Agar Tak Bertengkar di Depan Anak

Agar Tak Bertengkar di Depan Anak

Namanya perjalanan rumah tangga, pasti ada lika-likunya. Ngga selalu mulusss terus, indah-indah terus, suami istri mesra dan harmonis terus. Itu mah adanya di dongeng ya. Namanya menyatukan dua kepala, pasti ada lah sedikit ketaksepahaman, beda pendapat, beda selera dan sederet perbedaan lain yang tentunya menimbulkan konflik dan juga pertengkaran. Yang sudah sehati, sevisi-misi saja kadang ada sedikit gesekan pemicu konflik. Apatah lagi yang kadang beda visi-misi. Nah loh.

Pada saat terjadi gesekan-gesekan kecil seperti itu, tak jarang ada pertengkaran di antara suami dan istri. Bahkan kadang sudah ada anak pun, pertengkaran itu masih terjadi. Bentuknya macam-macam. Ada yang saling berteriak, membentak, disertai kekerasan fisik, bahkan yang saling diam-diaman pun ada. Untuk yang terakhir ini, kadang anak tidak tahu kalau ayah ibunya sedang saling marahan. Tapi lama-lama ya tahu juga, apalagi kalau si anak tiba-tiba mengajak main ayah ibunya berbarengan, hehe. 

Kondisi saat suami istri sedang berantem memang tidak enak. Dan yang paling merasakan dampak ketidaknyamanan itu adalah anak. Ya gimana sih, rumah yang harusnya jadi tempat ternyaman si anak malah seperti neraka. Tidak ada kedamaian di dalamnya. Padahal rumah juga merupakan lingkungan pertama untuk pembentukan kepribadian si anak. Apa jadinya kalau di tempat tersebut malah dipenuhi suasana minim harmoni? Apalagi anak adalah peniru ulung. Menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar tentu akan membuat anak meng-copas-nya di kehidupan mendatang. Lebih jauh, anak juga akan tumbuh dengan perasaan insecure alias tidak nyaman yang membuat anak sulit mempercayai orang lain. Tentu tidak ingin seperti itu kan?

Namun bukankah konflik dalam rumah tangga adalah suatu hal yang niscaya? Lalu bagaimana mengatasinya agar pertengkaran tak sempat terjadi di hadapan anak?

Berikut ini ada beberapa tips:

  1. Kenali emosi saat terjadi situasi di luar dugaan, dan lakukan pengelolaan terhadap emosi tersebut;
  2. Selalu agendakan untuk ngobrol berdua saja dengan pasangan, saat anak asyik bermain atau sedang tidur misalnya;
  3. Jangan memendam masalah atau ketidaknyamanan perasaan terhadap pasangan, segera bicarakan baik-baik dengan kepala dingin;
  4. Jika terbersit rasa ingin marah kepada pasangan, diamkan dulu, endapkan, jangan dilampiaskan saat itu juga, segera cari penyaluran selain dengan marah-marah (kalau saya pribadi sukanya menulis, jadi begitu terbersit rasa sebal dengan suami misalnya, langsung saya ambil kertas pulpen atau HP dan menuliskan kekesalan saya di situ, ini manjur untuk terapi anger management bagi saya)
  5. Mengalah, memang paling sulit, tapi terbukti manjur juga, jadi kalau pasangan sudah keburu marah sama kita, usahakan diam saja, bukan balas marah, bahkan kalau perlu, mohon maafnya, niscaya malah pasangan yang akan merasa bersalah dan meminta maaf 
  6. Santai, kalau kata orang sekarang, lemesin aja shayy, ngga usah dibawa pikir berat-berat, switch mikirin hal lain yang lebih bikin rileks, dengan main sama anak misalnya, nanti kepala adem sendiri
  7. Berdo’a mohon kekuatan agar bisa mengalah dan mengelola amarah

Itu saja tips dari saya supaya suami istri tidak sering-sering berantem, apalagi di depan anak. Semoga bermanfaat ya.

Ditulis sebagai selfreminder pada 24 Juni 2017, akhir Ramadhan

Seburuk-buruk Pasangan

Seburuk-buruk Pasangan

Seburuk-buruknya pasanganmu, tetap tak pantas kau ceritakan perihalnya kepada kawan-kawanmu.

Iya, ini self reminder juga buat saya. Jangan, jangan, jangan. Kalau ada ketidaksukaan, ketidaksregan, lebih baik langsung kau sampaikan padanya. Tapi jangan sampai orang lain tahu rahasia rumah tanggamu. Jangan, jangan, jangan. Lebih baik kau tuliskan semua kekesalanmu di buku harianmu. Tapi jangan sampai kau ungkapkan di media sosialmu.

Ingat, seburuk apapun pasanganmu. Dia tetap pakaian bagimu. Aibnya tetap harus kau jaga. Bahkan keluarga terdekatmu saja tak boleh tahu. Apatah lagi kawan-kawanmu. Bukankah mereka semua tak bisa beri solusi atas berbagai permasalahanmu?

Sudah, sudah, sudah. Cukup Allah saja satu-satunya yang tahu.

