Hadirkan Hati Saat Membersamai

Hadirkan Hati Saat Membersamai

Sekarang setiap pekan selalu disuguhi materi-materi gurih dari kelas Matrikulasi IIP oleh Ibu Septi Peni Wulandani — duh keknya ngga bosen-bosen deh ngebahas kelas offline nan syuper keren ini. Mudah-mudahan ngga cuma euforia sesaat ya, alias cuma rajin ngerjain PR tapi ngga diterapkan blas dalam keseharian.

Jadi pas materi pekan keempat kan temanya tentang “Mendidik dengan Kekuatan Fitrah.” Intinya setiap bayi yang lahir itu sudah membawa 4 fitrah, yaitu fitrah iman, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah perkembangan. Nah, tugas orang tualah yang merawat fitrah-fitrah tersebut supaya tumbuh sempurna. 

Jadi pendidikan berbasis fitrah itu bukan tentang mengajarkan, menjejalkan (outside in) materi-materi pembelajaran kepada anak melainkan lebih kepada membangkitkan (inside out) fitrah atau potensi kebaikan yang sudah ter-install dalam diri supaya semakin menonjol dan tujuan akhirnya anak akan memahami untuk menjalankan peran apa dia diciptakan. Tentunya semua bermuara kepada ibadah. Karena tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Dengan yang namanya inside out tadi orang tua tidak perlu galau dan menggegas anak untuk menguasai beragam keterampilan yang dimiliki anak lain namun tak dimiliki anak kita. Terkait hal ini saya juga pernah, bahkan sering sampai sekarang, galau bin baper kalau anak belum bisa begini-begini sementara anak lain yang usianya sama sudah bisa begitu-begitu. Kadang kalau kayak gitu merasa jadi ibu yang gagal. Nah, perasaan kayak gitu yang perlu dihilangkan. Kita adalah ibu terbaik untuk anak-anak kita. Jadi tak perlu galau dengan pencapaian orang lain. Buat sejarah kita sendiri bersama anak-anak kita.

Nah, untuk bisa mendidik dengan kekuatan fitrah, untuk bisa menemukenali bidang apa sejatinya yang akan menjadi peran spesifik anak-anak kita kelak — sehingga tidak telat seperti kita, Bu Septi menjabarkan tujuh tahap yang harus dilalui seorang ibu. Nah, satu tahap yang menurut saya paling prioritas untuk dilakukan mulai sekarang adalah manfaatkan momen-momen membersamai anak. Hadirkan segenap hati dan fikiran saat bersama anak. Bersama dan membersamai adalah dua hal yang berbeda. Kita bersama anak di suatu tempat yang sama, melakukan aktivitas yang sama tapi hati dan fikiran kita melayang entah ke mana, apakah itu tumpukan piring kotor atau lantai yang seharian ini belum dibersihkan. Namun membersamai, berarti kita memfokuskan segenap hati dan fikiran dalam mendampingi anak-anak, mendengarkan sepenuh perhatian atas celoteh mereka, bercakap-cakap sambil menatap bulat mata mereka, tanpa distraksi apapun.

Bagi saya hal itu masih merupakan PR besar, karena terkadang saya masih ter-distract oleh handphone, aneka rupa kerjaan rumah yang bikin gatel kalau ngga segera dibereskan, dan jujur saja kadang agak terganggu dengan kehadiran anak.  Akibatnya saya jadi merasa kurang menikmati saat-saat bersama anak.

Anak saya paling suka main pretend play, favorit saya juga semasa kecil. Namun agaknya kini saya gagal memahami perasaan anak sampai terkadang saya minta udahan ah mainnya, Meme masih banyak kerjaan, begitu kilah saya. Saya lupa betapa seusianya dulu, saya pun paliiiing suka main pretend play.

