NHW #5: Menyusun Desain Pembelajaran

NHW #5: Menyusun Desain Pembelajaran

Senangnya ikut kelas matrikulasi IIP, karena tiap pekan, mau tidak mau, suka tidak suka, harus mengerjakan NHW yang mana bagi saya adalah blogging. Seperti yang sudah sering saya ceritakan, salah satu motivasi bergabung dalam kelas matrik IIP ini adalah menantang diri sendiri untuk berubah, termasuk kemauan saya untuk rutin menulis. Paling tidak, dengan rutin mengerjakan NHW saya sudah rutin menulis, meski sepekan sekali.

Saya suka menulis, tapi kadang terkendala mood, sehingga kalau lama tidak menulis jadi kagok memulainya lagi. Memang selama ini, setiap hari saya menulis, namun hanya semacam diary keseharian anak saya yang mana tidak perlu banyak berfikir, hanya menuangkan kejadian-kejadian yang sudah terjadi dalam tulisan. Paling tidak, sebagai ibu bekerja, cara itu membuat saya tidak terlalu jauh ketinggalan milestones anak saya.

Nah, untuk blogging, bagi saya sulit untuk dimulai lagi, karena, hmm apa ya? Mau bikin excuse nih — ngga ada waktu, ngga ada ide, dan segudang alasan yang intinya menyulitkan saya kembali menulis. Makanya saya bersyukur sekali dengan adanya NHW ini bisa membangkitkan semangat saya untuk mulai menulis lagi.

Ah, sungguh intro yang terlalu panjang.

Jadi di NHW #5 ini kami ditugaskan menyusun sebuah desain pembelajaran terkait ilmu-ilmu yang ingin kita pelajari untuk mendukung misi hidup kita.

Jika di NHW #1 kita sudah menentukan jurusan ilmu yang ingin kita pelajari di universitas kehidupan ini, NHW #4 kita mantapkan lagi benarkah ilmu tersebut yang ingin kita pelajari berikut membuat milestones penguasaan ilmu tersebut dengan satuan waktu, maka di NHW #5 ini yang saya tangkap adalah semacam strategi penjabaran dari milestones tersebut.

Berdasarkan googling yang saya lakukan, definisi desain pembelajaran adalah rencana tindakan yang terintegrasi meliputi komponen tujuan, metode dan penilaian untuk memecahkan masalah (Briggs). Tujuan penyusunan desain pembelajaran adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi.

Menurut Morisson, Ross dan Kemp, ada empat komponen dasar dalam perencanaan desain pembelajaran, yakni:

  1. Untuk siapa program ini dibuat dan dikembangkan? (karakteristik siswa);
  2. Anda ingin (siswa) mempelajari apa? (tujuan);
  3. Isi pembelajaran seperti apa yang paling baik dipelajari? (strategi pembelajaran); serta
  4. Bagaimana cara mengukur hasil pembelajaran yang telah dicapai? (prosedur evaluasi).

Di sini saya akan menjawab keempat komponen desain pembelajaran tersebut agar dapat dirumuskan desain pembelajaran ala saya.

Tanya (T): untuk siapa desain ini dibuat dan dikembangkan?

Jawab (J): desain pembelajaran ini dibuat untuk saya sendiri, dengan karakteristik berdasarkan tipe kepribadian MBTI adalah ISTJ (introvert, sensing, thinking, judging) dan memiliki gaya belajar visual.

T: apa yang ingin dipelajari dan tujuannya?

J: yang ingin saya pelajari adalah ilmu-ilmu yang mendukung saya untuk menjalani peran sebagai ibu sekaligus penulis yang inspiratif bagi muslimah, meliputi: ilmu agama, ilmu membuat tulisan, ilmu kepengasuhan dan ilmu kerumahtanggaan.

T: bagaimana strategi belajar untuk mempelajari ilmu tersebut?

