma juga kenalan sama adenya Mba Eva, Mba Sasa yang masih kelas 5 SD.

Ahad (01/05) Ruma bangun pas Meme uda beres. Pokonya Meme merasa sukses dah kalo Meme uda beres Ruma baru bangun. Hehe. Bangun bobo langsung ikut belanja sawi dan telur buat bikin indomi. Minta donat dan ternyata cuma diabisin misisnya. Pulang dari belanja main sama Mba Sasa, Mba Eva dan bayi kucing yang dibawa dari Ponorogo. Sambil Meme ngelanjutin masak indomi. Beres itu Meme suapin dan habis banyak loh. Haha, ampun, ga sering-sering deh ngasi indomi. Maklum karena siang nanti ada jagong manten di daerah UAD. Kalo ada undangan manten gitu Meme jadi suka males masak, makanya masak indomi aja.

Siangnya Mba Eva pamit. Duh, Meme kok malah yang nangis. Meme aslinya ga pengen nangis sih, tapi gara-gara Mba Eva mau nangis dan ga mau ngeliatin Ruma Meme kan jadi sedih. Hihi lebay banget dah Meme pokoknya. Oh ya tadi pagi sebelum Mba Eva pulang Ruma uda ngasi kenang-kenangannya yang uda kita bungkus.

Ruma: Mba Eva, ini
Eva: Apa ini? Rumaaa

Eh si Ruma malah langsung jawab jilbab lho, hahaha. Dasar anak kecil.

Abis pamit-pamitan yang rada mellow tadi, kita lanjut jagong di UAD. Alhamdulillah Ruma maemnya gampang dan banyak. Zuppa soup habis semangkok. Trus lanjut eskrim, coklat dan puding. Mungkin karena enak dan kesukaan anak kecil kali ya, jadi maemnya banyak.

Pulang jagong main sepeda bentar trus bobo lamaaaaa banget sampe Meme beres cuci piring plus nyetrika. Hihi. Malemnya maem juga banyak. Walaupun cuma sama telor dadar dan kecap. Ruma seneng banget sama nasi kecap. Syaratnya harus kecap Bango ya. Kalo selain itu dia emoh.

Nah habis maem Ruma nemu permainan baru. Biasanya suka main motor-motoran pake bantal, sekarang sukanya main kapal-kapalan dan adegan menyelamatkan diri dari kejaran ikan hiu. Hahaha imajinasimu, Nak. Abis itu bobo deh.

Senin (02/05) bangun siang lagi. Pokoknya kalo Ruma bangun setelah Meme beres Meme anggap Ruma bangun siang deh. Bangun bobo langsung mimi jeniper anget. Ini minuman favorit Ruma setelah susu. Dan efeknya bagus banget, cepet nyembuhin flu, bagus buat daya tahan tubuh, bikin laper sehingga maemnya jadi banyak dan ngelancarin pup. Kayaknya Meme harus beli jenip terus deh tiap belanja.

Sebelum Meme berangkat kantor, main kapal-kapalan dulu. Hahaha. Kalo sama Pepe kayaknya tetep lebih suka motor-motoran deh.

Senin, 2 Mei 2016

Ruma (3)

Ruma (3)

Dear Rumaysa, anak kecil kesayangan dan kebanggaan Meme.

Hari ini usiamu 31 bulan 7 hari.

Kemarin — sampai hari ini sih, Meme mengalami radang tenggorokan sehingga Meme ngga mood melakukan apa-apa termasuk main sama kamu. Meme cuma tiduran di kasur. Dan ternyata kalau Meme lagi tumbang begitu Ruma malah ngedeketin Meme terus, ngajak ngobrol, ikut tiduran di samping Meme, pokoknya Meme jadi terhibur banget deh.

Jam setengah 7 Ruma udah bobo karena ngantuk berat. Cuma “dikerokin” punggungnya pakai tangan Meme udah ler. Alhamdulillah bobonya nyenyak, mungkin karena “slu”nya sudah reda. Jam 2 malam nglilir minta minum. Terus ngobrolin Hello Kitty bentar. habis itu bobo lagi. Lucu banget deh.

Kami menyayangimu, Nak.

29 April 2016 – di kantor Meme

 

Ruma (2)

Ruma (2)

Dear Rumaysa, anak kecil kesayangan dan kebanggaan Meme.

Hari ini usiamu 31 bulan 6 hari.