Pantas saya selama ini bingung dan galau, apa ya sebenarnya yang disukai anak saya? Bidang apa yang sekiranya kelak akan menjadi peran hidupnya? Ternyata sulit sekali menemukannya karena saya masih setengah-setengah membersamainya, belum memberikan atensi sepenuhnya atas apa-apa yang dilakukannya dalam keseharian. Oleh karena itu, kini saya harus berubah. Saya harus lebih perhatian padanya, berempati terhadap perasaannya saat melakukan suatu aktivitas, membayangkan ketika saya kecil dulu juga melakukan hal yang sama — susah disuruh mandi tapi suka berlama-lama kalau sudah di kamar mandi misalnya.

PR berat. Namun dengan do’a dan ikhtiar serta tawakkal yang maksimal, insya Allah seberat apapun tantangan akan tertaklukkan.

Diselesaikan pada 12 Juni 2017 di Yogyakarta, terinspirasi dari Materi #4 Kuliah Matrikulasi Institut Ibu Profesional

Bikin Tot-Tray Yuk!

Bikin Tot-Tray Yuk!

Sudah lama ga ngepost disini. Sudah lama juga ga merencanakan main-main yang serius sama Ruma. Hzzzt, gimana sih? Katanya mau jadi ibu yang selalu mengisi hari anak? Kok jadi males-malesan gini? Hehe. Beberapa hari ini “sibuk” banget. Sibuk iseng-iseng handlettering, sibuk baca novel Tere Liye. Ampuuun, maafin Mememu ini, Nak. Insya Allah Meme bakal rajin lagi untuk selalu mengisi harimu dan sepenuhnya aktif bermain denganmu. Semoga dimudahkan Allah ya.

Nah, supaya kegiatan main-main sama anak bisa berjalan lancar sesuai dengan rencana dan ga cuma diawang-awang, kita perlu sekali membuat jadwal bermain yang disesuaikan dengan aspek tumbuh kembang anak yang ingin dicapai. Jadi, membuat tot-tray yang saat ini happening banget di kalangan emak-emak pemerhati dunia anak is a must. Biar ga bingung juga emaknya. Biar eksis di sosmed .

Tot-tray adalah sebuah nampan berisikan alat dan bahan yang hari itu digunakan untuk berkegiatan bersama anak yang sudah diklasifikasikan menurut aspek tumbuh kembang anak. Bisa dibilang sesuai tema deh. Nah, apa saja sih aspek perkembangan anak yang ingin dicapai yang selanjutnya dituangkan dalam tot-tray?

  1. Motorik kasar dan halus
  2. Kognitif
  3. Psiko-sosial, emosi, kemandirian
  4. Bahasa
  5. Agama dan moral
  6. Seni

Contoh tot-tray adalah sebagai berikut.

Kamis, 17 Maret 2016. Tot-tray Ruma. Rencana main Ruma (baru rencana loh ini).

  1. Main badminton (motorik kasar), meronce (motorik halus)
  2. Matching colors (kognitif)
  3. Transfer with tweezer (kemandirian)
  4. Alphabet Garland (bahasa)
  5. Kisah Nabi Ibrahim (agama)
  6. Melukis (seni)

Nah, berhubung baru rencana, foto menyusul yah. Kalau foto contoh tot-tray ini saya ambil dari http://smarteparte.com/wp-content/uploads/2015/08/12-red-blue-tot-trays-activities1.jpg

12-red-blue-tot-trays-activities1

Hayuk, semangatlah main sama anak!

Bunda, Yuk Undang Si Kecil Bermain

Bunda, Yuk Undang Si Kecil Bermain

Bermain adalah dunia anak. Rasa-rasanya hampir setiap detik — kecuali saat tidur, anak-anak akan selalu bermain. Entah itu dengan koleksi jepit rambutnya, peralatan mandinya, buku-buku ceritanya, dsb. Ya, karena dunia anak adalah dunia bermain. Kadang sebagai ibu kita kesal juga. Rumah yang tadinya rapi menjadi super berantakan. Padahal, kalau saja kita tahu manfaat apa saja yang diperoleh si kecil dari kegiatan bermain dan bereksplorasinya, akan hilang kekesalan kita akibat anak mengobrak-abrik seluruh isi rumah. Kalau kita sedikit lebih kreatif dan mau belajar bagaimana mengarahkan permainan anak dengan mengundang mereka bermain (kegiatan invitation to play), insya Allah manfaatnya bahkan jaaaauh lebih banyak.