J: strategi belajar ini akan saya bagi sesuai jenis ilmu yang ingin saya kuasai, di antaranya:

Ilmu agama, dipelajari sepanjang hidup (Juni 2017-mati), strategi:

  • Bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah wajib dan sunnah
  • Mendatangi majelis ilmu sepekan sekali
  • Berusaha mengkaji Al Qur’an dengan membaca kitab tafsir sehari 20 ayat
  • Membaca kitab-kitab yang mendukung pelaksanaan ibadah dan mu’amalah sehari dua halaman
  • Belajar bahasa Arab (belum menentukan di mana dan kapan)
  • Menghafalkan Al Qur’an setiap hari 5 ayat dan mengulang ayat-ayat yang dihafal
  • Mengamalkan ajaran agama setiap hari dan membuat muhasabah harian terkait dosa-dosa yang dilakukan (baik pada Allah maupun sesama manusia)

Ilmu membuat tulisan terkait dunia muslimah, dipelajari dengan menggunakan hukum 10.000 jam hingga menjadi ahli (Juni 2017-Desember 2021) dengan strategi setiap 8 jam dalam sehari melakukan kombinasi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Menulis setiap hari minimal satu tulisan dalam dunia muslimah dan kepengasuhan dan diposting di blog
  • Membuat resume kajian agama dan seminar kepengasuhan yang dihadiri dan diposting di blog dua hari sekali
  • Membaca buku seputar dunia muslimah dan kepengasuhan sehari minimal satu bab
  • Mencari projects membuat tulisan bertema kepengasuhan dari portal penyedia pekerjaan seperti: projects.co.id, sribulancer.com, dsb minimal sepekan sekali
  • Mengirimkan naskah tulisan ke website yang membutuhkan tulisan dalam bidang muslimah dan kepengasuhan tiga hari sekali
  • Belajar dan bergabung di rumbel menulis IIP (jika lulus kelas matrikulasi)
  • Berguru pada penulis yang dikagumi karyanya (belum tahu caranya) tentang bagaimana menerbitkan buku (mungkin dengan self-publishing)
  • Berguru pada blogger yang dikagumi blognya tentang bagaimana meningkatkan jumlah pembaca blog, bagaimana mendesain blog agar menarik, bagaimana mendapatkan penghasilan dari blog

Ilmu kepengasuhan yang akan dipelajari dalam kurun waktu 2 tahun (Juni 2017-Juni 2019), dengan strategi:

  • Mendatangi seminar kepengasuhan sebulan sekali
  • Membaca buku tentang kepengasuhan setiap hari satu bab
  • Menciptakan kegiatan seru bersama anak sehari satu kegiatan
  • Berusaha sadar penuh dan hadir utuh saat bersama anak dua jam sehari di hari kerja dan lima jam saat akhir pekan
  • Membacakan buku minimal satu buku per hari
  • Menceritakan kisah teladan minimal satu kisah per hari
  • Meneladankan ibadah dan muroja’ah hafalan Qur’an di depan anak
  • Belajar bagaimana komunikasi efektif dengan suami agar beliau bisa terlibat secara aktif dalam pengasuhan anak secara Islam

Ilmu kerumahtanggaan yang akan dipelajari selama 2 tahun (Juli 2019-Juli 2021), dengan strategi:

  • Belajar konsep 5R
  • Belajar membersihkan rumah dan perabotannya
  • Belajar menata ruangan
  • Belajar manajemen keuangan

T: bagaimana prosedur evaluasi strategi tersebut?

J: saya menggunakan metode PDCA untuk mengetahui keberhasilan strategi yang sudah ditetapkan, yakni dengan membuat rencana harian, implementasi dalam kehidupan nyata, evaluasi pada esok harinya dengan sistem checklist dan membuat rencana untuk memperbaiki kekurangan.

Kiranya itu saja yang bisa saya tulis dalam NHW #5 ini. Tantangan besar adalah untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata. Semoga Allah mudahkan.

Sumber: https://isnaizakiya29.wordpress.com/2014/05/24/desain-pembelajaran-perencanaan-pembelajaran-dan-kurikulum/

NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Alhamdulillah, kuliah matrikulasi IIP sudah memasuki pekan ketiga. Materi makin seru dan NHW-nya pun makin menantang. Kali ini materi yang diberikan adalah tentang “Membangun Peradaban dari Dalam Rumah.” Saya sudah cukup sering membaca literatur yang menyatakan bahwa rumah adalah pusat peradaban pertama dan utama manusia. Sejatinya pendidikan manusia pertama dimulai dari rumah, bukan sekolah dan lingkungan-lingkungan lain yang akan ia masuki. Oleh karena itu, benar kiranya jika seorang anak sudah “beres” di rumahnya, akan mudah baginya untuk memasuki lingkungan-lingkungan selanjutnya yang mendukung perkembangannya di kemudian hari.