Kemarin kita bertemu benar-benar hanya sebentar. Pagi-pagi sekitar pukul setengah tujuh kau sudah dijemput Mba La dan Nenek untuk dibawa ke rumah nenek. Sementara Meme dari pagi sampai petang ada di rumah sakit, di kantor lalu di rumah sakit lagi sampai akhirnya petang itu kita bertemu lagi di warung tukang sayur dekat rumah Yangti. Kau tentu sudah dijemput oleh Pepe.

Terkejut sekali Meme ketika mendengar suara lembutmu memanggil-manggil nama Meme. Meme senang sekali. Setiap pertemuan lagi denganmu entah kenapa selalu membuat Meme excited dan berbinar-binar. Meme yakin setiap ibu yang meninggalkan anaknya untuk bekerja pasti merasakan perasaan yang sama. Bungah yang tak terlukiskan dengan kata-kata setiap kali bertemu dengan anak setelah seharian ditinggalkan.

Kitapun lalu menuju rumah Yangti untuk menunggu Yangkung yang pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah tadi malam (27/04) Yangkung sudah pulang dari rumah sakit. Sambil menunggu kedatangan mereka, kita makan putu dan minum air mineral yang dibeli Pepe. Setiap melihatmu, hanya ada rasa kagum dan syukur. Betapa Allah dengan sangat sempurna membentuk rupamu. Juga tingkahmu yang begitu lucu selalu menyegarkan hati ini. Apalagi tadi malam rambutmu yang semakin panjang dikuncir oleh Nenek. Lucu sekali.

Setelah Yangkung sampai rumah,kitapun akan pamit pulang ke Modalan. Ternyata ada Eyang Utiek dan Eyang Budi datang. Lalu mengobrollah kita semua di rumah Yangkung. Adik ragil Yangkung ini memang lucu. Selalu menyegarkan suasana dengan kehebohan cerita beliau yang selalu membuat Meme terpingkal-pingkal.

Namun tampaknya Ruma sudah ngantuk. Ruma tidak mood, sehingga ingin cepat pulang. Meme baru menyadari kalau Ruma agak batuk. Mungkin kecapean karena sudah tiga hari ini tidak di rumah alias pergi terus. Entah sama Yangkung Yangti dan dua hari berikutnya main sama Mba La di rumah Kakek.

Seperti yang sudah-sudah, kalau batuk pasti tenggorokan Ruma tidak enak. Gatal dan seakan ada yang mengganjal karena tertutup dahak. Untuk mengeluarkannya, tentu anak seperti Ruma belum bisa selain dengan cara muntah. Muntahlah Ruma malam itu di rumah Yangti setelah batuk-batuk. Alhamdulillah setelah muntah Ruma malah lebih ceria.

Akhirnya kita pulang. Di perjalanan Ruma tidur. Sampai rumah Rumapun masih tidur. Ketika Meme sudah mandi dan siap tidur, Ruma malah bangun dan merengek. Seperti tidak nyaman. Ruma kalau sedang kurang sehat pasti tidak nyenyak tidurnya. Alhasil sepanjang malam Ruma selalu bangun-bangun karena hidung mampet. Baru menjelang subuh Ruma bisa tidur lebih nyaman.

Bangun tidur sekitar pukul enam, Ruma langsung ngajak Meme keluar kamar, lalu main sama kucing, minum air jeruk yang dibuat Pepe, pipis, mandi, sikat gigi karena semalam habis muntah belum bersih-bersih alias cuma ganti baju. Setelah itu sarapan pakai tumis kangkung dan sosis goreng.

Akhirnya karena semalam tidurnya tidak nyenyak, sekitar jam 8, Ruma mulai cranky lalu diajak Pepe ke kamar untuk dibacakan buku. Lagi-lagi buku favoritnya, “Aku Selalu Bangun Pagi.” Tak lama kemudian Ruma pun tidur lagi dan Meme berangkat ke kantor. Maaf ya, Nak. Waktu dan kesempatan kita terbatas dan tidak berkualitas sama sekali. Meme janji akan lebih baik lagi.

Kami menyayangimu, Nak.

28 April 2016 – di kantor Meme

Ruma (1)

Ruma (1)

Dear Rumaysa, anak kecil kesayangan dan kebanggaan Meme.