Berikut ini manfaat invitation to play dengan permainan-permainan yang terarah:

  1. orang tua dapat mengetahui sejauh mana tingkat perkembangan anak terhadap usianya;
  2. dapat memberikan kesempatan anak bertumbuh kembang lebih optimal;
  3. mengenalkan keteraturan dan kedisiplinan pada anak — karena walaupun judulnya bermain, tetap ada aturan mainnya;
  4. meningkatkan kreativitas orang tua dan anak;
  5. orang tua dapat mengetahui bakat anak sedini mungkin.

Lalu, bagaimana cara membuat undangan bermain untuk si kecil?

Pertama, kita sebagai orang tua harus mengetahui parameter perkembangan anak sesuai usianya (menurut standar Diknas), misalnya: anak 2 tahun sudah bisa apa saja  dari segi agama dan moral, motorik kasar-halus, bahasa, kognitif, sosial-emosi-kemandirian dan seni. Namun parameter ini bukan harga mati, karena perkembangan setiap anak tentu berbeda.

Kedua, dengan menggunakan parameter tersebut, orang tua selanjutnya merancang jenis aktivitas yang relevan untuk menstimulasi tiap aspek perkembangan anak sesuai usianya. Sumber referensi untuk kegiatan ini biasanya banyak didapatkan melalui internet (contoh: IndonesiaMontessori.com) dan media sosial seperti Pinterest, Instagram dan Facebook. Selain itu, kini juga tersedia banyak buku yang berisi ide-ide untuk bermain dan beraktivitas bersama anak, seperti Child’s Play, Teach Me To Do It Myself, Rumah Main Anak, Anti Mati Gaya, Kreasi Muslim Cilik, dsb. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyak orang tua yang peduli terhadap tumbuh kembang anak melalui kegiatan bermain sekaligus belajar bersama anak.

Ketiga, setelah menentukan aktivitas yang dipilih, orangtua bisa mencari dan mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk permainan.

Keempat, menentukan waktu dan tempat untuk melakukan permainan. Di point ini orang tua juga bisa menentukan “jumlah undangan,” yakni bila permainan yang ingin dilakukan adalah permainan berkelompok, maka orang tua dapat juga mengundang teman-teman si kecil atau saudara-saudaranya.

Terakhir, setelah semua siap, undanglah si kecil untuk bermain bersama Bunda. Selamat bersenang-senang, Bunda.

Oh ya, jika di awal-awal si kecil tampak tidak terlalu antusias, jangan berkecil hati ya, Bunda. Mungkin Bunda bisa mengenalkan permainan tersebut lain kali. Tidak perlu memaksakan atau memberi pengarahan yang berlebihan ketika anak tampak tidak tertarik dengan undangan permainan kita. Namanya juga open-ended play, jadi biarkan anak berkreasi sesuka mereka.

Berikut ini adalah contoh invitation to play untuk anak usia 2-3 tahun yang bertujuan untuk menstimulasi aspek motorik halus dan sosial -emosi-kemandirian melalui kegiatan practical life skill memasang kancing.

Judul Kegiatan: Button Snake

Alat dan Bahan: kancing, benang dan jarum jahit, pita atau kain, kain flanel, gunting

Cara Membuat:

  1.  Jahitkan kancing di ujung pita atau kain
  2. Gunting kain flanel menjadi bentuk persegi — bulat juga bisa, seperti pada gambar
  3. Lubangi bagian tengah flanel tsb seukuran kancing
  4. Ajak anak memasukkan guntingan flanel tsb melalui kancing yang telah Bunda jahitkan

3525945107_2763e6e7ba_n

Sumber gambar: http://thetobyshow.typepad.com/the_toby_show/2009/05/cheap-easy-button-snake.html

Manfaat Kegiatan bagi si kecil:

  1. Practical life skill
  2. Melatih kesabaran
  3. Kemampuan menyelesaikan masalah

*Disarikan dari buku Rumah Main Anak karya Julia Sarah Rangkuti