Dalam membangun peradaban di sebuah keluarga, kerjasama dan kesamaan pandangan antara suami istri sangat dibutuhkan. Mustahil rasanya jika hanya salah satu pihak saja yang berusaha sementara pihak lain hanya diam atau bahkan tidak mendukung apa yang sedang diusahakan pasangannya. Bagi rumah tangga yang di tengah-tengah perjalanannya ada gesekan-gesekan, friksi, konflik, atau ketaksepahaman antar pasangan tentu tidak mudah ya. Oleh karena itu perlu kiranya untuk kembali me-refresh hubungan dengan pasangan, supaya suami istri bisa saling jatuh cinta lagi, tentunya bukan dengan orang lain, tapi dengan pasangan yang telah dihalalkanNya bagi kita. 

Nah, di NHW ini pun kami diberi tugas yang  challenging dalam menghangatkan kembali hubungan pasutri. Apakah itu? Membuat surat cinta kepada suami. Bagi saya agak sulit ya, karena tidak terbiasa mengungkapkan cinta via tulisan. Lagipula saya takut jika respon suami tidak sesuai harapan. Ternyata suami yang membaca surat itu hanya mengirimkan kiss emoticon saja sih. Waktu saya tanya apa maksudnya, suami cuma diam saja dan hanya memeluk saya. Entahlah. Tapi semoga dengan itu hubungan kami semakin kompak dan cita-cita mewujudkan peradaban dari dalam rumah bisa terwujud. Kalau kelebihannya suami apa ya? Rata-rata yang dipunyai suami ini tidak dipunyai oleh saya, seperti pekerja keras, kemampuan manajerial dan organisir yang baik, inisiator. Jadi bisa dibilang beliau dihadirkan untuk melengkapi kekurangan saya.

Bicara tentang peradaban dalam sebuah keluarga, tentunya anak juga termasuk karena merekalah pelaku yang melanjutkan peradaban kita nanti. Anak juga investasi akhirat bagi kita sehingga mendidik mereka butuh kesungguhan yang luar biasa. Saya sangat bersyukur dianugerahi putri seperti Rumaysa. Kami berharap Ruma bisa meneladani Rumaysa binti Malhan, shahabiyah yang terkenal dengan ketabahannya. Dia adalah permata hati kami yang sungguh ceria, senang dengan kelembutan, suka membantu dan penyayang. Dia juga sangat senang bermain peran, dibacakan buku, mudah menyerap apa yang dilihat (visual) dan senang aktivitas fisik. Di usianya yang kini 3,5 tahun Ruma sudah mengenal rasa malu, tidak mau memakai baju tanpa lengan, celana pendek dan selalu ingin menggunakan baju muslimah berikut jilbabnya kalau keluar rumah. Mudah-mudahan istiqamah hingga dewasa nanti ya, Nak. 

Lalu saya sendiri sebagai seorang ibu, apa ya kelebihannya? Saya adalah orang dengan tipe senang melayani dan lebih mengutamakan kepentingan orang lain, terbuka terhadap kritik dan mau melakukan perubahan demi kondisi yang lebih baik. Semoga dengan modal itu bisa menjadikan saya sebagai ibu dan istri yang lebih baik lagi. 

Membangun peradaban juga terkait dengan lingkungan di sekitar kita. Ini agak sulit sih, karena saya merasa kami — saya dan suami — masih kurang aktif berbaur di lingkungan tempat tinggal. Semoga dengan bergabungnya saya di IIP ini membuat saya — dan juga suami — tergerak untuk memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan. Namun sebelumnya kami terlebih dahulu harus memperbaiki apa yang ada di dalam keluarga kami, sehingga jika keluarga kami sudah baik, sudah kompak, satu visi misi dalam pendidikan anak, suami mempercayakan pada saya sepenuhnya untuk menjadi guru pertama dan utama bagi putri kami, baru kami akan keluar untuk membagikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Sekarang kami baru sebatas membantu jika ada tetangga yang minta bantuan (kebetulan ada tetangga janda kurang mampu di tempat kami yang masih butuh bantuan) dan takziyah jika ada tetangga yang meninggal dunia, serta berpartisipasi dalam kegiatan masjid di tempat kami (ini juga cukup PR karena suami kadang malah tidak begitu suka shalat berjama’ah di masjid dekat rumah kami dengan alasan lebih mantap di masjid yang lebih besar).

Kiranya itu saja yang bisa saya tuliskan di homework ketiga ini. Semoga cita-cita membangun peradaban dari  dalam rumah bisa segera terwujud dalam keluarga kami. Aamiin.