Hari ini umurmu 31 bulan 5 hari. Beberapa bulan lagi usiamu akan menjejak 3 tahun, beranjak dari fase toddler menuju preschooler. Sesungguhnya ibumu ini agak resah, Nak. Takut kalau-kalau Meme kurang bahkan tidak memberimu stimulasi untuk perkembanganmu.

Meme berjanji kepadamu untuk setiap hari menulis diary perkembanganmu. Karena Meme sadar, waktu yang kita miliki tidak banyak. Do’akan semoga Meme istiqomah.

Lusa (25/04), eyang kakungmu masuk rumah sakit karena gerah ambeien. Mari kita do’akan Yangkung supaya cepat sembuh dan bisa bermain lagi denganmu. Selama Yangkung gerah, Ruma lebih banyak main sama Kakek-Nenek-Mba La. Meme banyak sibuk menemani Yangkung dan Yangti di rumah sakit. Ndak papa ya, Nak. Ini adalah kesempatan Meme berbuat baik sama eyang-eyangmu. Meme ingin sekali jadi anak yang berbakti pada kedua orang tua, Nak. Supaya disayang Allah.

Tadi malam (26/04) Ruma diantar kakek-nenek sekitar pukul setengah tujuh. Setelah itu kita main motor-motoran di kasur. Kadang Meme sambilan main HP untuk update kondisi Yangkung. Maafkan Meme ya, Nak. Kalau Meme kurang perhatian sama Ruma. Habis itu Pepe pergi. Kita berdua saja sambil kruntelan di kasur, ngobrol ga jelas. Sungguh bagi Meme, saat-saat berdua denganmu adalah saat-saat terindah dalam hidup Meme. Berada di sampingmu, menatap bola mata beningmu membuat Meme merasakan kedamaian yang tak terlukiskan.

Tiba-tiba tadi malam waktu kita hanya berdua saja, Meme menangis. Jujur Meme menangis karena sedih belum bisa jadi anak yang baik dan membahagiakan orang tua. Kamu pun ikut menangis keras. Duh, rupanya Ruma benar-benar ga suka ya lihat Meme menangis? Setelah nangis, Ruma pun batuk-batuk dan minta diambilkan minum. Saat Meme ngambilkan air putih, Ruma mendadak batuk dan muntah. Biasalah Nak, Meme pun saat seusiamu kalau menangis keras pasti diikuti muntah. Ruma muntah di kasur. Baju dan celana kena muntah semua. Ruma pun menangis lagi. Kamu memang ga suka ya muntah? Dari dulu habis muntah, pasti nangis lagi. Meme pun membersihkan dirimu. Membasuh seluruh badanmu yang kena muntah. Mencuci gigimu. Mengajakmu pipis. Kamu pun menurut. Kamu memang anak yang super baik, Nak. Setelah itu Meme membersihkan muntahmu di kasur dan di lantai. Ruma selalu mengikuti karena takut ditinggal. Entahlah, setiap habis nangis moodmu pasti jadi kurang baik.

Semalam kita tidur tanpa kasur ya, Nak. Hanya beralaskan karpet dan selimut tebal. Sebelum tidur, Meme menawarkan untuk membacakan buku. Ruma pun memilih buku “Aku Selalu Bangun Pagi” yang mana memang buku favoritmu. Meme tidak membacakan bukunya sih. Karena Ruma lebih suka “membaca” dengan bahasa sendiri. Semoga kelak kamu jadi anak pecinta buku seperti Meme ya, Nak. Bersahabat dengan buku itu asyik lho. Insya Allah.

Akhirnya Ruma pun bobo setelah Meme bacakan do’a sebelum bobo yang sudah sangat kamu hafal. Setelahnya Meme membacakan surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas untuk melindungimu. Namun karena tadi malam kasurnya ga dipakai, kamu bobonya jadi ga nyaman ya, Nak. Dikit-dikit bangun. Dan pakai nangis lho. Meme sampai bingung. Dikira Meme kamu anget atau masuk angin. Alhamdulillah ternyata cuma karena alas bobonya ga empuk. Akhirnya setelah Meme tambahin selimut lagi Ruma bisa bobo walau masih bangun-bangun.

Sudah deh, segini dulu. Meme nulisnya ga pakai mikir. Karena insya Allah tulisan ini akan berkelanjutan, jadi capelah kalau mikir mulu tiap hari.

Kami menyayangimu, Nak.

27 April 2016 — di kantor Meme.