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Ingin Masuk Surga Sekeluarga?

Beberapa pekan lalu saya mendengarkan kajian Ustadz Firanda hafizhahullaah dengan tema “Masuk Surga Sekeluarga.” Tentu setiap kita mencita-citakan masuk surga sekeluarga. Sudahlah masuk surga yang kenikmatannya belum pernah terindera oleh siapapun, ditambah lagi Allah kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai di dunia. Ayah ibu kita, anak-anak, saudara, pasangan hidup, berkumpul bersama di sebaik-baik tempat peristirahatan. Sungguh kenikmatan yang berlapis-lapis.

Adakah itu keinginan semata? Atau sudah ada rencana serius yang dibuktikan dengan amalan nyata supaya keinginan itu terwujud nyata?

Satu hal yang digarisbawahi agar masing-masing kita dalam mewujudkan keinginan sehidup sesurga adalah seperti yang Allah firmankan dalam Surah Al Baqarah ayat 237,

Dan janganlah kalian melupakan keutamaan di antara kalian (QS Al Baqarah: 237)

Ya, inilah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga yang insya Allah bisa membawa kita berkumpul kembali di surga bersama orang-orang yang kita cintai semasa hidup.

Seperti yang disampaikan beliau hafizhahullah, keutamaan yang dimaksud di sini bukan kebaikan-kebaikan atau sifat baik yang dimiliki suami atau istri kita — meskipun kita juga diperintahkan untuk selalu berusaha mencari-cari kebaikan pasangan untuk melanggengkan cinta.

Keutamaan di sini lebih merujuk kepada perlakuan yang lebih baik kepada pasangan hidup kita, akhlak utama yang kita tunjukkan semata-mata untuk mencari ridha Allah yang dengan sebab itu rumah tangga akan berkah dan bisa membawa penghuninya menuju surga bersama-sama.

Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullaah dalam tafsirnya menafsirkan ada dua macam akhlak yang dianjurkan dalam bergaul dengan manusia, yakni akhlak yang baik — di antaranya adalah perbuatan jujur dan adil serta yang lebih baik dari itu, yakni akhlak yang utama, yakni memberi lebih dari apa yang dianjurkan serta toleransi dalam meminta hak. Dua hal ini sebagai modal utama bergaul dengan manusia. Nah, dengan sesama manusia saja kita dianjurkan untuk menunjukkan akhlak yang utama, maka apatah lagi dengan pasangan hidup kita, keluarga kita?

Seperti kita ketahui, ada kalanya rumah tangga diguncang prahara, salah satu pihak berlaku zhalim terhadap pasangannya, ada yang merasa terzhalimi, pertengkaran yang terus-menerus misalnya, tentu akan membuat suasana rumah tak keruan, tak ubahnya seperti neraka. Dalam keadaan seperti ini sikap kita sebagai pihak yang terzhalimi misalnya, adalah dengan tetap berakhlak baik pada pasangan yang menzhalimi kita, lakukan apa-apa yang menjadi kewajiban kita, serta toleransi dalam meminta hak. 

Ini relevan dengan yang ditulis oleh Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi dalam buku beliau yang berjudul “Suami Istri dalam Rumah Mungil Penuh Bahagia, hendaknya masing-masing suami istri mencari kewajiban-kewajiban kepada pasangannya, menunaikannya sesuai kemampuan dan bersabar menantikan pihak lain menunaikan hak kita.

Karena sungguh, hidup berrumah tangga bukan sekedar hak dan kewajiban. Sepatutnya kita tunjukkan kemuliaan dengan memberi lebih dari yang seharusnya.

Dengan saling menunjukkan akhlak yang utama, masing-masing suami istri akan menemukan kebahagiaan dalam rumah tangga yang memicu kebahagiaan di dunia, dan apabila dibingkai dalam ketaatan kepada Allah serta melalukan amal shalih, niscaya kebahagiaan tersebut akan berlanjut di akhirat, di surgaNya. Sungguh pada yang demikian itu, hendaknya kita berlomba-lomba.

Semoga dimudahkan.

Ditulis dan diselesaikan pada 12 Juni 2017, sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Sungguh Aku Ingin

Sungguh Aku Ingin

Kalau aku yang jadi pemimpin negeri ini, atau aku bisa mengisiki para pemimpin negeri ini, akan kuusulkan satu kebijakan. Apakah kebijakan itu?

LAPANGAN PEKERJAAN HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI KAUM LELAKI, kecuali pekerjaan-pekerjaan yang memang memerlukan jasa perempuan, seperti dokter, perawat, bidan, guru. Untuk bidang pekerjaan umum seperti: pemerintahan, industri, manufaktur, keuangan, dsb yang bersifat umum jauh lebih baik hanya mempekerjaan kaum lelaki.

Hal ini supaya, kaum perempuan lebih banyak berdiam di rumah untuk mengurus suami dan rumah tangganya, mendidik anak-anaknya, yang mana pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang wajib dikerjakan perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak. Lebih daripada sekedar mencari nafkah — meskipun untuk keluarga.

