Bukan Penghalang Mimpimu

Bukan Penghalang Mimpimu

Sebelum menikah, perempuan itu adalah aktivis. Dua puluh empat jam sehari seakan tak cukup untuknya. Dari pagi sampai malam, banyak tempat sudah ia kunjungi. Hidupnya seakan sangat produktif. Rapat dewan mahasiswa, praktikum kelompok sains, proyek dengan dosen, mengurus sanggar yang didirikannya bersama sahabat-sahabatnya dan seabrek aktivitas lain yang tentunya menguras energi namun tidak keceriaan di wajahnya. Hidupnya memang di sana.

Namun semua berubah setelah menikah. Dua puluh empat jam sehari memang masih seakan tak cukup untuknya. Bedanya, kini ia hanya berkutat di sebuah rumah  tak terlalu luas bersama beberapa dua batita yang bahkan belum bisa diajak bercerita. Sumpek. Belum lagi aneka rupa pekerjaan rumah nyaris tiada henti yang tentunya menguras energi. Namun kini semua itu merenggut keceriaan di wajah manisnya.

Anggapannya satu: merekalah penghalang mimpi-mimpiku. Bagaimana bisa mengejar mimpi kalau setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi hanya melakukan aktivitas yang itu-itu saja? Lelah namun miskin produktivitas.

Akrab dengan situasi di atas? Saya rasa hampir semua ibu, terutama ibu baru mengalaminya. Seakan tidak lagi bisa mewujudkan mimpi karena waktu rasanya tak cukup. Aneka tetek bengek urusan anak dan rumah tangga sudah lebih dulu menjadi prioritas harian. Sekedar mandi dua kali sehari saja ngga sempat, boro-boro menggali cita-cita zaman muda yang masih belum kesampaian?

Padahal, kalau boleh berpendapat, bagaimana kalau kita ubah mindset yang kadung tertanam di benak, bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan mulia yang tak bisa dibandingkan dengan sehebat apapun mimpi masa muda kita. Bagaimana kalau menjadi ibu yang baik, profesional dan sungguh-sungguh kita jadikan mimpi baru sehingga pekerjaan utama yang mulia itu menjadi semakin greget untuk dilakukan?

Saya tidak akan membahas keutamaan-keutamaan pekerjaan seorang ibu yang tentu sudah banyak kita ketahui, tapi saya berharap perempuan-perempuan yang telah menjadi ibu dan merasa pekerjaan barunya sungguh melelahkan akan merasakan semangat baru, karena sungguh keikhlasan itu menerbitkan semangat.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Nikmatilah saat-saat membersamai anak, jadikanlah waktu-waktu bersamanya istimewa dengan mengadirkan hati dan fikiran pada mereka, jangan disambi memikirkan atau mengerjakan hal lain. Terlibatlah dalam aktivitas mereka, dan sebaliknya libatkan mereka dalam aktivitas yang kita lakukan. Mereka bisa belajar banyak hal dari sana. Kalau kata Pak Ading Childhood Optimizer, jadikan anak sebagai partner kegiatan, bukan penghambat.

Begitu pula dengan aneka rupa pekerjaan rumah tangga yang berkelanjutan itu, kerjakanlah dengan ikhlas, sepenuh hati, tanpa menggerundel. Tapi tak perlulah terlalu perfeksionis, demi kewarasan jiwa.

Nah, kalau kita sudah beres pada dua hal di atas, boleh menambah kegiatan demi mimpi-mimpi kita. Beres di sini maksudnya kita sudah benar-benar menikmati peran kita. Tidak merasa direpotkan dengan tetek bengek urusan domestik dan anak-anak. Repot sih repot, namun kita mampu menghadirkan rasa yang berbeda saat melakukannya.

Saat kita sudah ikhlas dengan peran kita sebagai ibu, kita bisa melakukan hobi yang sempat terbengkalai karena sibuk urusan anak dan rumah tangga. Kita bisa belajar hal-hal baru yang menjadi minat kita. Kita bisa menekuni bidang-bidang yang merupakan keahlian kita. Benarlah kata Bu Septi Peni founder IIP, bahwa mendidik anak, bekerja dan berkarya adalah satu kesatuan tak terpisahkan yang tidak saling mengorbankan.

Kita masih bisa bermimpi, wajib memelihara dan memperjuangkan mimpi karena dengan punya mimpi kita merasa bertenaga, bergairah menjalani hidup di dunia ini. Orang yang tidak punya mimpi hanya seperti mayat hidup yang menjalani hari dengan mengikuti arus, tanpa rasa dan pemaknaan.

Ingat, anak bukan penghalang mimpi kita. Jadikan mereka partner untuk mewujudkan mimpi besar keluarga kita: berkumpul di surgaNya.

Diselesaikan pada 14 Juni 2017, terinspirasi dari obrolan di WhatsApp grup