NHW #2: Indikator Profesionalisme Perempuan

NHW #2: Indikator Profesionalisme Perempuan

Pekan kedua kelas matrikulasi IIP ini diisi dengan materi bergizi yakni “Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga.” Nah, apa sih definisi ibu profesional? Kalau dari materi yang didapat kemarin ibu profesional adalah seorang perempuan yang:

  1. bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya; serta
  2. senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Untuk itu, sebagai seorang perempuan harus terus berusaha dengan meningkatkan profesionalismenya sebagai seorang individu, istri dan ibu. Nah, dalam NHW #2 ini kami diberi tugas untuk membuat checklist indikator profesionalisme perempuan sebagai individu, istri dan ibu.

Ya sudah, daripada berpanjang lebar ria, langsung saya yuk bikin indikatornya.

Individu Profesional

  • sebagai hamba Allah: shalat 5 waktu di awal waktu (maksimal 1 kali tidak awal waktu dalam satu hari), shalat sunnah tahajud dan dhuha setiap hari , shalat rawatib minimal 6 raka’at setiap hari, dzikir pagi dan petang setiap hari, membaca tafsir Quran setiap hari, menghafal Quran one shalat one ayat dan mengulang hafalan setiap hari, puasa sunnah Senin dan Kamis kecuali saat hari libur
  • manajemen waktu dan disiplin diri: tepat waktu (toleransi maksimal 10 menit dari kesepakatan dan jadwal), gadget time maksimal 2 jam setiap hari, membuat rencana kegiatan dan dievaluasi setiap hari
  • menuntut ilmu agama dan kepengasuhan: menghadiri majelis ilmu sepekan sekali dan kajian terkait kepengasuhan sebulan sekali
  • cita-cita sebagai penulis: membuat tulisan di blog setiap hari

Istri Profesional

  • selalu taat dan patuh pada suami
  • selalu berbicara lemah lembut dan menunjukkan wajah cerah
  • mengurangi marah-marah pada suami, kalau ingin marah lebih baik dalam bentuk tulisan
  • selalu berusaha tepat waktu dan tidak lelet ketika akan pergi bersama suami (maksimal toleransi 5 menit dari kesepakatan)
  • berpenampilan menarik di depan suami (sepekan dua kali mengenakan pakaian rumah yang bagus)
  • melakukan pekerjaan rumah tangga: berbelanja sayuran setiap hari, memasak setiap hari, mencuci piring sehari dua kali, menyetrika pakaian dua hari sekali, membersihkan kamar mandi sepekan sekali
  • belajar membuat kue minimal sepekan sekali
  • mempelajari dunia yang suami suka (bisnis, politik, olahraga) dengan browsing berita aktual lima menit per hari

 

Ibu Profesional

  • berkegiatan bersama anak minimal sehari satu kegiatan yang bermakna
  • membacakan buku setiap hari
  • ngobrol setiap hari
  • mengajak shalat dan muroja’ah hafalan anak setiap hari
  • gadget free saat bersama anak
  • berbicara lemah lembut pada anak
  • mengurangi ngomel dan mengeluhkan tingkah laku anak
  • sama sekali tidak bertengkar dengan pasangan di depan anak (kalau mau marah sebaiknya ditulis)

Memang indikatornya simpel sekali ya. Yah, yang simpel begini saja bagi saya juga masih berat. Semoga Allah beri kemudahan untuk bisa mencapainya. Aamiin.

NHW #1: Bicara Lemah Lembut

NHW #1: Bicara Lemah Lembut

Alhamdulillah sejak 11 Mei 2017 lalu saya resmi bergabung dengan grup Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) yang kini sudah mencapai empat batch. Sudah lama saya penasaran dengan komunitas ini. Rasanya ingin menantang diri: sanggup ngga sih jadi ibu dan istri yang lebih baik lagi, lebih profesional dan bisa diandalkan? Penasaran sekaligus deg-degan mengingat untuk sukses di program matrikulasi ini ngga cuma modal rajin mantengin HP dan aktif berdiskusi, alias ngga sekedar jadi silent reader – ketauan deh selama ini jadi SR doang – melainkan juga harus rajin mengerjakan PR yang disebut Nice Homework (NHW) yang jumlahnya mencapai sembilan kali.

Nah, dalam NHW #1 terkait dengan adab menuntut ilmu ini kami ditugasi untuk menentukan satu jurusan ilmu dalam universitas kehidupan yang ingin kami tekuni. Hmm cukup sulit sih. Apakah ilmu itu terkait minat dan kesukaan kita, atau ilmu lain yang kiranya dapat kita pelajari untuk membuat hidup lebih produktif. Bingung. Akhirnya saya menentukan satu bidang ilmu yang benar-benar belum saya kuasai namun ingin sekali saya kuasai. Ilmu apakah itu? Tak lain tak bukan adalah ilmu berbicara dengan lemah lembut.