Hal ini supaya, tidak ada lagi anak yang merasa kekurangan kasih sayang ibunya. Tidak ada lagi ibu yang kehilangan waktu-waktu berkualitas bersama buah hatinya. Tidak ada lagi rumah tangga yang goncang karena kesibukan istri di luar rumah. Tidak ada lagi para suami yang mengalami krisis kepercayaan diri karena posisi istri yang lebih tinggi darinya dari segi penghasilan maupun pekerjaan.

Supaya laki-laki dan perempuan dapat melakukan peran-perannya sesuai fitrah masing-masing.

Sungguh aku ingin sekali.

Agar Rumah Tangga Sampai Ke Surga

Agar Rumah Tangga Sampai Ke Surga

Islam mengatur segala urusan, mulai dari yang besar sampai yang kecil, termasuk urusan rumah tangga yang tentunya bukan sebuah urusan yang remeh. Dalam Islam, perceraian diperbolehkan, meskipun hal itu dibenci Allah. Namun jika sebuah masalah rumah tangga sudah tidak bisa diurai dengan baik dan malah menimbulkan mudharat yang lebih besar, perceraian dapat menjadi solusi. Solusi terakhir tentu saja.

Oleh karena itu, tentunya rumah tangga yang diharapkan oleh setiap suami dan istri adalah rumah tangga yang sakinah, mawaddah, rahmah, sekaligus barakah. Rumah tangga yang tidak hanya langgeng di dunia namun juga di surga. Tapi, bagaimana mungkin sebuah rumah tangga dapat langgeng di surga jika di dunia saja, bahtera itu terancam karam?

Ada pilar-pilar yang harus ditegakkan demi keutuhan sebuah mahligai bernama rumah tangga. Pilar-pilar Menjaga Keutuhan dan Kebahagiaan Rumah Tangga yang disajikan disini adalah intisari dari kajian umum yang diselenggakan di Masjid Al Hidayah, Yogyakarta pada Ahad (31/1) lalu, yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, M.A., doktor hadits alumnus Islamic University of Madinah.

Pilar pertama: Keimanan

Rumah tangga yang didasari keimanan akan lebih kokoh daripada yang didasari hal lain, misalnya cinta atau pemenuhan kebutuhan biologis semata. Pasangan suami istri yang beriman kepada Allah akan menganggap pernikahannya sebagai salah satu cara beribadah kepada Allah. Mereka akan saling membahagiakan pasangannya untuk meraih ridha Allah. Iman kepada hari akhir akan membuat suami istri hidup lebih qana’ah. Bagi mereka, hidup susah di dunia jauh lebih baik daripada hidup susah di akhirat. Pun demikian iman kepada qada dan qadar. Dengan mengimaninya, membuat pasangan suami istri semakin tabah menghadapi apapun yang menghampiri rumah tangganya, baik nikmat maupun cobaan. Ada beberapa cara yang dianjurkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mempertebal keimanan dalam rumah tangga, antara lain:

  • memperbanyak shalat sunnah di rumah, khususnya qiyamul lail
  • menghidupkan rumah dengan bacaan Al Qur’an, khususnya Surat Al Baqarah sebagai penangkal syaithan. Percekcokan rumah tangga yang kerap terjadi adalah akibat bisikan syaithan yang merasuki suami atau istri. Dengan membaca Surat Al Baqarah insya Allah percekcokan rumah tangga dapat dihindari.
  • menghidupkan rumah dengan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, seperti membaca do’a masuk rumah, do’a keluar rumah, do’a masuk kamar mandi, dsb.

Pilar kedua: Ilmu agama

Suami istri, setelah menikah hendaknya tetap menimba ilmu agama. Hal ini dapat dilakukan dengan cara seperti menghadiri majelis ilmu, belajar dari buku/kitab yang shahih, menghadirkan orang shalih untuk mengajarkan ilmu di rumah, suami membimbing istri, dll. Menuntut ilmu agama hukumnya wajib. Jika keduanya merasa belum baik agamanya, wajib menuntut ilmu pada seorang guru. Anak-anak juga wajib diajarkan ilmu agama agar menjadi anak-anak yang shalih shalihah mampu menjadi investasi akhirat kedua orang tuanya.

Pilar ketiga: Aspek sosial

Aspek sosial di sini lebih menekankan adanya diskusi dan perbincangan antar suami istri. Bagaimana mendidik anak, bagaimana mengatur finansial, dsb. Diskusi dan musyawarah dimaksudkan agar tercapai suasana yang hangat dan akrab antar suami istri, karena niat yang baik belum tentu terwujud dalam perbuatan yang baik. Hendaknya selalu menjunjung adab dalam pergaulan antara suami dan istri. Jika mendapati kesalahan dilakukan oleh salah satu pihak, hendaknya pihak yang lain mengingatkan dengan cara yang baik dan lemah lembut.

Demikian tiga pilar yang disampaikan oleh Ustadz pada kajian umum Ahad lalu. Insya Allah jika masing-masing suami istri menerapkan dalam rumah tangganya, mahligai itu akan kokoh dan utuh tidak hanya di dunia, bahkan sampai ke surga. Insya Allah. Aamiin.