Jujur saya tidak terbiasa untuk berlemah lembut. Meskipun saya orang Jogja yang terkenal dengan kelemahlembutan tutur katanya. Tapi saya kok ngga ya? Selain itu saya juga mudah marah. Tentunya kalau sudah dikuasai amarah begitu jadi suliiit sekali untuk berlemah lembut. Korbannya siapa lagi lah kalau bukan suami dan Ruma, anak saya? Duh kasihan ya. Padahal suami saya menyukai perempuan yang lemah lembut. Nah kan. Apalagi kini Ruma juga sudah mulai meniru-niru perangai orang tuanya, terutama ibunya. Apa jadinya kalau saya masih mempertahankan tutur kata yang jauh dari lemah lembut ini?

Jauh hari sebelum menikah, saya pernah mendengar seorang ustadzah di sebuah kajian mengutip salah satu hadits Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berikut.

“Sesungguhnya lemah lembut tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan memperkeruhnya” (hadits riwayat Abu Dawud)

juga

“Jika Allah mencintai suatu keluarga maka Dia memasukkan sikap lemah lembut kepada mereka(hadits riwayat Ibnu Abid Dunya)

Dan katanya lagi, kelemahlembutan itu bukan bawaan dari lahir, melainkan bisa diusahakan kalau kita terus-menerus berlatih mengasahnya. Dulu sih saya lempeng aja, ah udahlah emang saya orangnya begini, ngga lemah lembut, ngapain juga berusaha susah-susah melakukan sesuatu yang bukan saya banget, maksa lemah lembut padahal bukan jiwanya? Namun kini saya mulai mikir, sampai kapan saya terus begini? Harusnya makin hari makin baik dong. Masa ngga pengen jadi orang yang dicintai Allah? Masa ngga pengen mengamalkan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam? Apalagi dengan berlemah lembut tentunya saya juga bakal dapat banyak keuntungan. Selain meneladani akhlak Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam, bikin suami tambah sayang, anak jadi makin menyenangkan, orang tua dan mertua lebih termuliakan, tentunya saya juga berharap mendapatkan ridha Allah.

Merubah kebiasaan yang sudah mendarah daging tentu bukan hal yang mudah. Maka dari itu, usaha-usaha yang akan saya lakukan supaya bisa berbicara dengan lemah lembut antara lain:

  • banyak berdo’a kepada Allah supaya Allah berkenan memperbaiki akhlak saya dan menganugerahkan sifat lemah lembut kepada saya;
  • bergaul dan bersahabat dengan orang-orang shalih yang berperangai lemah lembut;
  • rajin mendatangi majelis ilmu supaya banyak bertemu dengan orang-orang shalih;
  • membersihkan hati dari berbagai penyakit yang mengikis kelemahlembutan, seperti iri dengki dan berprasangka buruk pada orang lain;
  • rajin membaca Al Quran karena Al Quran akan melembutkan hati;
  • berusaha selalu menatap mata lawan bicara supaya lebih mendengarkan apa yang mereka katakan.

Terkait dengan adab menuntut ilmu, tentunya saya harus melakukan perubahan sikap supaya ilmu berbicara dengan lemah lembut semakin menancap kuat di hati dan tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Untuk itu, sikap-sikap yang harus saya ubah antara lain:

  • merasa diri paling benar;
  • kurang empati terhadap fikiran dan perasaan orang lain;
  • mengedepankan prasangka;
  • berbicara dengan sikap agresif;
  • sumbu pendek alias gampang naik darah.

Sikap-sikap buruk tersebut harus dikurangi dan perlahan-lahan dihilangkan dengan cara tazkiyatun nafs, ikhlas mengharap ridha Allah, berusaha melihat segala sesuatu tidak dari sudut pandang pribadi melainkan juga memperhatikan fikiran dan perasaan orang lain, berusaha positive thinking, mencoba menyampaikan pendapat secara asertif dan berusaha mengelola amarah dengan metode RETHINK, yakni recognize, empathy, think, hear, involve, notice dan keep. 

Semoga Allah memudahkan dan meridhai usaha ini – tidak hanya cukup ditulis namun juga diamalkan – sehingga jika saya istiqamah dan bersungguh-sungguh menjalankannya, saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam akhlak terhadap orang lain, terutama terhadap orang-orang yang saya sayangi. Aamiin.